oleh

Bengkalis Darurat Karhutla

BENGKALIS (HR) – Menyikapi kondisi bencana kebakaran hutan dan lahan yang terjadi terus meluas di sejumlah kecamatan, Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Kamis (14/2) menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kabut Asap dan Karhutla.

Pernyataan penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kabut Asap dan Karhutla ini setelah melalui hasil Rapat Koordinasi (Rakor) Perkembangan Situasi dan Kondisi Karhutla Tahun 2019, yang dipimpin Bupati Bengkalis yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Bustami HY, di ruang rapat Bagian Keuangan, Setda Bengkalis, Kamis (14/2).

Rakor dihadiri langsung Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bengkalis Tajul Mudaris. Dandim 0303 Bengkalis diwakili Perwira Staf Teritorial Kapten Inf Isnanu, Kapolres Bengkalis diwakili Kasat Binmas AKP Selamat Riadi, Kepala Satpol Pol Jendri Ginting, Kadis Damkar Djamaludin, Sekretaris Diskominfotik Adi Sutrisno dan Camat se-Kabupaten Bengkalis serta tim SAR Bengkalis.

“Setelah semua unsur (termasuk Forkopimda) menyatakan setuju, kita segera menetapkan Statgus Siaga Bencana. Besok Bupati Bengkalis Bapak Amril Mukminin, segera menandatangani Surat Pernyataan Bencana dan SK Siaga Bencana,” ungkap Sekda Bengkalis, H. Bustami.

Sebagaimana dimaklumi Bupati Bengkalis Amril Mukminin pada Kamis, menghadiri acara undangan Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim dalam acara peresmian Jembatan Abdul Jalil Alamuddin Syah, di Pekanbaru.

Diungkapkan Bustami, segala persyaratan administrasi seperti surat pernyataan dan SK sudah diselesaikan oleh Bagian Hukum Setda Bengkalis. Selanjutnya, Jumat 15 Februari 2019, sudah ditandatangani, berarti resmi penetapan Status Siaga Bencana Karhutla di Kabupaten Bengkalis.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Bengkalis, sampai 13 Februari 2019, sudah terjadi kebakaran sebanyak 17 kali dengan luas lahan mencapai 223 hektare. Sementara itu, dari pantuan satelit, jumlah titik panas (hotspot) mencapai 56 titik.

Kondisi Karhutla setiap kecamatan, sebagai berikut, Kecamatan Bantan 2 kali kebakaran seluas 9 hektar, sedangkan jumlah hotspot zero alias nol. Bukit Batu 3 kali kebakaran seluas 8 hektar, hotspot 5 titik.

Siak Kecil 2 kali kebakaran, seluas 17 hektar, sedang jumlah hotspot zero. Rupat 5 kali kebakaran, seluas 163 hektar, dengan jumlah hotspot 47 titik. Rupat Utara 1 kali kejadian kebakaran seluas 1 hektar dan 1 hotspot.

Bathin Solapan 1 kali kebakaran seluas 3 hektar dan 1 hotspot. Talang Muandau 3 kali terjadi kebakaran, seluas 22 hektar dan 1 hotspot. Bandar Laksamana 1 hotspot, tidak ada kasus kebakaran.
Sedangkan tiga kecamatan, Bengkalis, Mandau dan Pinggir, berdasarkan data per 13 Februari 2019 tidak ada kasus Karhutla dan tidak ditemukan titik panas (hotspot).

Sejauh ini petugas di kecamatan, mulai dari Damkar, BPBD, Satpol PP, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan personil TNI/Polri terus berusaha memadamkan api agar tidak merebak. Namun petugas sedikit mengalami kendala, karena faktor lokasi yang sulit terjangkau dan pasokan air.

Terakhir dari informasi Kepala Dinas Damkar Djamaludin, hingga Kamis siang terjadi kebakaran lahan di Desa Lubuk Muda Kecamatan Siak Kecil dengan luas lahan seperempat hektar. Personil pemadaman sebanyak 2 regu dibantu Masyarakat Peduli Api (MPA) langsung bergerak untuk memadamkan api agar tidak merambat ke kawasan lain.

Dari rilis yang diterima dari Korem 31/WB, Kebakaran terus meluas di beberapa titik di Desa Rupat, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis. Hal ini dipicu kondisi cuaca panas yang ekstrem. Kebakaran membuat masyarakat setempat khawatir. Kebakaran menimbulkan asap tebal dan debu berterbangan.

Danramil 05 Rupat, Kapten Inf Syafrilis menyampaikan, kebakaran yang terjadi lebih parah dari kebakaran di dua titik sebelumnya tepatnya pada Rabu (13/2) lalu.
Untuk memadamkan api, tim personel dari TNI diturunkan, serta tim dari Damkar perusahaan dan masyarakat peduli api.

Sambungnya, kebakaran di Rupat kini bertambah menjadi 20 titik dengan luasan 35 hektare.
Dalam melakukan pemadaman, tim menghadapi sejumlah hambatan, mulai dari kondisi cuaca, angin kencang, gambut yang tebal, jalan yang sulit dilalui dan sumber air yang jauh dari titik api.
“Hingga kini tim masih melanjutkan pemadaman, dengan menggunakan dua unit alat beart guna membuat sekat/parit menahan lajunya api akan masuknya ke daerah perkebunan dan ke perkampungan,” ujarnya. (rls, rtc)

Comments

News Feed