oleh

Pagar Roboh saat Dipanjat

PEKANBARU (HR)- Pagar tambahan penutup sela bangunan plang sekolah SD 121, Jalan Cut Nyak Dien, Kecamatan Sukajadi Pekanbaru roboh, Kamis (7/2).

Naasnya, runtuhan pagar menimpa, M. Salman Faris, siswa kelas III di sekolah tersebut sekira pukul 09.30 WIB.

Menurut keterangan teman korban, Zaki, jelang kejadian, Salman, berusaha mengejar teman lain yang usianya di atas mereka menuju arah keluar lokasi sekolah.

Karena sekolah dipagar besi, Salman, mencoba memanjat tembok tambahan yang menjadi penutup sela bangunan plang sekolah. Baru saja tangan menyentuh batas atas tembok tambahan, tiba-tiba pagar pun roboh menimpa Salman.

“Tadi, Faris lari ke arah tembok itu mau ngejar abang-abang. Dia coba panjat itu tembok, tapi tiba-tiba roboh menimpanya. Langsung pingsan, saya lihat kepalanya tertimpa batu yang paling besar,” kata Zaki, menjelaskan.

Sampai berita diterbitkan Faris, diketahui masih dirawat di salah satu rumah sakit, dengan kondisi luka lebam akibat tertimpa pagar yang terbuat dari batu bata. Korban merupakan warga Jalan Ahmad Yani, Gang Rida, Pekanbaru.

Penjaga Sekolah SD 121, Abizar, menerangkan, pagar tambahan itu sudah dibangun sejak lama. Meski tak begitu hapal tahun berapa tepatnya, namun dia mengatakan, dibawah tahun 2015 lalu. Mengenai konstruksi bangunan yang terkesan dipasang asal-asalan, Abizar, mengaku tidak mengetahui.

“Saya jaga sekolah di sini sudah sejak tahun 2004. Kalau masalah pagar itu saya tidak tahu. Pas kejadian tadi saya juga tidak berada di dalam sekolah. Lagi keluar ada keperluan. Setelah saya pulang ,orang sudah ramai saja. Ini pelajaranlah bagi kita semua. Saya mau bilang juga, kalau bisa pagar besi yang ujungnya sengaja dibuat runcing, dilepas saja. Karena sudah banyak juga siswa yang tersangkut di situ,” kata dia sambil menunjuk ke arah pagar sekolah.

Pantauan Haluan Riau di lokasi kejadian, pagar yang roboh merupakan penutup sela bangunan plang nama sekolah. Dengan ukuran lebar sekira 70cm, tinggi sekitar 165cm. Dari puing reruntuhan itu terlihat pagar memang dipasang asal jadi saja. Sebab batu bata hanya dipasang di atas keramik pelapis plang nama sekolah tanpa dipadu material besi.

“Manalah kuat kalau dipasang begitu saja tanpa ada kekuatan seperti pakai besi. Batu bata mana bisa padu sama keramik, itu cuma mengandalkan rekatan semen saja, karena tak tak ada besinya,” kata salah seorang wali murid yang mengaku bekerja sebagai tukang bangunan.

Pagar tambahan yang roboh merupakan salah satu dari enam pagar tambahan yang ada dengan ukuran sama. Sebab di lokasi itu terdapat tiga sekolah SD Negeri lagi, yakni, SD 12,15 dan SD 6. Setiap bangunan plang nama sekolah terdapat dua pagar tambahan penutup sela plang. Dua sekolah untuk plang nama digabungkan menjadi satu, jadi ada tiga bangunan plang nama sekolah yang berdiri di lokasi kejadian.

Atas musibah tersebut, Dinas Pendidikan langsung memerintahkan pihak sekolah untuk merobohkan semua pagar tambahan yang ada, daripada membahayakan ke depannya.
Kadisdik Pekanbaru, Abdul Jamal, mengatakan, yang menimpa siswa SD itu bukan pagar sekolah. Tapi penutup sela bangunan plang SDN 121.

“Yang roboh itu bukan pagar, tapi penutup sela bangunan plang nama sekolah. Kalau pagar sebelumnya sudah kita cek, masih aman, usai kejadian pagar roboh di SDN 141, Simpang Tiga. Kalau kita lihat dari kasat mata penutup itu kan tidak miring dan retak, jadi kemarin tidak manjadi perhatian kita. Tapi anak-anak tadi main di sana, ada dua orang coba memanjat, ternyata roboh. Dari situlah kita baru tahu bagaimana konstruksinya,” jelasnya.

Jamal, juga mengakui konstruksi pagar tambahan yang dibangun kurang memikirkan kualitas kekuatannya. Sebab dibangun tanpa memakai besi, terkesan hanya ditempel antara batu bata dengan semen. Namun demikian dia mengatakan, kejadian itu sebagai pelajaran.

Jamal, mengatakan sudah tak henti-henti menyampaikan kepada pihak sekolah untuk terus memperhatikan fasilitas sekolah yang dinilai membahayakan. Bukan hanya pagar, pohon yang tumbuh di sekitar sekolah juga harus diperhatikan.

“Bukan cuma pagar, kalau ada pohon tinggi yang sudah tua, harus disalon bukan ditebang. Jangan dibiarkan rimbun sehingga membahayakan keselamatan. Sudah kita sampaikan semuanya, tapi itulah yang namanya musibah,” kata Jamal.

Disampaikan, masalah masih adanya pedagang yang berjualan di luar sekolah yang dinilai menjadi salah satu pemicu bagi siswa untuk berusaha ke luar pagar pada jam sekolah, Jamal, mengatakan, sudah dilarang. Tapi pedagang selalu kucing-kucingan.

“Ini masalah bersama, kita sangat butuh peranan dari masyarakat dan wali murid untuk mengoreksi semua kelemahan. Kalau saya dari dalam salahsatu cara adalah denganmengasesment para kepala sekolah,” katanya.

Dinas Pendidikan dalam musibah tersebut, sudah mengunjungi siswa korban ke rumah sakit. Turut menyampaikan ucapan duka kepada keluarga.

” Masalah biaya rumah sakit jadi tanggungjawab kita,” tutupnya.(her)

Suherman
Pekanbaru

Comments

News Feed