in , ,

Korupsi Pembanguan RTH Tunjuk Ajar Integritas Ichwan Sunardi dan Dua Oknum ASN Lainnya segera Disidang

PEKANBARU (HR)- Dalam waktu dekat, Ichwan Sunardi akan menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Pekanbaru. Oknum pegawai di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Riau itu akan disidang bersama dua orang aparatur sipil negara (ASN) lainnya, Hariyanto dan Yusrizal.

Ketiganya merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas Pekanbaru. Dalam proyek yang dikerjakan tahun 2016 lalu itu, Ichwan Sunardi merupakan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) Provinsi Riau, dan Hariyanto merupakan Sekretarisnya. Sementara, Yusrizal adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Loading...

Tiga tersangka itu telah dijebloskan ke sel tahanan Rutan Klas IIB Sialang Bungkuk Pekanbaru sejak Kamis (1/11) kemarin. Mereka ditahan setelah penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau merampungkan proses penyidikan dan melimpahkan penanganan perkara ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) atau tahap II.

Saat ini, JPU tengah menyusun surat dakwaan sebelum berkas perkara dilimpahkan ke pengadilan. “Kita tengah menyiapkan administrasi pelimpahan (berkas perkara) dan merampungkan surat dakwaan,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Pekanbaru Sri Odit Megonondo, Selasa (6/11).

Mantan Kasi Intelijen Kejari Rokan Hilir (Rohil) itu meyakini, proses tersebut tidak akan memakan waktu yang lama. Ditargetkan dalam waktu dekat, berkas ketiga pesakitan itu akan dilimpahkan ke pengadilan. “Segera lah (kita limpah),” singkat Odit.

Untuk diketahui, tiga tersangka itu ditahan menyusul 6 pesakitan lainnya yang terlebih dahulu menjalani proses persidangan dan dinyatakan bersalah. Mereka adalah mantan Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Sumber Daya Air (Ciptada) Riau, Dwi Agus Sumarno, Yuliana J Bagaskoro selaku rekanan, dan dari pihak konsultan pengawas, Rinaldi Mugni.

Lalu, Direktur PT Panca Mandiri Consultant, Reymon Yundra, dan seorang staf ahlinya Arri Arwin. Terakhir, Kusno yang merupakan Direktur PT Bumi Riau Lestari (BRL). Tersisa 9 tersangka lainnya yang nasibnya masih menggantung. Mereka di antaranya anggota Pokja Desi Iswanti, Rica Martiwi, dan Hoprizal. Lalu, Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) Adriansyah dan Akrima ST serta seorang PNS bernama Silvia. Terhadap para tersangka ini akan diputuskan berdasarkan evaluasi yang akan dilakukan penyidik.

“Selebihnya (9 tersangka, red) akan dilakukan evaluasi. Akan dilakukan evaluasi terhadap peran mereka masing-masing-masing. Apakah mereka bagian dari ketesertaan atau pembantuan,” ujar Asisten Pidsus (Aspidsus) Kejati Riau Subekhan, belum lama ini.

Ketersertaan itu, kata Subekhan, para tersangka memiliki satu niat untuk melakukan tindak pidana korupsi, sedangkan pembantuan adalah mereka memiliki kesengajaan untuk membantu tersangka lainnya dalam kasus ini. Namun disampaikan Subekhan, pihaknya belum mengeluarkan putusan terakhir terkait nasib 9 tersangka tersisa tersebut.

“Evaluasi dilakukan lantaran ada perbedaan antara fakta persidangan dan hasil penyidikan. Yang sisanya itu dievaluasi untuk mengkualifikasi apakah meraka dalam ketersertaan atau pembantuan,” sebutnya.

“Kalau tidak ada niat jahat dari mereka, tidak kita menghukum orang yang tak bersalah,” sambungnya menegaskan.

Dalam fakta persidangan pesakitan sebelumnya, Ichwan Sunardi mengakui dirinya diminta memudahkan PT BRL memenangi lelang, bahkan sebelum ia dihubungi oleh Yusrizal, dirinya beberapa kali dipanggil langsung Dwi Agus Sumarno. Ichwan Sunardi bahkan diperintahkan bertemu dengan Yuliana pada saat proses lelang sedang berlangsung.

Oleh Yuliana juga minta kepada Ichwan Sunardi supaya dibantu dalam proses evaluasi. Yuliana juga menjanjikan sesuatu jika Ichwan Sunardi memenuhi keinginannya. Alhasil pada saat evaluasi dokumen penawaran dan syarat kualifikasi tenaga ahli, Pokja meloloskan PT BRL dari 5 perusahaan yang ikut lelang.

Dikonfirmasi hal ini, Ichwan tetap membisu dan langsung memasuki kendaraan yang akan membawanya bersama dua tersangka lainnya. Untuk diketahui, proyek RTH Tunjuk Ajar Integritas dibangun pada tahun 2016 dengan anggaran Rp8 miliar. Dari anggaran itu, dialokasikan Rp450 juta untuk membangun Tugu Integritas. Tugu tersebut diresmikan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Raharjo pada 10 Desember 2016 lalu pada peringatan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) di Riau sebagainya simbol bangkitnya Riau melawan korupsi.

Dugaan korupsi itu ditangani dengan melibatkan ahli multidisiplin ilmu. Perbuatan melawan hukum terjadi bukan pada penganggaran namun terhadap proses dari lelang hingga pembayaran. Dari konstruksi hukum yang didapati penyidik, ada tiga model perbutan melawan hukum. Pertama, pengaturan tender dan rekayasa dokumen pengadaan.

Kedua, ditemukan pula bukti proyek ini langsung dan tidak langsung ada peran dari pemangku kepentingan yang harusnya melakukan pengawasan namun tidak dilakukan. Ketiga, ditemukan bukti proyek ini ada yang langsung dikerjakan pihak dinas.(dod)

Comments

Polsek Lima Puluh Sita 2.000 Pil Ekstasi

Sabar Jasman Diminta Kooperatif Kembali Mangkir, Penyidik Siapkan Panggilan Ketiga