Dolar AS Nyaris Rp15.300

Grafik
===========
Berikut Data Kurs Dolar AS di Empat Bank Nasional Terbesar
hingga Pukul 16:00 WIB:

BNI
Jual Rp 15.265
Beli Rp 15.105

BRI
Jual Rp 15.243
Beli Rp 15.217

Loading...

Bank Mandiri
Jual Rp 15.260
Beli Rp 15.010

Bank BCA
Jual Rp 15.268
Beli Rp 14.968

==============================

Jakarta (HR)- Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pada Senin (9/10) ini kian menunjukkan penguatan. Per pukul 15.10 WIB, US$ 1 berada di Rp 15.299 di perdagangan pasar spot.

Demikian dikutip dari data perdagangan Reuters, Senin (8/10). Dolar AS pada hari ini bergerak dari level Rp 15.185 hingga 15.299.

Jika ditarik dalam satu minggu ke belakang, rupiah tercatat sudah mengalami pelemahan hingga 1,72%. Rupiah juga melemah. Tak cuma dolar AS, dolar Singapura juga terus menguat terhadap rupiah.

Faktor eksternal masih dinilai menjadi pengaruh kuat rupiah terus tertekan. Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Tony Prasetiantono menilai bahwa ekonomi Indonesia saat ini tengah tertekan ketidakpastian global.

Tekanan yang dimaksud, kata Tony terlihat dari nilai rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah. Pelemah kurs rupiah juga dipicu defisit transaksi perdagangan dan transaksi berjalan.

Namun menurut Tony, kondisi ekonomi nasional saat ini masih sehat, terlihat dari tren pertumbuhan ekonomi yang berada di level 5%, inflasi terkendali di level rendah, dan kondisi perbankan nasional yang masih sehat.

Sementara, harga jual dolar AS di sejumlah bank besar di tanah air seperti Bank BCA, Mandiri, BNI dan BRI belum ada yang tembus ke angka Rp 15.300. Dikutip detikFinance dari situs resmi bank terkait, Senin (8/10), harga jual tertinggi dolar AS di antara empat bank besar tersebut ada di level Rp 15.268 yang digunakan bank BCA.

Sementara itu harga jual dolar AS terendah digunakan Bank BRI di angka Rp 15.260. Sedangkan harga beli dolar AS tertinggi diberikan oleh Bank BRI di angka Rp 15.217.

Harga jual adalah harga yang ditawarkan bank untuk membeli valuta asing yang ditawarkan. Sedangkan harga beli adalah harga yang ditaksir bank untuk membeli valuta asing dari yang menjual.

Dinamika Ekonomi AS
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pendorong utama semakin dalamnya pelemahan rupiah adalah dinamika perekonomian di Amerika Serikat. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) per hari ini menampilkan nilai tukar rupiah di level Rp 15.193 per dollar AS sekaligus pelemahan yang paling dalam sejak awal tahun ini.

“Kalau kita lihat data di AS, dipicu oleh yield 10 tahun bond mereka yang meningkat luar biasa tajam sudah di atas 3,4 persen. Jadi, kami melihat dinamika ekonomi di AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya cepat sekali,” kata Sri Mulyani di tengah-tengah acara Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10).

Sri Mulyani menjelaskan, dulu ambang batas psikologis untuk yield atau imbal hasil bond AS 10 tahun adalah 3 persen. Sehingga, ketika sudah mendekati 3 persen, muncul yang disebut sebagai reaksi terhadap seluruh nilai tukar dan suku bunga internasional.

Terlebih, kondisi saat ini sudah di atas 3 persen. “Jadi, kami memang sudah sampaikan berkali-kali, di mana kenaikan suku bunga global, terutama AS, itu pasti terjadi, dan mungkin akan lebih cepat. Oleh karena itu, harus dilakukan penyesuaian baik di dalam strategi pembangunan dan dalam bentuk nilai tukar,” tutur Sri Mulyani.

Sejauh ini, sebagian besar pihak telah memperkirakan bahwa Federal Reserve atau The Fed masih akan menaikkan suku bunga mereka beberapa kali lagi hingga tahun depan.

Di samping itu, yield dari bond atau obligasi AS yang naik, semakin mendorong pelemahan banyak nilai tukar di sejumlah negara, baik negara maju maupun negara berkembang.

“Pak Perry (Gubernur Bank Indonesia) juga sudah menyampaikan berkali-kali akan melakukan bauran kebijakan. Jadi, kami dengan BI terus melakukan hal tersebut, di mana BI mengelola nilai tukar dan dari sisi intervensi pemerintah melakukan penyesuaian melalui kebijakan-kebijakan,” ujar Sri Mulyani.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Rully Nova mengatakan, pelemahan rupiah relatif terbatas terhadap dolar AS seiring aktifnya penjagaan Bank Indonesia. “Sentimen eksternal, terutama dari Amerika Serikat, masih negatif bagi mata uang negara berkembang. Namun, Bank Indonesia melakukan intervensi sehingga rupiah tidak tertekan lebih dalam,” ujarnya.

Ia mengatakan, data ekonomi Amerika Serikat yang cukup positif memicu spekulasi bahwa ruang bagi the Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya cukup terbuka. Kondisi itu membuat instrumen investasi di negara berkembang menjadi kuarng menarik.

“Dana di pasar negara berkembang cenderung menuju Amerika Serikat, situasi itu memicu rupiah masih cenderung melemah,” katanya.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, pergerakan rupiah yang berkurang pelemahannya diharapkan dapat kembali terjadi. Dengan begitu, hal itu membuat rupiah memiliki jeda untuk kembali rebound.

“Paling tidak, pelemahan menjadi terbatas. Mengingat pergerakan rupiah yang telah berada di area oversold,” ujar Reza, di Jakarta.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakan, pelaku pasar yang mempertimbangkan rendahnya angka pengangguran AS dan tenaga kerja yang solid menjadi katalis positif bagi imbal hasil obligasi AS. “Ekonomi AS yang solid mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga bertahap lebih lanjut oleh the Fed,” katanya.(kck, dtc, rol)