Prabowo Hanya Jadi Capres, Bukan King Maker atau Cawapres

JAKARTA (HR) – Politisi Partai Gerindra Nizar Zahro menegaskan bahwa hasil Rakornas Partai Gerindra 11 April 2018 lalu mengajukan Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres), bukan sebagai calon wakil presiden (cawapres) atau king maker.

“Semua kader memutuskan Bapak Prabowo sebagai sebagai capres, mohan maaf bukan sebagai cawapres dan bukan juga king maker. Ini perlu dipahami,” tegas Nizar Zahro dalam diskusi ‘Menakar Cawapres 2019, Parpol Koalisi Pecah Kongsi atau Tetap Solid’, di Media Center DPR, Kamis (12/7).

Siapa cawapres yang akan mendampingi Prabowo, Nizar mengatakan bahwa semua itu diserakan kepada Prabowo untuk mencari partai koalisi dan memipin koalisi. “Sejak beberapa hari ini berkembang bahwa Bapak Prabowo menyampaikan bahwa beliau akan memilih cawapres bersama dengan PAN dan PKS, bahkan bisa dengan Demokrat,” jelasnya.

Loading...

Nizar mengakui bahwa untuk menentukan siapa yang akan menjadi cawapres dari lima partai yang akan berkoalisi akan sulit karena yang dibutuhkan hanya dua orang saja, yaitu capres dan cawapres. Dengan posisis tersebut, sudah pasti ada ketua umum partai politik yang harus legowo.

“Tidak mungkin kedua-duanya sebagai capres dan cawapres. Ini membutuhkan sebuah kerelaan hati dari masing-masing partai politik, sehingga harus dibangun konsensus dari awal agar koalisi ini adalah kuat. Jangan ada yang tersakiti dan disakiti,” ujar Nizar.

Sementara itu, politisi PAN Yandri Susanto mengatakan bahwa PAN siap berkoalisi dengan Gerindra dalam mengusung pasangan capres dan cawapres. Karena partai berlambang matahari bersinar itu tidak ingin di Pilpres 2019 hanya ada satu pasangan calon.

Bahkan dia mengatakan, jika Prabowo menggandeng Zulkifli Hasan makan PAN siap untuk mendeklarasikan. “Kalau besok bapak Prabowo ngajak bang Zul menjadi cawapresnya saya kira PAN siap deklarasi,” ujar Yandri.

Sedangkan Demokrat belum menentukan sikap yang tegas untuk menentukan pilihan untuk berkoalisasi mengajukan capres dan capwapres. “Posisi Demokrat bisa saja ke Jokowi, bisa ke Prabowo dan bisa saja bukan dengan Jokowi dan Prabowo, tapi alternatif ketiga,” jelas Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan.

Namun Hinca menegaskan, Demokrat tidak ingin di Pilpres 2019 hanya ada pasangan capres dan cawapres tunggal. “Demokrat tidak ingin calon tunggal ,sebab pertandingan hanya ada bila ada lawannya. Kalau main bola ya, yang satu bisa nendang bola juga, tetapi kalau kotak kosong kita tidak bisa nendang bola,” ujarnya.

Hinca mengatakan, menangnya kota kosong dalam Pilkada di Kota Makassar hendaknya menjadi pelajaran dalam Pilpres 2019. “Kita petik pelajaran dari kota Makasar. Bisa menjadi pesan moral buat anak bangsa untuk hati-hati dengan kotak kosong. Munkin orang tak percaya dengan kotak kosong menang di Makasar tetapi faktanya menang dan realitas ketata negaraan kita,” katanya. (sam)