Melanda Kuansing Sejak Sabtu 99 Desa, 7.006 KK Terdampak Banjir

PEKANBARU (HR)-Curah hujan yang tinggi di wilayah Riau, berdampak terhadap naiknya air sungai di beberapa daerah. Seperti di Sungai Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi yang meluap.
Hal ini karena tingginya debit air dari hulu sungai. Setidaknya, ada 99 desa yang terdampak. Ribuan rumah dan ribuan hektare sawah warga terendam banjir.
Banjir ini melanda Kuantan Singingi sejak Sabtu (3/11) lalu. Hingga kini masih berlangsung. Hanya saja, dari Dinas Sosial Riau melaporkan belum ada warga yang mengungsi. Kalaupun ada, warga mengungsi ke rumah saudara mereka.
“Ada 99 desa di 12 kecamatan yang terdampak banjir akibat meluapnya Sungai Kuantan. Terdata ada sebanyak 7.006 kepala keluarga (KK),” kata Kepala Dinas Sosial Riau, Darius Husin.
Dari data yang diterima sedikitnya ada 4.578 unit rumah dan 3.148 hektare lahan sawah di Kuantan Singingi terendam banjir. Paling parah di delapan kecamatan. Yakni, di Kecamatan Kuantan Mudik, 184 rumah terendam, Gunung Toar 15 rumah, Kuantan Tengah 495 rumah, Benai 902 rumah, Pangean 1.934 rumah, Kuantan Hilir Seberang 878 rumah, Inuman 122 rumah, dan Cerenti 47 rumah.
Sementara untuk areal persawahan yang terendam banjir di Kuansing seluas 3.148 hektare. Yakni di Kecamatan Kuantan Mudik 320 hektare, Gunung Toar 290 hektare, Kuantan Tengah 597 hektare, Pangean 1.151 hektare, Kuantan Hilir 243 hektare, Kuantan Hilir Seberang 536 hektare, Inuman 11 hektare dan Cerenti 1,5 hentare.
Terkait hal ini kata Darius, pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Kuansing. Dari laporan terakhir, pemerintah setempat sudah mendirikan posko pengungsian. Hanya saja, posko pengungsian ini belum ditempati warga.
“Artinya, masyarakat yang butuh perlindungan, khususnya untuk tempat tinggal, bila harus meninggalkan rumah karena terendam banjir, maka sudah disiapkan tenda pengungsian. Tapi, sampai hari ini belum ada masyarakat menggunakan tenda pengungsian tersebut. Kalau ada, nanti kan melapor ke posko,” ungkap Darius.
Dijelaskan Darius, masyarakat yang rumahnya terendam banjir, mengungsi ke rumah warga lain atau ke rumah saudaranya. “Ada masyarakat yang masih menetap di rumah mereka. Ada juga mengungsi ke rumah saudara mereka. Jadi belum masuk ke tenda pengungsian,” ujarnya.
Jika warga sudah memanfaatkan tenda pengungsian, maka kata Darius, akan disiapkan dapur umur dan logistik lainnya. “Kami akan menyiapkan makanannya, air bersih dan tempat tinggal mereka. Dapur umum kita dirikan bila ada orang mengungsi,” ujarnya.
Menurutnya, jika belum ada pengungsi, maka belum didirikan dapur umum. “Kalau belum ada yang mengungsi, bagaimana pula kita buat dapur umum. Tapi dapur umum sudah siap siaga. Kalau tenda, sebentar cuma mempersiapkannya,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap bersiaga bila dibutuhkan. “Yang jelas, kita dari Dinas Sosial dan Tagana, sudah siaga. Kita selalu koordinasi dengan Dinas Sosial dan instansi terkait,” ujarnya.
Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger mengaku sudah mendapatkan laporan terkait banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kuansing. Hanya saja, BPBD Riau tak bisa berbuat apa-apa, karena instansi yang menangani adalah Dinas Sosial Kuansing, karena Pemkab Kuansing tak memiliki BPBD.
Meski demikian, kami tetap pantau kondisi bencana yang terjadi di Kuansing. Kalau daerah yang punya BPBD setempat, kita langsung lakukan koordinasi dan mengirimkan bantuan,” ujarnya.
Namun, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, BPBD Riau siap menurunkan personel dan bantuan lainnya. Tapi sampai sekarang, belum ada permintaan bantuan kepada lembaga yang dipimpinnya.
“Kalau banjir di Kuansing, kita sudah dapat laporan. Kita belum kirim bantuan. Kita koordinasi jalurnya ke mana Nanti salah-salah,” tutupnya.
Belum Terdampak
Sementara, imbas dibukanya tiga pintu pelimpahan (spillway) PLTA Koto Panjang, Kabupaten Kampar, belum berdampak terhadap meluapnya air Sungai Kampar yang berada di hilir waduk PLTA Koto Panjang. Sampai Senin (5/11) ketiga pintu tersebut masih dibuka.
Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger, mengatakan, pasca dibukanya spillway tersebut, belum ada laporan yang masuk terjadi banjir di sepanjang Sungai Kampar. Namun, masyarakat tetap diimbau waspada karena spillway masih tetap dibuka, sampai kondisi waduk PLTA aman.
“Belum ada laporan, sampai sekarang masih dalam kondisi aman pasca dibukanya spillway. Kami tetap menghimbau masyarakat tetap waspada, karena curang hujan masih tinggi, dan spillway masih dibuka,” kata Edwar Sanger, Senin (5/11).
Sementara itu, Manager Unit Layanan PLTA Koto Panjang M Rusdi, mengatakan, pada Senin kemarin perkembangan elevasi waduk masih di buka 3 pintu dengan ketinggian masing-masing 30 cm.
Total Besaran Outflow rata-raya perjam sebesar 500 m3/detik (outflow pintu pelimpah 150 m3/detik + outflow turbin 350 m/detik) dengan inflow rata2 jam 600 m/detik, elevasi waduk sore ini jam 17.00 wib terbaca 82.71 mDPL dan ada kenaikan elevasi 39 cm.
“Bila kondisi cuaca dan curah hujan tetap tinggi di sisi hulu, ada kemungkinan melakukan penambahan pembukaan pintu pelimpah. Penambahan atau tinggi buka pintu pelimpahan akan di tentukan nantinya dari inflow yang masuk ke waduk.
“Kami tetap melakukan pemantauan dan perhitungan inflow dan outflow agar tindakan yang kami ambil nantinya tidak membahayakan masyarakat yang berada di sisi hulu maupun di sisi hilir,” kata Rusdi.(nur)