oleh

DPRD Riau Apresiasi Buku ‘Demokrasi Wani Piro’

PEKANBARU (HR)-Buku karya Bagus Santoso yang berjudul ‘Demokrasi Wani Piro’ diluncurkan. Hal itu mendapat apresiasi yang tinggi dari sejumlah pihak, termasuk dari kalangan anggota DPRD Riau sendiri.

Peluncuran buku itu dilaksanakan di Perpustakaan DPRD Riau, belum lama ini. Setakat itu, juga dilangsungkan bedah buku terbitan Nusamedia Bandung tersebut.

Septina Primawati yang hadir dalam kegiatan itu memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap karya koleganya di DPRD Riau tersebut. Dikatakan Ketua DPRD Riau itu, buku Demokrasi Wani Piro banyak mengungkap realitas demokrasi di Indonesia.

Dia mengakui, bahwa iklim demokrasi di Indonesia belum sempurna. Karena masih diukur dalam bentuk materi. Menurutnya, buku Demokrasi Wani Piro merupakan sebuah peristiwa nyata yang bukan lagi menjadi rahasia. Ia bahkan secara gamblang memaparkan bagaimana proses demokrasi di dalam lingkup politik.

“Masih banyak kita dengar mahar politik. Buku ini sesungguhnya sangat menggambarkan bagaimana proses demokrasi itu berlangsung,” ujar Septina dalam sambutannya pada kegiatan yang turut dihadiri anggota DPRD Riau lainnya, Karmila Sari dan Mansyur HS. Dua nama yang disebut terakhir merupakan rekan Bagus Santoso di Komisi II DPRD Riau.

Senada, Karmila Sari juga menyampaikan apresiasinya. Dia mengaku sangat bangga dengan karya yang dihasilkan Bagus Santoso. Selain karena konten buku yang sangat mendidik, karya tulis merupakan buah pikir yang seharusnya ditularkan dalam bentuk buku. Sehingga ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Sangat salut saya dengan rekan saya Mas Bagus. Di tengah kesibukannya sebagai anggota Dewan, masih sempat menulis buku. Ini yang selalu ingin saya contoh, dan sampai sekarang belum bisa. Memang menulis itu ternyata tidak gampang,” kata politisi Partai Golongan Karya (Golkar) itu.

Sementara itu, sang penulis Bagus Santoso menyebut buku Demokrasi Wani Piro sendiri merupakan karya ketiganya. Dua buku sebelumnya, yaitu Menantang Elit Parpol dibedah di Kampus UIN tahun 2007, dan Merakyat Tak Dapat Dibuat- buat pada tahun 2014.

Demokrasi Wani Piro sendiri dijelaskannya merupakan realitas empirik yang telah ia alami berdasarkan hasil turun langsung selama menjadi politisi.

“Apalagi dikaitkan dengan pesta demokrasi. Di situ ada makna yang lugas. Buku ini mengungkap apa yang terjadi secara empiris. Mengungkap keresahan yang terjadi. Kemudian juga melibatkan semua unsur termasuk pemerintah juga masyarakat. Yang paling penting juga adalah media massa,” ungkap Bagus Santoso.

Ia menceritakan bagaimana problem demokrasi yang berorientasi kepada uang masih terasa sangat kental di masyarakat, khususnya di ceruk-ceruk kampung. Bahkan dirinya pernah ditagih langsung ketika hendak turun ke masyarakat.

“Istilahnya NPWP, nomor piro wani piro. Sistem ini berlangsung. Masyarakat saban hari dicekoki hal-hal seperti ini. Apa karena salah caleg, ternyata tidak. Semua ikut bertanggung jawab atas masalah ini,” terang Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) asal Bengkalis itu.

Ia juga menggambarkan bagaimana paradigma masyarakat tentang pemilihan caleg. Dimana masyarakat berpikiran setelah duduk, caleg pastinya akan meninggalkan dan tak akan lagi mengurus masyarakat.

“Karena pikiran itu timbul keinginan untuk ‘meminta’ di depan, baru dicoblos. Belum lagi pemikiran terima uangnya, coblos yang lain. Harusnya pemikiran serupa itu tidak boleh ada sama sekali,” pungkas Bagus Santoso.

Kembali ke buku Demokrasi Wani Piro. Karya tulis ini terdiri dari 3 Subbab, yaitu Demokrasi, Politik dan Kekuasaan. Lalu, Riau, Masa Kini dan Masa Depan. Terakhir, Politik Desa Hidup Itu Anugerah.
Buku dengan pengantar dari Pengamat Politik, Saiman Pakpahan, Dosen Universitas Riau (UR), dan Ruslan Ismail Mage selaku Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta.

Pada buku itu juga ditaburi berbagai komentar dan pandangan dari sejumlah pihak. Di antaranya, Pemimpin Redaksi (Pemred) Riau Pos M Hapiz, Pemred riauterkini.com, Ahmad S Udi, dan Pemred Haluan Riau Doni Rahim.

Juga ada, Pemred Majalah Azam Yanto Budiman Situmeang, Ketua PWI Riau, Zulmansyah Sekedang, dan wartawan senior yang juga mantan Ketua PWI Riau, Dheni Kurnia, dan akademisi Saiman Pakpahan.(ADV)

Comments

News Feed