in , ,

Giliran Ketua Tim Teknis dan Konsultan Perencana Dijebloskan ke Tahanan

Korupsi Pembangunan Gedung Pascasarjana Fisipol UR TA 2012

Suasana tahap II dugaan korupsi pembangunan gedung Fisipol UR (Dodi Ferdian)

PEKANBARU (HR)-Dua tersangka dugaan korupsi pembangunan gedung Program Pascasarjana Fisipol Universitas Riau (UR) menjalan proses tahap II, Jumat (29/3). Selanjutnya dua pesakitan dijebloskan ke sel tahanan pada Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Pekanbaru.

Dua tersangka itu adalah Zulfikar Djauhari. Pria berusia 47 tahun itu adalah dosen di perguruan tinggi negeri itu sekaligus selaku Ketua Tim Teknis pembangunan proyek yang dilakukan pada 2012 lalu. Seorang tersangka lagi adalah Benny Johan. Dia adalah Direktur CV Reka Cipta Konsultan, selaku konsultan perencana.

Para tersangka itu diduga melakukan rasuah sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3 Undang-undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Penanganan perkara ini sebelumnya dilakukan penyidik Satreskrim Polresta Pekanbaru. “Hari ini, penyidik melimpahkan penanganan perkara berupa penyerahan tersangka dan barang bukti ke kita (Jaksa Penuntut Umum,red),” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru, Yuriza Antoni, Jumat siang.

Dalam tahap II ini, JPU kata Yuriza, telah memeriksa kelengkapan administrasi, dan kesehatan para tersangka. “Untuk selanjutnya, kedua tersangka kita titipkan di Rutan untuk 20 hari ke depan. Dalam masa itu, kita akan menyiapkan surat dakwaan sebelum berkas perkara dilimpahkan ke pengadilan,” pungkas mantan Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Lingga, Kepulauan Riau itu.

Dalam perkara ini juga terdapat sejumlah nama lainnya sebagai pesakitan. Mereka adalah Ekky Ghadafi. Saat proyek itu, dia adalah anggota tim Kelompok Kerja pada Unit Layanan Pengadaan (ULP) di UR. Saat ini, berkas perkaranya masih dilengkapi oleh penyidik Polresta Pekanbaru.

Pesakitan lainnya adalah Hery Suryadi, mantan Pembantu Dekan II Fisipol UR, dan Ruswandi, mantan karyawan PT Waskita Karya (WK) selaku Komisaris PT Usaha Kita Abadi yang mengerjakan proyek pembangunan gedung Fisipol UR.

Dua nama yang disebutkan terakhir telah dihadapkan ke persidangan, dan dinyatakan bersalah. Heri Suryadi divonis 2 tahun penjara, dan Ruswandi dihukum 3 tahun penjara.

Selain penjara, kedua terdakwa juga dihukum membayar denda masing-masing Rp50 juta atau subsider 3 bulan penjara. Hanya saja, Ruswandi dihukum membayar kerugian negara Rp940.245.271 subsider 6 bulan kurungan.

Dugaan penyimpangan pada proyek pembangunan gedung Fisipol UR terjadi pada 2012 lalu dan gagal hingga dua kali. Akibatnya, panitia lelang melakukan penunjukkan langsung untuk menentukan pelaksana kegiatan.

Padahal, proyek hanya boleh dikerjakan oleh peserta lelang yang telah mendaftar karena dalam pendaftaran, peserta pastinya membuat surat keterangan penyanggupan. Namun oleh panitia lelang dipilih rekanan yang sama sekali tidak mendaftar.

Bahkan, proses penunjukkan tersebut dilakukan oleh panitia lelang bersama ketua tim teknis kegiatan. Kontrak kerja ditandatangani oleh direktur rekanan yang diduga dipalsukan di depan panitia lelang.

Dalam pengerjaannya, pada akhir Desember 2012 pekerjaan hanya selesai 60% tapi anggaran tetap dicairkan 100%. Jaksa menduga, ada kongkalikong antara tim teknis yang menyatakan kalau pengerjaan sudah 100%.

Bahkan perusahaan rekanan tidak diblacklist oleh panitia dan juga tidak dikenakan denda meski bermasalah. Menurut aturan, besaran denda adalah 5% dari total anggaran yang diyakini sebesar Rp9 miliar yang bersumber dari APBN Perubahan tahun 2012.

Berdasarkan audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Riau, tindakan itu mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp940.245.271,82.(dod)

Comments

15 Tahun Hilang dan Disangka Sudah Meninggal, Pulang Bawa Ratusan Juta dan Emas

NASA Akan Bayar Rp263 Juta untuk Orang yang Mau ‘Bermalas-malasan’ di Tempat Tidur, Tertarik?