oleh

Tersangka Jambret di Rohil Tewas Akibat Dianiaya Oknum Polsek Bangko

PEKANBARU (HR)-Pihak kepolisian akhirnya buka suara terkait tewasnya seorang tahanan Polsek Bangko pada akhir Maret 2019 lalu. Tersangka yang meninggal dunia itu bernama M Nur Ahmad alias Sokek.

Diamenghembuskan nafas karena sebelumnya diduga dianiaya seorang oknum polisi penjagaan Polsek Bangko.

Sokek merupakan satu dari tiga pelaku jambret yang diamankan Polsek Bangko pada Rabu (27/3). Dua pelaku lainnya diketahui bernama Robi dan Anjas.

Ketiga pelaku menjalankan aksinya pada Minggu (17/3) lalu. Adapun korbannya adalah Nur Ain. Saat itu, Kabid Paud di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Rohil tengah mengendarai sepeda motor bersama temannya bernama Linda.

Akibat kejadian itu, Nur Ain meninggal dunia saat berada di RS DR Pratomo Bagansiapiapi, Minggu (17/3) sekitar pukul 21.00 WIB.

“(Pelaku) Jambret itu yang korbannya dua orang perempuan. Salah korban itu meninggal, Nur Ain, karena terhempas kepalanya di aspal,” ungkap Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto kepada haluanriau.co, Jumat (26/4).

Atas kejadian itu, pihak kepolisian kemudahan melakukan penyelidikan. Hingga akhirnya diperoleh informasi tentang keberadaan salah seorang pelaku.

“Didapatkan informasi bahwa pelaku jambret itu berada di suatu tempat. Kemudian dilakukan pengejaran,” sebut pria yang akrab disapa Narto itu.

BACA : Oknum Polisi di Rohil Terancam Disanksi

Pelaku tersebut berhasil diamankan. Dia bernama M Nur Ahmad alias Sokek. Kepada petugas, Sokek mengaku jika tidak sendirian menjalankan aksi pencurian dengan kekerasan (curas) itu.

“Dia mengaku tidak melakukan jambret itu sendiri. Dia bersama kawannya. Kemudian dilakukan pengembangan,” lanjut dia.

Dari pengembangan itu, polisi berhasil meringkus Robi, rekan Sokek. Tidak sampai di situ, polisi kemudian menangkap seorang pelaku lainnya, bernama Anjas.

“Dari keterangan Robi, dia mengaku yang menyuruhnya melakukan jambret itu adalah tersangka Anjas, yang ternyata anak kandung korban (Nur Ain),” tutur mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) seraya mengatakan, petugas berhasil menangkap Anjas.

Ketiganya kemudian dilakukan pemeriksaan intensif di Mapolsek Bangko. Di sela-sela proses penyidikan itu lah, salah seorang personel Polsek Bangko diduga melakukan penganiayaan terhadap Sokek.

“Pada saat dilakukan pemeriksaan oleh Polsek Bangko, ada diduga satu anggota penjagaan melakukan aniaya terhadap Sokek,” kata Narto. Kendati begitu, Narto tidak menjelaskan alasan sang oknum melakukan penganiayaan tersebut.

Akibat penganiayaan itu, Sokek mengalami luka-luka. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada Kapolsek Bangko Kompol James Rianov Rajagukguk.

Sokek kemudian dibawa ke RS DR Pratomo Bagansiapiapi untuk dilakukan pemeriksaan. “Itu pada hari Kamis tanggal 28 Maret,” sebut dia.

Keesokan harinya sekitar pukul 08.00 WIB, Sokek harus dirujuk ke salah satu rumah sakit yang ada di Duri, Kabupaten Bengkalis karena di RS DR Pratomo tidak memiliki fasilitas ct scan.

Ternyata fasilitas tersebut juga tidak ada di sana, sehingga Sokek yang saat itu kondisinya semakin melemah harus dibawa ke Pekanbaru. “Saat itu dia koma (kritis,red). Saat hendak dibawa ke Pekanbaru, sampai di Kandis dia dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Narto.

Selain Sokek, dua tersangka lainnya juga dikabarkan sempat menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Polda Riau. Kuat dugaan mereka juga merupakan korban penganiayaan. Dikonfirmasi hal itu, Narto membantahnya.

“Kalau berantem. iya di situ. Antara Anjas dan adeknya. Ada yang berantem di Polsek Bangko. Karena adiknya itu tidak terima. Kok tega-teganya dia melakukan (perbuatan) itu terhadap ibunya. Jadi bukan karena dianiaya,” pungkas Narto.(dod)

Comments

News Feed