oleh

Pokja Kerap Terima Ancaman

PEKANBARU (HR)-Dari awal diketahui pemenang paket proyek peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih, Kabupaten Bengkalis sudah ditetapkan. Bahkan sejumlah ancaman pun ditebar agar hal itu bisa terwujud.

Seperti yang dilakukan Haji Icun yang diduga melakukan pengancaman terhadap Panitia Kelompok Kerja (Pokja) proyek tersebut. Dalam ancamannya, Haji Icun menyatakan bahwa proyek tersebut harus dimenangkan oleh PT Mawatindo Road Construction (MRC).

Demikian diungkapkan Adi Zulami kala memberikan kesaksian di persidangan dugaan korupsi proyek peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih, Kabupaten Bengkalis. Sidang itu digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, pekan kemarin.

Pada proyek itu, Adi Zulami adalah Sekretaris Pokja. Kesaksian dia untuk terdakwa mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Dumai M Nasir. Dimana saat proyek itu dikerjakan dia menjabat Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bengkalis. Selain dia, duduk di kursi pesakitan adalah Hobby Siregar, Direktur Utama (Dirut) PT MRC.
“Ada saya diancam dan dapat tekanan dari Haji Icun. Dia ini preman kontraktornya lah di sana (Bengkalis, red). Dia ini seperti koordinator dalam 6 paket proyek multiyears,” ujar Adi Zulami di hadapan majelis hakim yang diketuai Saut Maruli Tua Pasaribu.

Dikatakannya, ancaman itu diterimanya saat melakukan pertemuan di Hotel Grand Hawaii, Pekanbaru. Saat itu, sebut Adi, Haji Icun mengatakan bahwa Pokja jangan macam-macam dalam proyek tersebut.

“Saat itu dia (Haji Icun,red) membawa tas yang diletakkannya di atas meja. Yang saya kira saat itu, di dalamnya ada pistol,” sebut Adi.

“Dia mengatakan kepada saya supaya (PT) MRC harus menang mengerjakan proyek itu. Padahal, MRC sebenarnya tidak lulus saat itu. MRC syaratnya kemarin itu tidak lengkap. Seharusnya kalau tidak lengkap itu, ya gugur,” sambung dia.

Syarifuddin yang merupakan Ketua Pokja proyek tersebut juga memberikan keterangan yang sama. Dia mengatakan, bahwa dirinya juga mendapat tekanan dan ancaman dari Haji Icun.

“Saat itu saya mengatakan bahwa PT MRC tidak bisa lulus karena berbagai syarat dan lainnya tidak lengkap. Saat itu Haji Icun mengatakan kepada saya bahwa MRC harus menang. Ya, intinya saat itu saya ditekan sama H Icun ini, supaya MRC harus mendapatkan proyek itu,” sebut Syarifuddin yang juga bersaksi dalam persidangan tersebut.

Ditambahkannya, dalam memilih pihak rekanan yang akan mengerjakan proyek peningkatan jalan tersebut, Syarifuddin mengaku bahwa pemenang paket tersebut, sudah diarahkan.

“Jadi pemenang paket peningkatan jalan ini, memang sudah diarahkan. Pemenangnya harus MRC. Seharusnya MRC ini tidak layak menang,” imbuh Syarifuddin.
Selain dua nama yang disebutkan di atas, Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menghadirkan dua orang saksi lainnya dari Panitia Pokja. Mereka adalah Rojali dan Hadi Prasetyo. Nama yang disebutkan terakhir diketahui saat ini menjabat Kepala Dinas PUPR Bengkalis.

Untuk diketahui, M Nasir dan Hobby Siregar diduga secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dalam proyek peningkatan Jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih sepanjang 51 kilometer dan lebar 6 meter.

Saat dugaan korupsi ini berlangsung, M Nasir merupakan Kepala PU Bengkalis. Sementara PT MRC merupakan pihak rekanan yang mengerjakan proyek tersebut.
Dalam dakwaan JPU KPK, terdakwa M Nasir telah memperkaya diri sendiri sebesar Rp2 miliar. Sedangkan terdakwa Hobby Siregar, disebut telah memperkaya diri atau perusahaannya sebesar sebesar Rp40.876.991.970,63.

Akibat perbuatan kedua terdakwa, negara ditaksir menderita kerugian hingga Rp80 miliar dari anggaran yang disebut menelan sekitar Rp495 miliar.
Keduanya disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.(dod)

Comments

News Feed