akar Lahan TNTN 12 HA, Seorang Warga Diamankan

PEKANBARU (HR)-Pembakaran lahan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Kabupaten Pelalawan terjadi awal pekan ini. Aksi tidak terpuji ini dilakukan seorang warga berinisial P. Kini, pria berusia 38 tahun itu telah diamankan petugas.
Saat dikonfirmasi, Kepala Balai TNTN, Supartono, membenarkan hal itu. Dikatakannya, P merupakan warga yang tinggal di sekitar kawasan konservasi itu, tepatnya di Dusun Bukit Makmur, Desa Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Pelalawan.
“Pembakar lahan (P, red) telah kita amankan bersama Polres Pelalawan. Pelakunya warga yang tinggal di desa sekitar sana (TNTN, red),” ujar Supartono, Kamis (20/9).
Lebih lanjut dikatakan Supartono, pihaknya bersama Polres Pelalawan melakukan operasi patroli gabungan pasca terbakarnya hutan konservasi itu.
Terpisah, Kepala Polres Pelalawan, AKBP Kaswandi mengatakan, pelaku pembakar lahan berinisial P yang merupakan warga Dusun Bukit Makmur, Desa Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras.
Dijelaskannya, pengungkapan pelaku pembakar lahan itu berawal dari laporan Satgas Udara yang menyatakan adanya kebakaran di kawasan TNTN yang masuk dalam kawasan Resor Tunggal, Balai TNTN, Kecamatan Pangkalan Kuras.
Menanggapi informasi itu, petugas Balai TNTN berkoordinasi dengan pihak Kepolisian. Dua lembaga itu selanjutnya melakukan penyelidikan bersama hingga mengarah ke pelaku P tersebut.
“Dari penyelidikan, P mengaku sebagai pemilik lahan. Dia juga mengaku sebagai pelaku pembakar lahan itu,” sebut Kaswandi.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, P telah diamankan berserta sejumlah barang bukti. Saat ini, proses penyidikan dilakukan jajaran Polres Pelalawan.
Diketahui, TNTN ditetapkan sebagai taman nasional pada 2004 dan 2009 silam dengan total luasan mencapai 81.000 hektare. Namun, saat ini kondisi TNTN semakin mengenaskan karena terus dilakukan perambahan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
“Saat ini hutan primer TNTN hanya berkisar 20.000 hektare. Sementara sisanya dari total luasan 81.000 hektare disulap menjadi perkebunan sawit dan dalam kondisi rusak,” kata Direktur Yayasan TNTN, Yuliantoni.(Dod)