oleh

Dibangun Tanpa Paku hingga Dianggap Keramat

KAMPAR (HR)- Masjid Jami’ adalah salah satu tempat wisata religi sekaligus cagar budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Kampar, Riau. Masjid bersejarah yang dibangun tanpa paku ini, terletak di Jalan Pasar Usang, Kelurahan Air Tiris, Kecamatan Kampar.

Berjarak sekitar 50 kilometer atau satu setengah jam perjalanan dari kota Pekanbaru. Masjid Jami’ ini selalu ramai dikunjungi. Terlebih lagi selama Ramadhan maupun sebelum Ramadhan. Banyak masyarakat yang datang dari berbagai daerah untuk berwisata religi ke masjid ini.

Pengunjung pun dapat beribadah sambil mengenal sejarah Masjid Jami’ tersebut. Tentu saja, masjid ini memiliki banyak sejarah dan uniknya dibangun tanpa paku, tapi hanya menggunakan pasak. Jika berkunjung ke Masjid Jami’, di situ ada seorang garim atau penjaga masjid bernama Amiruddin Khatib (56) atau akrab disapa Pak Udin.

Pak Udin ini cukup tahu tentang sejarah Masjid Jami’. Perpaduan budaya Melayu dan China Menurut sejarahnya, Masjid Jami’ dibangun pada 1901 Masehi. Kemudian selesai dibangun dan diresmikan pada 1904 Masehi. Artinya sekarang berusia 118 tahun.

Masjid ini masih berdiri kokoh. Arsitektur bangunan masjid ini menunjukkan adanya perpaduan budaya Melayu dan China, dengan atap tiga tingkat berbentuk limas. Seluruh bangunannya terbuat dari kayu, termasuk atapnya juga kayu. Tapi sekarang sudah diganti dengan atap seng. Setiap dinding masjid terdapat ukiran yang memiliki makna.

Berdasarkan cerita Pak Udin, sebelum Masjid Jami’ dibangun, lokasi dulunya Pasar Kenegerian Air Tiris yang berada di dekat Sungai Kampar yang berjarak sekitar 200 meter. “Pasar Kenegerian Air Tiris didirikan pada tahun 1881 Masehi. Jadi pasar di Kampar ini dulunya tetap di tepi sungai, karena belum ada jalan raya dan belum ada mobil. Angkutan saat itu perahu dan sampan-sampan besar,” kata Pak Udin memulai cerita seperti dikutip dari Kompas.com.

Dua puluh tahun setelah itu, lanjut dia, barulah dibangun Masjid Jami’ yang merupakan masjid tertua di Kabupaten Kampar. “Masjid ini dibangun 1901 M pada hari Jumat tanpa paku sebatang pun dan tanpa biaya satu sen pun. Pembangunan dikerjakan secara bergotong royong oleh masyarakat Kenegerian Air Tiris,” sebut Pak Udin.

Nama pendiri Masjid Jami’ adalah Datuok Ongku Mudo Songkal. Sedangkan Arsiteknya H Burhanuddin. Sehingga Datuok Ongku Mudo Songkal inilah yang mengajak tokoh-tokoh masyarakat, alim ulama cerdik pandai bermusyawarah untuk membuat masjid tersebut. Panitia pembangunannya disebut dengan ‘Ninik Mamak Nan Dua Belas’, yakni Ninik Mamak dari berbagai suku di kampung tersebut.

“Datuok Ongku Mudo Songkal itu melihat contoh masjid di Demak. Bukan pergi datuk itu ke sana ya. Tapi dipejamkan saja matanya, putuslah mahrifatnya. Jadi dibangun dengan atap tiga tingkat yang bervariasi,” tutur Pak Udin.

Selanjutnya, Datuok Ongku Mudo Songkal meminta masyarakat untuk mencari kayu ke hutan untuk dijadikan tiang. “Jadi masjid ini ada 40 tiang. Kenapa 40 tiang, karena dalam shalat Jumat jemaah minimal 40 orang,” ucap Pak Udin.

