oleh

Kesempatan Meningkatkan Kualitas Ibadah

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau

Dr. MIA AMIATI, SH. MH.

Ramadan sering kali menjadi pemompa semangat umat Islam untuk lebih giat beribadah. Mereka mengejar berbagai kebaikan dan berharap ampunan.

Dalam kaitannya dengan hikmah yang ada di bulan Ramadan, puasa yang menjadi kewajiban setiap individu merupakan wahana pembinaan mental.
Di dalamnya ada aktivitas melatih diri untuk senantiasa menjadi pribadi-pribadi yang taat, dalam melaksanakan segala hal yang menjadi perintah Allah, dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang menjadi larangan-Nya.

Tanpa kecuali, baik para aparat penegak hukum maupun jajaran ASN lainnya selaku unsur aparatur negara yang beragama Islam, di bulan Ramadan yang penuh rakhmat ini pada dasarnya akan memiliki karakteristik seorang muslim yang berlomba-lomba ke arah perbuatan-perbuatan yang baik seiring dengan bekal-bekal yang ia peroleh saat melaksanakan puasa yang dilakukannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Muslim sejati adalah yang memanfaatkan bulan Ramadan sebagai bulan ketika Allah mendidik hamba-hambanya untuk menjadi manusia yang berkualitas.

Oleh karena itu, pantang bagi seorang muslim menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berarti, sehingga diharapkan seluruh unsur aparatur negara dapat meningkatkan kualitas kinerjanya sebagai salah satu wujud kebaikan yang bernilai pahala dari Allah SWT.

Bagi seorang muslim yang taat, Ramadan adalah kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah, sehingga ia terlepas dari dosa-dosa yang pernah dilakukan, sehingga ia kembali pada fitrahnya yang suci dan bersih. Mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari, 37. Muslim, 1266).

Dengan demikian, jika substansi hadits di atas diaplikasikan dengan sungguh-sungguh oleh setiap individu muslim pada jajaran unsur aparatur negara, maka pada hakikatnya, ia sudah menemukan hikmah yang paling besar di balik Ramadan ini.

Pada surat al-Baqarah ayat ke 18, Allah dengan tegas menyatakan, bahwa inti dari puasa Ramadan adalah untuk membentuk umat Nabi Muhamamad SAW menjadi umat yang paripurna, yaitu umat yang mempunyai predikat takwa, sebagaimana disebutkan di dalam Surat Al-Thur ayat 17 :
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam surga dan kenikmatan”. (QS. al-Thur, 52:17).

Untuk itu jika Ramadan telah tiba, setiap unsur aparatur negara yang muslim harus menyambutnya dengan kegiatan-kegiatan positif seperti memperbanyak ibadah, melakukan aktivitas ilmiah, berdakwah dengan lisan atau tulisan, dan kegiatan-kegiatan lainnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing, sehingga pada saat keluar dari bulan suci tersebut, ia menjadi hamba-hamba Allah yang paripurna dengan predikat takwa yang disandang. Aamiin Yaa Robbal A’lamin.***

Comments

News Feed