oleh

90 Persen Operator Narkotika dari Lapas

Jakarta (HR)- Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Heru Winarko mengatakan mayoritas operator narkotika berasal dari jaringan lapas. Heru mengatakan butuh perbaikan sistem untuk mengatasi masalah ini.

“Lapas kita memang memprihatinkan. Saya bisa nyatakan lebih 90 persen operator dari lapas. Ini yang bangkitlah,” kata Heru dalam paparannya di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Selasa (14/5).

Heru mengatakan dalam pengawasannya hampir tidak ada lapas yang bersih dari jaringan narkoba. Selama ada napi yang merupakan bandar atau pengedar, rata-rata masih mengoperasikan bisnisnya meski berada di sel.

“Hampir semua yang ada napi narkobanya terutama bandar kalau pengawasan tidak kuat mereka masih mengoperasikan. Termasuk ya yang kemarin (Lapas Cirebon,red),” ujarnya.

Kerja sama semua pihak untuk menerapkan sistem yang bersih dari narkotika sangat dibutuhkan. Dia mengatakan BNN dan Ditjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM sudah berkoordinasi untuk memberantas jaringan lapas.

“Kami sudah perbaikan dengan sistem, lebih kurang kami dapat 200 kg yang dikendalikan oleh lapas di Cirebon. Ini juga menjadi atensi kita dengan Dirjen PAS, kita juga ada lapas fasilitas maksimum di Nusakambangan dan juga di Bali ini ada lapas khusus narkoba di daerah Bangli, supaya peredaran yang dioperatorkan ini bisa dikendalikan,” ucap Heru.

Dia juga menambahkan pentingnya rehabilitasi bagi para pengguna narkotika. Sebab, jika semua kasus narkotika dijebloskan bui menurutnya tidak akan menyelesaikan masalah.

“Bahwa 70 persen (napi) di lapas tadi adalah narkoba, dan dari narkoba itu 90 persen adalah pengguna, 10 persen pengedar dan bandar. Kalau pengguna ini tangkap masuk sel, lama-lama nggak masuk sekolah akhirnya jadi masalah sosial. Kalau misal anak-anak kumpul ketangkep polisi kita assesment, kalau misal ditangkap lalu dikeluarin itu adalah pengguna kita rehabilitasi,” tuturnya.

Usut Kerusuhan di Rutan Siak

Pascakerusuhan di Rutan Klas IIB Siak beberapa waktu, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Riau langsung membentuk tim khusus. Tim ini bertujuan untuk memastikan penyebab kerusuhan tersebut.

“Saya sudah bentuk tim pemeriksaan untuk kasus (Rutan) Siak. Tinggal menunggu momentumnya saja,” ujar Kepala Kanwil Kemenkunham Riau, M Diah, Selasa (14/5).
Momentum dimaksud adalah proses pengusutan yang dilakukan pihak kepolisian. Di mana, Kepolisian Resor (Polres) Siak telah memeriksa sejumlah pihak, baik tahanan maupun petugas Rutan Siak.

“Setelah itu kita akan lakukan pemeriksaan,” kata M Diah.

Tim ini, sebutnya, merupakan langkah yang dilakukan pihak internal untuk mencari tahu penyebab insiden yang mengakibatkan terbakarnya Rsiak pada Sabtu (11/5) dini hari kemarin. Tim khusus itu untuk mengetahui, apakah ada dugaan penyimpangan yang dilakukan petugas rutan atau tidak.

“Internal pasti kita lakukan pemeriksaan sesuai dengan aturan, ketentuan PP (Peraturan Pemerintah Nomor,red) 53. Kita lihat nanti mana pelanggaran yang mereka lakukan,” sebut dia.

“Pasti tidak akan saya biarkan. Bahkan saya mengatakan di sana, saya terbuka. Kalau ada penyimpangan SOP (Standar Operasional Prosedur, red) melakukan tindakan-tindakan di luar batas dan ketentuan, pasti saya kenakan tindakan-tindakan,” sambungnya menegaskan.

Adapun mekanisme yang akan dilakukan, dengan melakukan pemeriksaan, dan menuangkan di dalam Berita Acara Pemeriksaan. Lalu, ada Berita Acara Pendapat.
“Setelah itu tim akan melakukan evaluasi, apakah ini sudah memenuhi unsur aturan PP 53. Dikenakan disiplin, apakah disiplin tingkat ringan, sedang, atau berat,” imbuh M Diah seraya mengatakan jika tim tersebut melibatkan sejumlah unsur di Kanwil Kemenkunham Riau.

“Timnya kita bentuk melibatkan (sejumlah) divisi. Bagian unsur kepegawaian Kanwil, Divisi pemasyarakatan, dan Kantor Imigrasi Siak,” pungkas M Diah.

Enam Tahanan

Sementara, sebanyak 6 orang tahanan Rutan Klas IIB Siak masih berkeliaran dan belum kembali pasca kerusuhan di rutan tersebut belum lama ini. Itu menyusul ditangkapnya tiga orang tahanan di Siak pada Senin (13/5) kemarin.

“Tinggal 6 lagi (yang belum kembali),” ujar Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil Kemenkumham Riau, Sarung Pasaribu, Selasa (14/5).
Hal itu, sebut Sarung, diketahuinya dari laporan yang disampaikan Karutan Klas IIB Siak Gatot Suariyoko, berdasarkan informasi pihak kepolisian. Dimana sebelumnya, tersisa 9 warga binaan yang masih buron.

“Yang tiga ditangkap kemarin. Ditangkap di Siak, (karena). Saya dapat laporan dari Karutan Siak berdasarkan informasi Bapak Kasat Reskrim Polres Siak,” lanjut dia.
“Kerjasama kita luar biasa. Perhatian masyarakat sungguh luar biasa. Sambung dia.

Sarung yakin, enam tahanan yang masih berada di luar itu tidak akan berani melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, yang meresahkan masyarakat. Pasalnya, mereka sendiri saat ini juga diselimuti rasa ketakutan.

“Saya katakan, masyarakat jangan takut. Orang yang lari itu separoh rohnya sudah hilang, ketakutan,” yakin Sarung
Agar ‘roh’ itu kembali utuh, Sarung mengimbau agar keenam tahanan tersebut segera menyerahkan diri. “Makanya saya minta, yang 6 orang itu kembali lah ke jalan yang benar. Supaya rohnya utuh kembali,” pungkas Sarung Pasaribu.(dtc, dod)

Comments

News Feed