in ,

Musibah Jatuhnya Lion Air PK-LQP Haru, Penyerahan 7 Jenazah ke Keluarga

Jakarta (HR)- Tujuh jenazah penumpang Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, yang telah teridentifikasi, Minggu (4/11) diserahkan ke pihak keluarga. Proses penyerahan jenazah diwarnai suasana haru.
Penyerahan dilakukan oleh Wakil Kepala RS Polri Kombes Hariyanto kepada perwakilan keluarga. Hariyanto menyatakan rasa duka yang mendalam dari Tim DVI RS Polri kepada keluarga.
“Menindaklanjuti hasil identifikasi pada sore ini ada tujuh jenazah yang berhasil diidentifikasi dan kami serahkan jenazah yang sudah teridentifikasi ini kepada keluarga,” kata Hariyanto, di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (4/11).
Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada pihak keluarga, ada 3 jenazah yang langsung dibawa pihak keluarga ke rumah duka menggunakan ambulans yang disediakan. Sementara masih ada jenazah yang diinapkan.
Ada pula satu jenazah atas nama Karmin yang belum diserahkan karena pihak keluarga sedang dalam perjalanan dari Kepulauan Belitung. Suasana duka mewarnai peristiwa penyerahan korban jatuhnya pesawat Lion Air itu, pihak keluarga yang menghampiri peti jenazah penumpang Lion Air tampak berdoa sambil menangis.
Sementara itu Direktur Airport Service Lion Group Wisnu Wijayanto turut menyampaikan keprihatinannya pada keluarga korban.
“Kami atas nama Lion Air Group mengucapkan bela sungkawa dan duka yang mendalam kepada keluarga. Kami doakan semoga mendapatkan tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan dapat menerima dengan iklhas dan hikmah,” kata Wisnu.

Berhasil Diunduh
Sementara, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan, data dari kotak hitam atau black box flight data recorder (FDR) dari pesawat Lion Air PK-LPQ JT610 telah berhasil diunduh. Proses pengunduhan data telah dilakukan sejak Sabtu (3/11) sore pukul 18.00 WIB dan selesai pada Minggu (4/11).
“Update dari laboratorium black box KNKT bahwa hari ini telah berhasi diunduh,” kata Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT Captain Nurcahyo Utomo dalam keterangan resmi di Jakarta, Ahad (4/11) sore.
Nurcahyo menjelaskan, data black box FDR yang diperoleh yakni data 69 jam aktivitas terakhir. Data tersebut mencatat 19 penerbangan, termasuk penerbangan rute Cengkareng-Pangkalpinang yang mengalami kecelakaan pada Senin (29/10) lalu.
Proses pengunduhan data dari black box FDR itu turut dibantu oleh dua investigator dari Australian Transport Safety Bureau.
Kemarin, kata Nurcahyo, beberapa orang dari tim KNKT bersama tim dari National Transportation Safety Board (NTSB), Amerika Serikat juga telah melakukan verifikasi. Kedua tim, lanjut dia, juga sudah melakukan diskusi dari data-data yang berhasil dikumpulkan selama enam hari terakhir.
Selanjutnya, bagian pesawat yang baru ditemukan yakni wreckage (landing gear dan mesin) masih menunggu untuk diserahterimakan kepada KNKT. Nurcahyo mengatakan, pihaknya akan memulai proses identifikasi jika bagian pesawat tersebut telah diberikan. Khusus proses identifikasi wreckage, kata dia, akan dibantu oleh pihak dari Boeing selau produsen pesawat, General Electric (GE), dan NTSB.
Sementara itu, tim gabungan yang berada di wilayah perairan Karawang, Jawa Barat hingga kemarin, masih terus melakukan penyisiran untuk menemukan black box khusus cockpit voice recorder (CVR).
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya Muhammad Syaugi mengatakan, meskipun sinyal ping locator CVR pesawat sebelumnya sempat terdeteksi sangat lemah, sinyal tersebut sudah ditelusuri oleh penyelam-penyelam gabungan yang andal.
“Mereka sudah dibagi per point area penyelaman, namun belum berhasil menemukan secara fisik. Posisinya sekitar 50 meter arah barat laut dari pusat pencarian. Kondisi dasar laut berlumpur, kalau kita tusuk dengan besi satu meter, belum sampai ke dasarnya,” kata Syaugi.
Dia menjelaskan, rencana operasi selanjutnya tetap mengandalkan pencitraan dari ROV. Setelah mendapat gambar yang jelas dan presisi, baru akan dilaksanakan penyelaman. Selain itu, tim SAR juga melaksanakan penyisiran baik ke arah barat maupun ke arah timur di pesisir Pantai Tanjung Pakis.
“Penyapuan juga dilaksanakan dari darat, mengingat kemarin dari kawasan itu ditemukan banyak korban,” katanya. (dtc, rol)
Ketujuh jenazah yang telah teridentifikasi:
1. Rohmanir Pandi Sagala, laki-laki, usia 23 tahun, beralamat di Tangerang, Banten. Teridentifikasi melalui sidik jari dan medis.
2. Dodi Junaidi, laki-laki, usia 40 tahun, beralamat di Tangerang Selatan, Banten. Teridentifikasi melalui DNA.
3. Muhamad Nasir, laki-laki, usia 29 tahun, beralamat di Cianjur, Jawa Barat. Teridentifikasi melalui DNA.
4. Janry Efriyanto Santuri, laki-laki, usia 26 tahun, beralamat di Jambi. Teridentifikasi melalui DNA dan medis.
5. Karmin, laki-laki, usia 68 tahun, beralamat di Kepulauan Bangka Belitung. Teridentifikasi melalui DNA.
6. Harwinoko, laki-laki, usia 54 tahun, beralamat di kelurahan Bogor Utara, Kota Bogor. Teridentifikasi melalui DNA.
7. Verian Utama, laki-laki, usia 31 tahun, beralamat di Petamburan, Jakarta Barat. Teridentifikasi melalui DNA.

Din-UAS Bicara Persekusi Anti-Pancasila

Girder 20 Ton Mulai Dipasang di Flyover