oleh

Razia Lapas di Riau

PEKANBARU (HR)-Adanya warga binaan yang menjadi pengendali peredaran narkotika di Riau, membuat Badan Narkotika Nasional Provinsi Riau geram. Untuk itu, BNNP Riau berencana akan melakukan razia di sejumlah rumah tahanan negara dan lembaga pemasyarakatan yang ada di Riau.

Teranyar, BNNP Riau berhasil mengungkap dua kasus peredaran narkotika dalam jumlah besar. Perkara itu dikendalikan oleh narapidana yang berada di dalam lapas.

Pengungkapan pertama dilakukan pada, Selasa (18/1) lalu dengan barang bukti berupa 1 kilogram narkotika jenis sabu-sabu. Dalam perkara ini, petugas menetapkan lima orang tersangka.
Tersangka berinisial BK (21) dan CP (34) ditangkap di Jalan Kereta Api, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Keduanya, merupakan target operasi BNNP Riau yang diintai sejak tahun 2018 lalu.

Petugas kemudian melakukan pengembangan, hingga akhirnya mengamankan NO, dan NI. Pasangan suami istri ini diamakan di Jalan Labersa, Kebupaten Kampar saat melakukan transaksi barang haram itu.

Selain itu, BNNP Riau juga mengamankan seorang perempuan bernama SP (23). Dia tak lain adalah pacar dari tersangka yang bernama BK yang mengetahui transaksi barang haram dan turut menerima fee dari hasi penjualan sabu-sabu.

Dalam proses penyidikan diketahui, peredaran narkotika itu dikendalikan oleh seorang napi yang tengah mejalani hukuman di sebuah lapas di Riau.

Pengungkapan kedua dilakukan pada Minggu (27/1). Ada sebanyak 4 kg sabu-sabu, 263 butir pil ekstasi serta 380 gram daun ganja kering yang diamakan dari tangan dua tersangka berinisial FS dan SM. Penangkapan itu dilakukan di salah satu rumah pada Perumahan Griya Pandau, Kabupaten Kampar. Dimana peredaran barang haram itu juga dikendalikan warga binaan.

Tidak hanya itu, pengungkapan juga dilakukan pelataran Hotel Grand Suka Jalan Soekarno Hatta, Pekanbaru dan di Jalan Desa Harapan Gang Kartini, Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis pada, Kamis (31/1).

Dari lokasi itu, petugas mengamakan tiga orang tersangka bersama barang bukti berupa 13 kilogram sabu-sabu dan sekitar 17.000 pil ekstasi. Para tersangka berinisial SW alias Abi warga Jalan Desa Harapan Gang Kartini Kelurahan, Jamban, Kecamatan Mandau, Bengkalis.

Lalu DR alias Madhan dan FA alias Daus yang merupakan warga Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Sindikat ini juga dikendalikan oleh warga binaan, namun berada di sebuah lapas di Jakarta.

Alat Komunikasi
Terkait pengungkapan ini, Pelaksana Tugas (Plt) BNNP Riau, AKBP Haldun, mengaku didukung oleh pihak lapas. “Kita ada kerjasama dengan pihak lapas. Kita juga saling tukar informasi. Dengan adanya hal seperti ini, lapas juga mendukung upaya pengungkapan ini,” ujar Haldun kepada Haluan Riau, Minggu (10/1).

Tentu saja sangat digerakkan, seorang napi bisa mengendalikan peredaran narkotika dari dalam lapas. Sejatinya para napi diawasi dengan ketat. Selain itu, mereka juga tidak diperkenankan membawa dan menggunakan alat komunikasi selama menjalani hukuman.

Terkait hal ini, BNNP Riau berencana melakukan razia mendadak di dalam lapas untuk memastikan hal itu. “Ada. Rencana kita, ada (melakukan razia),” sebut Haldun. Terkait hal itu, Haldun mengatakan akan dikoordinasikan dengan pihak Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Provinsi Riau.

“Nanti kita koordinasi dengan pimpinannya dulu, kan. Ke Kanwil Kemenkumham (Riau),” pungkas AKBP Haldun.
Terpisah, Kepala Kepala Kanwil Kemenkumham Riau, M Diah, mendukung upaya yang dilakukan aparat penegak hukum untuk memberantas peredaran narkotika di Bumi Lancang Kuning ini. Termasuk rencana razia yang akan dilakukan.

“Kalau memang ada warga binaan di dalam (lapas) bermain-main dengan itu (narkotika,red), kita tidak beri toleransi. Kalau BNN dan Kepolisian ada punya informasi itu, sampaikan ke kita. Kita berikan akses seluas-luasnya untuk mengambil dan pemrosesnya,” kata M Diah.

Adanya informasi yang mengatakan bahwa para napi leluasa menggunakan alat komunikasi di dalam lapas. Tak ayal, hal itu mempermudah mereka mengendalikan peredaran narkotika dari dalam jeruji besi.

Terkait itu, M Diah menegaskan hal itu tidak dibenarkan. Namun persoalannya kata dia, saat ini lapas dalam kondisi yang over kapasitas.
“Jumlah mereka (napi,red) begitu banyak, jumlah kunjungan dari pihak keluarga yang banyak setiap hari. Dengan keterbatasan alat pendeteksi dan anggota yang mengawasi, tidak mustahil ada kebocoran. Tapi kita sudah punya program untuk melakukan razia rutin,” tegas M Diah.

Saat razia dilakukan, sebutnya, jika ditemukan alat komunikasi, baik di kamar maupun di blok tanahan, maka akan dilakukan penyitaan.

“Kalau ditemukan, alat itu (handphone) akan dirusak oleh mereka (napi,red) sendiri. Sehingga mereka tidak bisa berkomunikasi secara pribadi,” tandas M Diah.(dod)

Comments

News Feed