in

Pagar Tembok Miring Sejak Sebulan Lalu “Ini Tanggung Jawab Komite Sekolah”

PEKANBARU (HR)- Tembok pagar SDN 141 Kecamatan Bukitraya, Pekanbaru sejak sebulan yang lalu dalam kondisi miring ke arah jalan. Bahkan pada dinding tersebut ditulis peringatan “Awas!!! Pagar Ini Mau Roboh”.

Hal ini seperti pengakuan warga setempat. “Malangnya pagi ini (kemarin, red) beneran roboh,” ujar Marini, warga setempat lokasi SDN 141 di Jalan Tengku Bey (Utama), Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru.
Ketua Komite SDN 141 Pekanbaru, Muhammad Rostami Agafar membenarkan peringatan tersebut.
“Kami sudah buat peringatkan agar warga dan siapapun bisa berhati-hati,” ungkapnya.
Rostami mengatakan, dinding tersebut dibangun pada awal tahun 2016 silam, di mana seluruh biaya pembangunannya berasal dari swadaya komite sekolah.
“Kita buat itu tahun 2016 awal, dananya dari sumbangan para orang tua dan komite. Ada yang menyumbang material dan uang,” katanya kepada awak media.
Lebih lanjut, pria yang juga merupakan staf di KONI Riau itu mengatakan, kejadian ini merupakan tanggung jawab komite sekolah.
“Ini tanggung jawab kita, karena kita yang bangun. Kita sudah ada rencana untuk perbaikan dan mengajukan ke dinas, namun musibah ini lebih dahulu datang,” tutur Rostami.
Guna mengantisipasi hal serupa, pihaknya merobohkan seluruh dinding pagar untuk diganti yang baru agar kejadian ini tidak terjadi kembali.

Loading...

