Dolar Nyaris Rp15.000

Jakarta (HR)- Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah nyaris mencapai level Rp15.000. Pada hari Selasa (4/9) bergerak di level Rp 14.820 hingga Rp 14.940. Demikian dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa (4/9).

Dolar AS parkir di level Rp 14.930 pada penutupan perdagangan kemarin. Rupiah tercatat tertekan 0,8% terhadap dolar AS sepanjang hari ini.

Rupiah sendiri tak sendirian kalah dari dolar AS. Mata uang negara lainnya rata-rata juga keok dari dolar AS sepanjang hari ini. Di antaranya euro yang tertekan 0,53%, yen Jepang tertekan 0,32%, dolar Australia 0,57%, dolar Kanada 0,47% hingga peso Meksiko 0,90%.
Tertekannya rupiah berbanding lurus dengan perdagangan di bursa saham IHSG. Meski bergerak cenderung positif, namun IHSG melaju di rentang yang sangat tipis dan langsung melorot ke zona merah sore ini.

Loading...

IHSG turun 62,278 poin (1,04%) ke 5.905,301. Sementara indeks LQ45 turun 9,840 poin (1,05%) ke 931,654.
Perfect Storm

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penetapan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum dalam kondisi tekanan krisis ekonomi di beberapa negara saat ini. Usai penetapan, ternyata terjadi gejolak ekonomi global seperti perang dagang AS dan China hingga krisis ekonomi Turki dan Argentina.

Sri Mulyani menyebut gejolak ekonomi global tersebut sebagai perfect storm.
“Kurs saya sampaikan waktu kita bahas dengan dewan sampai bulan sebelum Juli kita ketok range waktu itu Rp 13.800-Rp 14.000, semua anggota dewan setuju kami terima, BI angguk (setuju),” ujar Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/9).

“Buat kita ini merupakan kejutan. Maka sentimen itu ditambah global environment Argentina masuk IMF, Turki juga seperti itu, termasuk perfect storm,” terang Sri Mulyani.
Sri Mulyani menambahkan pada saat penetapan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak ada yang memprediksi gejolak ekonomi global semakin besar. Awalnya antisipasi hanya perang dagang dan kenaikan suku bunga The Fed.

“Kita semua di sini bicara dengan data yang sama dan kita lihat kemarin pertama trigger Juli growth impor kita melonjak tinggi dan makannya muncul trade account kita negative, current account kita negative,” tutur Sri Mulyani.

Langkah pemerintah untuk menyelamatkan rupiah dan menahan impor semakin konkret. Kali ini adalah dengan memundurkan target dan jadwal operasional pembangkit listrik sebanyak 15.200 Megawatt.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan memaparkan 15.200 MW proyek listrik yang ditunda ini merupakan bagian dari 35 ribu MW yang digagas oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan dijalankan oleh PT PLN (Persero). “ini yang dari 35 ribu MW yang direncanakn dan belum mencapai finansial closing. Dan sudah digeser ke tahun-tahun berikutnya adalah sebesar 15.200 MW,” ujarnya di Kementerian ESDM, Selasa (4/9).
Proyek 15.200 MW ini pada mulanya diharapkan bisa selesai di 2019, namun kini ditunda sampai ke 2021 bahkan 2026 sesuai dengan permintaan kelistrikan. Mundurnya target operasional ini sekaligus untuk menyesuaikan pertumbuhan konsumsi listrik yang di kuartal II kemarin hanya sebesar 4,7%.

“Tahun ini estimasi kami pertumbuhan listrik maksimum sekitar 6%, dari target 8%. Makanya digeser,” jelas Jonan. Dengan pengurangan hampir separuh dari mega proyek 35 ribu MW ini, diperkirakan bisa menekan pengadaan barang impor hingga US$ 8 miliar hingga US$ 10 miliar.

Dalam rapat terbatas di Istana pertengahan Agustus lalu, Presiden Joko Widodo memang memerintahkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar untuk meningkatkan komponen dalam negeri. Hal ini dimaksudkan untuk menyelamatkan rupiah yang berada dalam tekanan besar.

Kaji Potensi Gangguan Kamtibmas
Polri mengkaji berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di seluruh Indonesia akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Apalagi saat ini dolar telah mendekati angka Rp 15.000.

“Ya semua potensi pasti ada. Dan potensi itu akan kita kaji secara mendalam dulu,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (4/9).

Namun Dedi belum bisa mengungkapkan potensi kerawanan yang akan menjadi fokus Polri akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
Sebab, Polri masih memetakan potensi apa yang paling mungkin terjadi dalam waktu dekat ini.

“Potensi yang paling mungkin bisa terjadi itu apa, kita harus dalami dulu secara komperhensif. Apa bagian-bagian yang sangat rentan, bagian-bagian yang sangat membahayakan, kita pasti akan mengawasi secara progresif,” kata dia.
Jenderal bintang satu itu menuturkan, Mabes Polri telah memberikan arahan ke seluruh Polda di Indonesia untuk melakukan langkah antisipatif terhadap berbagai kemungkinan yang ditimbulkan akibat kondisi ekonomi saat ini.

“Khususnya mungkin kalau misalnya impact dari fluktuasi nilai tukar ada kenaikan harga-harga tertentu, itu kita antisipasi dengan seksama,” ucap Dedi.(dtc, lp6)