Setelah selesai dibangun, tambah dia, Masjid Jami’ diresmikan dengan menyembelih 10 ekor kerbau. Cerita mistis seputar tiang kayu Masjid Jami’ Di dalam Masjid Jami’ terdapat dua tiang kayu yang memiliki kisah misteri. Di mana kayu tersebut bisa menghilang sebelum ditebang masyarakat.

Masih menurut Udin, orang kampung saat itu pergilah ke hutan ambil kayu besar yang berusia ratusan tahun. Setelah didekati, kayu itu menghilang. Lantaran kayu itu menghilang secara misterius,masyarakat melaporkan ke Datuok Ongku Mudo Songkal. Lalu Datuok Ongku Mudo Songkal membaca ‘Subhanallah’. Keesokan harinya, datuk dan masyarakat datang ke lokasi kayu itu. Sampai di lokasi, datuk meminta seorang pemuda untuk adzan.

Setelah adzan, Datuok Ongku Mudo Songkal baca doa dan dua batang kayu yang hilang tadi muncul. “Jadi kekuatan adzan itu ada tiga. Yang pertama, apabila masuk waktu shalat boleh kita adzan. Kedua apabila benda-benda penting hilang dengan adzan juga lalu bisa timbul lagi. Ketiga apabila ada kebakaran besar-besaran dulu, itu mengumpulkan orang-orang dengan adzan,” kata Udin.

Dua tiang itu sekarang berada dibagian dalam masjid. Kedua tiang tersebut diukir dengan kalimat Basmalah. Masjid Jami’ yang dibangun pada masa penjajahan Belanda itu memiliki dua keistimewaan, yaitu keramat dan bertuah. Keramat adalah, dulu pernah disiram dengan minyak lalu dibakar oleh orang Belanda. Namun, setelah itu tidak ada tanda-tanda terbakar. “Setelah dibakar orang Belanda, tidak ada sedikitpun ada tanda kebakaran. Tidak ada yang hangus sama sekali,” ujar pria yang memiliki nama lengkap Amiruddin Khatib tersebut.

Kemudian Bertuah, di kawasan masjid sering kali dilanda banjir yang hampir menenggelamkan rumah warga. Sebab kawasan perkampungan dekat sungai. “Tahun 2016 pernah banjir parah. Warga mengungsi. Tapi anehnya air tidak bisa naik di kawasan masjid, sedangkan rumah warga di sekitarnya hampir tenggelam,” sebut Udin.

Di sebuah bak air dibagian timur Masjid Jami’ terdapat batu yang berbentuk kepala kerbau. Batu itu disebut keramat, karena bisa pindah dari bak satu ke bak air yang lainnya. Masih menurut Pak Udin, sejarah batu itu awalnya dari pembangunan Masjid Jami’. Saat itu warga bergotong royong mencari batu-batu besar sungai untuk tapak tiang masjid.

“Jadi warga kampung pergilah ke sungai mencari 40 buah batu sondi untuk bantalan tiang. Kemudian semua batu itu dipasang, tapi ada satu batu yang tidak bisa ditegakkan tiang diatasnya. Tiap ditaruh kayunya, batunya ngelak,” cerita Udin.

Melihat keanehan batu itu, warga melapor lagi ke Datuk Ongku Mudo Songkal. Setelah dilihat oleh datuk, kemudian meminta warga untuk mengasingkan batu tersebut. “Kata datuk batu itu nanti akan ada khasiatnya,” ucapnya.

Dulunya batu mirip kepala itu sering berpindah-pindah tempat tanpa diangkat oleh orang. Namun sejak beberapa tahun terakhir, batu tersebut hanya bisa berputar di dalam bak air saja. “Kalau dulu sering pindah-pindah. Bahkan ada masuk ke sumur, lalu kembali ke bak lagi. Tapi sekarang cuma berputar saja di dalam bak. Kadang bisa arah ke timur, barat, utara dan selatan. Kalau sekarang arah kiblat,” katanya.(rkc)

Comments

News Feed