oleh

Inovasi Sistem Kultur Tanaman Baru untuk Lahan Gambut

PEKANBARU (HR)-Professor Emeritus dari Universitas Hokkaido Jepang dan President Japan Peatland Society (JPS), Mitsuru Osaki, menyampaikan penemuannya tentang inovasi sistem kultur tanaman terbaru bernama AeroHydro Culture.

Sistem ini untuk pengelolaan ekosistem gambut yang lebih ramah bagi industri. Teknologi ini digadang sebagai solusi berkelanjutan bagi upaya restorasi gambut, terutama di wilayah konsesi yang digunakan untuk bidang pertanian dan perkebunan.

Osaki yang sudah meneliti lahan gambut sepanjang karir professionalnya mengatakan bahwa pengelolaan ekosistem gambut terbilang kompleks. Selain keunikan karakteristik alami ekosistem gambut juga karena banyaknya kepentingan kalangan masyarakat yang terlibat.

Ada beberapa elemen yang harus dipertimbangkan dalam mengelola ekosistem gambut, yakni tinggi muka air, status nutrisi tanah dan air gambut serta ketersediaan oksigen. Alasan utama terhambatnya pertumbuhan tanaman apabila tinggi muka air dinaikkan levelnya (mendekati permukaan ekosistem gambut) atau dijaga tetap tinggi adalah kurangnya pasokan oksigen, dan kurangnya ketersediaan nutrisi untuk tanaman.

“Oleh karena itu, penting untuk dilakukan terobosan baru yang dapat menjadi solusi atas tantangan ekosistem ini,” ujar Osaki.

Lahan gambut biasanya kaya air tetapi minim nutrisi. Teknologi AeroHydro Culture ini dirancang agar sebagian akar akan berada di atas dan sebagian lainnya akan berada di air. Dengan cara ini, tanaman tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Diharapkan produktivitas tanaman pertanian dan perkebunan tetap tinggi meskipun level tinggi muka air dinaikkan ke level kurang dari 40 cm di bawah permukaan gambut mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Bakteri-bakteri berguna juga ditanam pada tanah sehingga tanaman menyerap nutrisi secara maksimal.

“Teknologi ini bertujuan agar tanaman bisa dijaga untuk tetap produktif tanpa perlu membakar atau mengeringkan ekosistem gambut untuk memasok nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh tanaman. Untuk sementara ini, bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), kami melakukan eksperimen di Siak dan Palangkaraya. Program ini baru akan dijalankan pada Juni nanti dan mungkin baru setahun lagi kita bisa melihat hasilnya, tapi saya optimis,” lanjut Osaki.

 

Dukung Praktek Penanaman Kelapa Sawit Berkelanjutan

Osaki sendiri menyatakan dukungannya terhadap Pemerintah Indonesia untuk menunda pemberian izin baru pembukaan ekosistem gambut untuk kepentingan lahan perkebunan. Menurutnya dengan menggunakan teknologi AeroHydro Culture ini meningkatkan produktifitas kelapa sawit dan tanaman-tanaman kering lain sehingga tidak perlu untuk mengkonversikan lahan gambut lainnya menjadi lahan pertanian.

“Lahan gambut menghadapi pengrusakan luar biasa karena deforestasi, konversi dan drainase untuk pertanian, dan pembangunan infrastruktur. Namun, restorasi lahan gambut tidak cukup hanya dengan menyuruh orang tidak membakar hutan dan lahan. Maka dari itu upaya berkelanjutan dariberbagai pihak perlu dilakukan untuk menjaga agar ekosistem gambut di Indonesia terawat dengan baik,” sebut dia.

 

Menjaga Lahan Gambut bagi Kelangsungan Hidup Manusia

Lahan gambut sangat penting untuk memerangi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan yang lebih luas. Karena itu, perlindungan dan pemulihan lahan gambut sangat penting dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon dan sirkuler. Gambut yang sehat akan menyerap dan menyimpan karbon; tetapi saat terdegradasi, karbon dilepaskan, berakhir di atmosfer sebagai karbon dioksida.

Lahan gambut yang rusak berkontribusi sekitar 10% dari emisi gas rumah kaca dari sektor penggunaan lahan. Emisi CO2 dari lahan gambut yang dikeringkan diperkirakan memproduksi 1,3 gigaton CO2 setiap tahun. Ini setara dengan 5,6% dari emisi CO2 antropogenik global. Tidak seperti hutan hujan atau terumbu karang, lahan gambut sebagian besar diabaikan oleh para peneliti dan pembuat kebijakan.

Secara historis, lahan gambut dipandang sebagai tanah terlantar yang dapat dengan mudah dikonversi menjadi pertanian. Di Indonesia, lahan gambut banyak dikeringkan untuk memberikan ruang bagi perkebunan kelapa sawit atau pulp dan kertas. Namun, lahan gambut yang dikeringkan dengan cara dibakar bisa memicu kebakaran masif.

Pada 2015, lahan gambut Indonesia terbakar secara massal setelah bertahun-tahun mengalami pengeringan dan penggundulan hutan. Krisis tersebut membuat Indonesia menelan biaya lebih dari US$ 16 miliar, menurut Bank Dunia; melepaskan lebih dari 800 juta metrik ton CO2; dan, menurut sebuah penelitian, menyebabkan kematian dini 100.000 orang di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

“Lahan gambut memang merupakan ekosistem yang berbeda dari sudut pandang fungsional, pemrosesan bahan kimia hingga nutrisi. Gambut bisa dibilang adalah salah satu lingkungan paling keras di planet ini tetapi juga merupakan salah satu yang terpenting. Hal yang paling penting dalam menyelamatkan lahan gambut adalah, kita perlu melihatnya secara berbeda,” tutup Osaki.(rls/dod)

Comments

News Feed