Sandi Suap Taufik ‘Satu Ton’ Anggota DPR ke-75 Jadi Tersangka KPK

Jakarta (HR)- Wakil Ketua DPR dari Fraksi PAN Taufik Kurniawan dijerat KPK sebagai tersangka. Taufik pun menjadi anggota DPR ke-75 yang dijerat sepanjang sejarah KPK.
Dari data yang dikumpulkan detikcom, Selasa (30/10), saat KPK berdiri pada 2002, belum ada wakil rakyat dari Senayan yang dipakaikan rompi tahanan berwarna oranye. Hal itu terus terjadi hingga 5 tahun kemudian.
Barulah pada 2007, KPK mulai melebarkan sayap ke Senayan. Pada tahun itu, ada dua anggota DPR yang dijerat. Tahun berganti dan jumlah wakil rakyat yang dijaring KPK semakin banyak. Hingga terakhir pada September 2018, setidaknya ada 74 anggota DPR jadi tersangka KPK.
Angka itu belum termasuk wakil rakyat di tingkat daerah yang dijerat KPK. Bila ditambah dengan anggota DPRD, angka itu bisa bertambah lebih banyak.
Sedangkan untuk tahun 2018 ini, ada empat anggota DPR, termasuk Taufik, yang sudah menjadi tersangka. Sebelum Taufik, ada nama Fayakhun Andriadi, Amin Santono, dan Eni Maulani Saragih.
Fayakhun dan Amin sudah menjalani persidangan. Sedangkan Eni masih menjalani proses penyidikan.
Sebelumnya, KPK menyampaikan Taufik diduga menerima sekurang-kurangnya Rp 3,65 miliar dari Muhamad Yahya Fuad selaku Bupati Kebumen. Dia memberikan suap itu kepada Taufik terkait perolehan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik pada APBN-P 2016.
Yahya Fuad sendiri sudah divonis dalam perkara tersebut. Dia juga sebelumnya dijerat KPK dari pengembangan penyidikan dari operasi tangkap tangan (OTT).
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan, penetapan tersangka ini merupakan hasil pengembangan perkara operasi tangkap tangan (OTT) di Jawa Tengah pada pertengahan Oktober 2017. “TK, wakil ketua DPR RI periode tahun 2014-2019, diduga menerima hadiah atau janji,” kata dia di gedung KPK, Jakarta, Selasa (30/10).
Basaria menjelaskan, Taufik diduga menerima suap sebesar Rp 3,65 miliar terkait pengurusan pengalokasian dana alokasi khusus (DAK) untuk Pemkab Kebumen. Suap itu diduga merupakan bagian dari fee sebesar lima persen dari total anggaran yang dialokasikan untuk Kabupaten Kebumen.
“MYF (M Yahya Fuad) menyanggupi fee lima persen dan kemudian meminta fee tujuh persen pada rekanan di Kebumen,” ujar dia.
Basaria melanjutkan, penyidik menduga hadiah atau janji tersebut diberikan agar Taufik menggerakkan atau melakukan atau tidak melakukan sesuatu terkait jabatannya. Diduga, hadiah atau janji itu telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya. Ini bertentangan dengan kewajibannya terkait perolehan anggaran DAK fisik pada perubahan APBN Tahun Anggaran 2016.
KPK menyebut duit suap yang diduga diterima Taufik Kurniawan dilakukan secara bertahap. Penyerahan uang disebut KPK terjadi di beberapa hotel.
“Pertemuan dan penyerahan uang dilakukan bertahap di sejumlah hotel di Semarang dan Yogyakarta,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (30/10).
Namun Basaria tidak merinci apakah Taufik sendiri yang menerima duit itu atau dengan perantara. Yang jelas, menurut Basaria, ada siasat tertentu agar penyerahan duit tidak terbongkar.
“Teridentifikasi penggunaan kamar hotel dengan connecting door,” ucap Basaria.

Sandi Suap
KPK juga mengungkap adanya penggunaan sandi atau kode berkaitan dengan suap untuk Taufik. Sandi yang digunakan itu adalah ‘satu ton’ yang mengacu pada nilai uang Rp 1 miliar.
Taufik sendiri sudah angkat bicara soal status tersangkanya. Dia mengaku menghormati KPK dan bakal kooperatif.
“Atas keputusan KPK tersebut, saya sangat menghormatinya dan akan mengikuti proses hukum tersebut secara baik dan tertib karena saat ini sedang dalam proses penyidikan di KPK,” kata Taufik.

Gelar Rapat
Pimpinan DPR akan menggelar rapat pimpinan (Rapim) untuk menyikapi status Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan yang telah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dugaan kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
“Kita akan segera mengadakan rapat. Kebetulan besok rapat terakhir. Besok sebelum Rapat Paripurna kami mengadakan rapim untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah kepada wartawan di Media Center Gedung Nusantara III DPR RI, Selasa (30/10).
Sesama Pimpinan DPR, Fahri Hamzah menyatakan prihatin atas penetapan Taufik Kurniawan sebagai tersangka oleh KPK. Namun dia mengingatkan semua pihak untuk tetap menganut azas praduga tak bersalah terhadap politisi PAN itu.
“Tentu sebagai sahabat, saya prihatin dan mudah-mudahan dugaan ini tetap kita pandang dengan kaca mata hukum yang kita anut, yaitu praduga tak bersalah, sampai ditetapkan pengadilan. Kita memakai kaca mata hukum dan falsafat itu,” ucap Fahri.
Fahri mengaku bahwa dia sudah cukup lama tidak berkomunikasi dengan Taufik Kurniawan. “Memang sejak beberapa bulan belakangan ini dia jarang datang. Mungkin dia sibuk menghadapi masalah hukum yang melibatkan dirinya ini,” ujar Fahri Hamzah.
Bahkan terang Fahri, Taufik juga tidak aktif berkomentar di WA Group Pimpinan. Karena itu ulas Fahri, dalam Rapim yang diadakan diharapkan kehadiran Taufik Kurniawan untuk mengonfirmasi penetapan status tersangka tersebut.
“Kami akan mencoba bertemu dengan Pak Taufik untuk mendengarkan apa yang beliau lakukan. Sebab apa pun status dia sebagai pimpinan DPR tidak gugur oleh status tersangka,” jelas politisi dari PKS itu.
Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Suparno mengungkapkan, PAN prihatin dengan penetapan status hukum tersangka terhadap kadernya, Taufik Kurniawan.
“Kami yakin Pak TK (Taufik Kurniawan) akan kooperatif menjalani proses penyidikan yang akan berjalan,” kata dia melalui pesan elektronik, Selasa (30/10).
Eddy menambahkan, partai yang didirikan Amien Rais itu juga menghormati proses hukum terhadap Taufik. Dia meyakini, Komisi Pemberantasan Korupsi akan bekerja profesional, transparan, serta berdasarkan data dan fakta akurat yang dimiliki.
“Kami berharap seluruh pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah sampai dengan adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap,” ujar dia. (dtc, rol, sam)