Tembok Dibongkar
Keseluruhan Pagar tembok SDN 141 Bukitraya sepanjang 70 meter akhirnya dibongkar siang menjelang sore. Pagar tembok dibongkar pascamemakan dua orang korban akibat tertimpa reruntuhan pagar yang roboh sepanjang sekitar 18 meter.
“Panjang keseluruhan pagar ini sekitar 70 meter. Kondisinya memang sudah miring, inilah yang namanya musibah. Padahal baru Selasa (13/11), kami bersama warga memoto kondisi pagar untuk dilaporkan ke Dinas Pendidikan hari ini (kemarin-red), secara tertulis tapi hari ini pula (kemarin-red) sudah roboh,” jelas Ardiansyah Eka Putra, Ketua RW 1, Air Dingin, yang juga merupakan Sekretaris di Dinas Kebudyaan dan Pariwisata Pekanbaru, Rabu,(14/11) di lokasi.
Kondisi miringnya pagar tembok, diakui Ketua RW, yang akrab disapa Yayan, sudah sejak lama. Namun terparah baru sekitar dua pekan sejak musim hujan. Dibangun sejak tahun 2016 silam, setelah sebelumnya untuk konstruksi pagar hanya terbuat dari besi.
Pantauan Haluan Riau di lokasi kejadian hingga petang, pembongkaran sisa pagar tembok bukan hanya dilakukan warga sekitar, tapi juga dibantu 30 orang personil dari YON Arhanud 13/pby. Dipimpin Letda ARH Riyanto.
Tampak pula petugas dari Dinas PUPR, mengerahkan satu unit alat berat untuk mengangkat puing batu dan besi sisa reruntuhan. Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pekanbaru, juga tampak hilir mudik, membersihkan puing.
“Kami sudah berada di sini sejak sebelum waktu solat Dzuhur, setelah dapat informasi robohnya pagar ini. Kebetulan lokasi sekolah ini juga jadi desa binaan YON Arhanud 13,” kata ARH Riyanto, didampingi Lettu Arh Ulung Kokoh Gumelar, Pasi Intel Yon Arhanud 13.
Kepala Sekolah SDN 141, Endang Kilatsih, ditemui di kantornya, membenarkan, dua orang menjadi korban terhimpit robohnya pagar sekolah yang dia pimpin. Wiliam Malaeki berusia tujuh tahun, merupakan siswa kelas I di sekolahnya, sedangkan Yanitra Octavizoli, merupakan pelajar SMA 14 Pekanbaru.
Dia menceritakan, peristiwa robohnya pagar sekolah terjadi secara tiba-tiba. Saat akan memulai kegiatan pengajian rutin sebelum siswa masuk ke kelasnya masing-masing.
“Ini musibah kita tak bisa menghalangnya. Rencananya pagar tembok miring itu akan kami perbaiki usai perbaikan fasilitas sekolah penggantian kran-kran air untuk keluarga besar sekolah mengambil air wuduk. Itu tukang sedang kerja, Adek bisa lihat di belakang” jelas dia dengan nada lirih.
Ditanya, apakah kondisi pagar tembok miring sudah diketahui sebelumnya Endang, mengaku sudah menerima laporan dari penjaga sekolah. Bahkan pemberitahuan untuk berhati- hati dengan kondisi itu, sudah ditempel pada bagian pagar miring sebelumnya.
Dia juga menjelaskan pagar tembok dibangun sejak tahun 2016 silam. Untuk menjaga keselamatan seluruh siswa, karena sekolah berada tepat di depan Jalan raya.
“Dulu pagar itu terbuat dari besi, kemudian diganti dengan pagar tembok dari batu bata dengan ketinggian tak sampai dua meter. Tapi yang namanya musibah tak bisa kita halang,” kata Endang.
Anggaran pembangunan pagar tembok diperoleh dari sumbangan wali murid bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Pekanbaru. Waktu itu sejumlah wali murid ada yang menyumbang dalam bentuk semen dan batu bata.
“Tadi kami sudah ke rumah duka menyampaikan duka cita atas musibah yang terjadi. Saguhati dari keluarga besar sekolah dan Disdik juga sudah kami berikan kepada keluarga masing sebesar Rp5 juta. Kegiatan sekolah tetap akan berjalan seperti bisa esok hari (hari ini-red). Jumlah seluruh siswa dan siswi di SDN 141, sebanyak 472, dibagi tujuh lokal” tutup Endang.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal, dikonfirmasi, mengatakan, turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah yang terjadi.
“Kami turut berduka cita atas musibah ini,” katanya.
Jamal, menyebut, tindakan awal saat musibah terjadi adalah menyelamatkan korban dengan membawanya ke rumah sakit. Kemudian melakukan pembersihan lokasi dari puing- puing reruntuhan. Dibantu dinas terkait dari Badan Penyelamatan Bencana, PUPR, DLHK dan Yon Arhanud, bersama warga setempat.
“Untuk jangka pendek pagar sekolah yang roboh itu akan kita tutup dengan seng atau jenis material lain. Tahun 2019, baru kita bangun sudah dianggarkan di APBD 2019,” jelas Jamal.
Pembangunan pagar baru nanti direncanakan tidak pada lokasi pagar sebelumnya yang mengalami roboh. Tapi akan dimundurkan agar tidak terlalu mepet ke jalan raya. Sebab dia menduga kemiringan pada pagar sampai berujung roboh, bahkan memakan korban jiwa terjadi karena tergerus air.
“Kita tadi sudah melayat ke rumah duka. Yang siswa SMU meniggal dunia itu tinggal di belakang lokasi sekolah. Dan siswa SDN 141, bertempat tinggal di daerah Hotel Labersa. Ke depan kita akan cek ulang seluruh fasilitas yang ada di sekolah-sekolah, apalagi sekarang perumahan penduduk sudah banyak, adajuga yang saya lihat antara bangunan rumah mereka dengan sekolah hampir tak berjarak berdempetan. Ini murni musibah, kita harus belajar untuk lebih waspada,” tutup Jamal.(riz, alf, her, grc)

Comments

Jelang laga Jeka Saragih kontra Hatorangan Simbolon, Jeka optimis punya peluang kanvaskan Hatorangan Simbolon.

Pendidikan Gratis Diwacanakan Masuk APBD 2019