Polda Riau Selidiki TPPU Pelaku Pembobol Bank BNI

PEKANBARU (HR)- Disampaikan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Pol Gidion Arif Setiawan pihaknya kini tengah menyelidiki secara mendalam tentang tindakan pidana pencucian uang (TPPU) tersangka HG.

Dimana dalam aksinya HG berhasil membobol bank BNI senilai Rp563 juta hanya dengan menggunakan alat-alat sederhana. “Tentu kita dalami TPPU sesuai dengan berjalannya penyidikan perkara ini,” katanya.

Dirincikannya, uang senilai Rp563 juta dalam perkara ini,digunakan oleh pelaku untuk membeli sebuah mobil Toyota Rush, sejumlah Handphone, dan beberapa laptop yang saat ini juga diamankan polisi sebagai barang bukti. “Kita juga menyita uang sekitar Rp125 juta, kartu ATM, Buku Tabungan, serta mesin EDC,” bebernya.

Loading...

Sementara, dalam aksi membobol bank ini HG (37) yang merupakan pria asal desa Pasar Baru, Kec Pangean, Kab. Kuantan Singingi, Riau hanya berbekal empat kartu anjungan tunai mandiri (ATM). Dimana aksinya ini dilakukan hanya dalam waktu tiga hari. Bahkan dalam membobol bank tersebut Ia juga tak memerlukan komputer dan hanya menggunakan mesin EDC.

Dengan alat tersebut, HG melakukan aksi transfer hingga 32 kali dalam waktu tiga hari. Ia berhasil mengirim uang senilai Rp563 juta ke beberapa rekening termasuk istrinya, bahkan juga bukan hanya sesama bank BNI saja, tapi juga beberapa bank lain seperti Mandiri dan BRI.

Setelah berhasil mengirim sejumlah uang, menggunakan EDC yang didapat dari meminjam dari pigak bank BNI tersebut dibuat eror oleh pelaku. Modusnya agar seolah – olah gagal sehingga saldo rekening tidak berkurang tapi rekening tujuan bertambah. “Transfer ini dilakukan berkali-kali dari 3 oktober sampai 6 oktober 2018 dengan total sekitar 32 kali. Nominal uang juga berbeda-beda mulai Rp2 juta sampai Rp30 juta,” paparnya.

Diketahui, HG merupakan agen BNI sejak 2016 silam. Namun, HG sendiri, bukan merupakan mantan pegawai bank yang paham secara rinci mengenai transfer dana. Selain itu, istri pelaku saat ini juga belum ditetapkan sebagai tersangka. Sebab dikatakan Gidion masih dalam penyelidikan. Dalam perkara ini dijerat dengan Pasal 85 jo Pasal 82 UU RI nomor 3 tahun 2011 dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp5 miliar,” pungkasnya.(rtc)