Biaya Sewa Stan Hanya Menguntungkan EO Pemprov Hanya Terima Rp270 Juta

Pekanbaru (HR)-Pemerintah Provinsi Riau, melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Riau, hanya akan menerima pemasukan dari Riau Expo sebesar Rp270 juta.

Pendapatan ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan pendapatan yang akan diterima oleh EO Riau Expo, PT Arsi Mitra Mandiri, sebagai pemenang sayembara. Di mana pihak EO menerima seluruh pembayaran sewa stan yang ada di lokasi Riau expo, halaman Gubernuran Riau.
Untuk masing-masing stan di Riau Expo harga berbeda-beda, untuk tenda utama di patok dengan harga Rp18 juta sampai Rp20 juta. Dari 90 tenda utama A dan B, 75 stan sudah terisi. Jika dikalikan dengan harga sewa sebesar Rp18 juta, maka EO akan menerima sebanyak Rp1,3 miliar lebih.
Sementara untuk stan yang ada di luar tenda utama sebanyak 30 unit, yang terisi sebanyak 20 unit dengan harga terendah Rp3,5 juta, menerima Rp70 juta.
Sedangkan untuk UMKM ada sebanyak 100 stan yang terisi sebanyak 50 unit, masing-masing stan dikalikan Rp5 juta, total Rp250 juta.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Riau, Eva Revita, mengatakan, pihaknya hanya menyediakan lokasi. Untuk acara mulai dari pembukaan dan penutupan, termasuk acara hiburan di sediakan oleh pihak EO. Selanjutnya EO akan memberikan pendapatan dari Riau Expo.
“Kita nanti akan menerima PAD dari EO Rp270 juta. Untuk acara itu ditanggung oleh pihak EO,” kata Eva Revita.
Disinggung apakah Pemprov Riau ada mengeluarkan anggaran untuk acara tersebut, Eva tidak membeberkannya. Karena dalam segala kegiatan Riau Expo hanya dijalankan oleh EO. Pihaknya tetap ada mengeluarkan anggaran pada acara.
“Dari kita hanya biaya untuk pembukaan dan penutupan serta booth saja koq. Untuk mengisi acara mereka yang mengeluarkan,” ungkap Eva.

Belum Ramai
Sementara itu, memasuki hari kelima pelaksanana Riau Expo, terlihat belum begitu ramai pengunjung, terutama dari pagi hingga sore hari. Tidak begitu tampak masyarakat yang datang. Selain lokasi dan kurangnya promosi masyarakat juga enggan masuk ke dalam lokasi yang selama ini tertutup.
Salah seorang pedagang gelang, mengatakan, dagangannya belum begitu banyak yang membeli. Dan dikhawatirkan tidak akan seimbang antara biaya sewa dengan hasil penjualan. Masyarakat hanya banyak pada malam hari itupun hanya melihat-lihat tidak ada membeli dagangan kecuali kuliner.
“Masih sepi yang beli apalagi dari pagi sampai siang. Kalau malam cuma beli makanan warga yang datang. Masih sepi belum ramai padahal udah lima hari,” kata Deni.(nur)