Pil Didapat dari Tempat Dugem di Pekanbaru

Pekanbaru (HR)- Empat anak SD Bukit Batu, Bengkalis, Riau sempat berbagi pil ekstasi dan menelannya yang disangka permen. Belakangan diketahui, pil setan itu dibeli orang tua korban dari tempat dugam di Pekanbaru.

“HR (46) orang tua dari anak korban yang menghisap ekstasi mengakui kalau dia membelinya dari tempat hiburan malam di Pekanbaru,” kata Kasat Res Narkoba Polres Bengkalis, AKP Syafrizal kepada wartawan, Rabu (12/9).

Syafrizal menjelaskan, kini HR telah ditahan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Dalam keterangannya kepada penyidik, HR mengakui jika dirinya bersama teman-temannya lagi hiburan ditempat dugem di kawasan Jl Sudirman, Pekanbaru.

Loading...

“Di tempat hiburan malam itu, tersangka membeli pil ekstasi. Pil itu dia bawa pulang ke rumah dan diletakkan di dalam mobilnya,” kata Syafrizal.
Pada Senin (10/9) anaknya yang baru usia dua tahun masuk dalam mobil. Bocah itu menemukan pil ekstasi warna hijau. Si anak memberikan pil setan itu ke kakaknya yang berusia 8 tahun.

“Disangka permen, si kakak membagikan ke tiga teman lainnya. Mereka menghisap pil itu, satu di antara bocah itu membuangnya karena merasa pahit,” kata Syafrizal.
Untuk tiga anak lainnya, terlanjur menghisap. Akibatnya ketiga bocah usia 7 sampai 9 tahun itu pun teler alias mengalami pusing.

“Ketiganya pun dilarikan ke Puskesmas setempat. Mereka mendapat perawatan medis, kini kondisinya sudah membaik,” kata Syafrizal.

“Kita lagi dalami untuk mengembangkan dari siapa tersangka mendapatkan pil ekstasi tersebut,” tutup Syafrizal.

Hak Asuh Dicabut
Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menganggap perbuatan pelaku HR dapat menghilangkan status hak asuh anak yang dimiliki.

“Dari pemberitaan di media, pihak kepolisian baru sebatas fokus pada pelaku. Itu tidak salah, tapi tidak lengkap. Yang tak kalah pentingnya adalah memastikan anak-anak tersebut (korban) memperoleh perlindungan khusus,” kata psikolog forensik LPAI, Reza Indragiri Amriel, kepada detikcom, Rabu (12/9).

Menurut Reza, perilaku HR sebagai bapak yang ditetapkan tersangka dalam kasus kepemilikan narkoba bisa menjadi alasan dicabutnya hak asuh anak.
“Kuasa asuh (yang dimiliki) ayah juga bisa dicabut jika dipandang perlu, baik untuk sementara maupun hingga anak-anak tersebut masuk usia dewasa,” kata Reza.
Menurut Reza, aparat penegak hukum harus lebih menghayati viktimologi, bukan kriminologi. Pengedepanan anak sebagai korban dalam kasus ini, menurutnya, harus diutamakan.

“Bahkan patut diduga bahwa sebelumnya pun anak-anak sudah menjadi korban, yakni, jika akibat mencandu, ayah ternyata menelantarkan ataupun melakukan kekerasan terhadap anak,” kata Reza.
“Cek kondisi anak-anak dari ibu untuk mengetahui seberapa jauh kemungkinan mereka juga pengguna atau bahkan pecandu,” kata Reza.(dtc)