in

Hari Ini, UAS Belum Pasti Hadir sebagai Saksi Korban

Dugaan Penghinaan oleh Joni Bo

PEKANBARU (HR)-Jaksa Penuntut Umum belum bisa memastikan kehadiran Ustaz Abdul Somad (UAS) pada persidangan, Kamis (14/2). Sejatinya, UAS dihadirkan sebagai saksi korban dalam perkara dugaan penghinaan yang diduga dilakukan terdakwa Joni Boy.

Perbuatan Joni Boy itu dengan memposting kata-kata kasar di akun Facebook-nya, Jony Boyok. JPU sendiri telah membacakan surat dakwaan terhadap terdakwa yang akrab disapa JP itu pada persidangan sebelumnya.

Atas dakwaan itu, JB mengaku mengerti dan tidak mengajukan keberatan, sehingga sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi. UAS dijadwalkan menjadi saksi pertama karena yang bersangkutan merupakan korban atas perbuatan terdakwa.

“Kita sudah layangkan surat pemanggilan saksi UAS sebagai korban melalui penyidik. Untuk hadir dalam persidanan besok (hari ini, red),” ujar Syafril Dahlan kepada Haluan Riau, Rabu (13/2). Syafril Dahlan merupakan salah satu JPU dalam perkara itu.

Dikatakan Syafril, surat tersebut telah diterima UAS melalui penasehat hukumnya. Meski begitu, hingga kini pihaknya belum mendapatkan konfirmasi terkait kehadiran tokoh yang bergelar Datuk Seri Ulama Setia Negara itu.

“Tapi belum ada konfirmasi bakal hadir. Mungkin karena kesibukan beliau,” kata Jaksa yang bertugas di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau itu.

Lebih lanjut dikatakannya, keterangan UAS sangat dibutuhkan dalam persidangan tersebut. Jika belum bisa hadir Kamis ini, pihaknya kembali akan melayangkan surat panggilan terhadap UAS untuk dapat hadir pada persidangan berikutnya.

“Sebagai korban, (UAS) pasti akan kita hadirkan. Karena keterangannya sangat dibutuhkan. Sesuai Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, korban harus dihadirkan,” kata Syafril.

Selain UAS, pada persidangan Kamis ini, JPU juga menjadwalkan menghadirkan tiga saksi lainnya. Mereka adalah Muhammad Khalid, Delfizar dan Nurzen. “Kita akan hadirkan saksi dari pihak FPI dan saksi yang melihat postingan terdakwa di media sosial,” tandas Syafril.

Sebelumnya dalam dakwaan JPU dinyatakan perbuatan terdakwa dilakukannya pada Minggu, 2 September 2018 lalu sekitar pukul 12.00 WIB, di rumahnya di Jalan Kelapa Sawit Gang Dolok I Nomor 8 Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru. Terdakwa Jony Boy memposting tulisan atau berita di akun media sosial, Facebook, milik terdakwa yang ditujukan kepada Ustaz H Abdul Somad.

Postingan itu berisikan ‘Assalam mualaikum…. oooohhh somad biadab….. keturunan dajjal kjhatnmuu diatas setan…. kl setan masih sayang sm anaknya kl kao Dajjal untuk dikorban kan demi kepentinganpribadi…. neko neko kao qu rebok mumut dajjal muu itu yaaa tomad muda… ttd JB’.

Tulisan itu diunggah terdakwa dengan menggunakan handphone merek Iphone 7 warna hitam dengan kode kunci 190071, email URL https://www.facebook.com/jonny.boyok dan password BONIBOY dan NENEKU SAYANGKU, Tujuan terdakwa memposting tulisan itu agar bisa dilihat oleh orang banyak.

Tulisan itu dilihat saksi Delfizar, Nurzen dan Muhammad Khalid ketika membuka Facebook pada 4 September 2018. Postingan itu juga dilihat UAS pada 5 September 2018, ketika berada di Sulawesi Selatan dalam rangka undangan tablig akbar.

Selain tulisan, Joni Boy juga menyertakan tulisan di foto UAS dengan menggunakan huruf kapital ‘AKHIRNYA KERUKUNAN ANTAR AGAMA berhasil saya HANCURKAN’.

Dalam kalimat yang diposting oleh terdakwa, maksudnya menganggap Ustad Abdul Somad sebagai orang yang tidak beradab, tidak memiliki adab atau kesopanan artinya menuduh dan menganggap UAS sebagai orang yang tidak memiliki kesopanan dan membawa pengaruh jelek.

Atas tulisan itu, UAS merasa tidak senang, nama baiknya dicemarkan dan membunuh karakter UAS. Akhirnya, Joni Boy dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau.

Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.(dod)

Comments

Sejak Awal 2019, 231 Pinjaman Online Ilegal Diblokir

Baru Tiga OPD Terima Single Salary