oleh

Sidang Korupsi Peningkatan Jalan di Bengkalis, Terima Rp60,5 M, Makmur Ngaku Belikan 17 Unit Mobil

PEKANBARU (HR)- Makmur alias Aan mengaku pernah menerima uang sebesar Rp60,5 miliar. Uang tersebut salah satunya terkait proyek multiyears di Kabupaten Bengkalis, dan digunakan untuk membeli 17 mobil. Seperti Mitsubishi Pajero, dam truk, truk air dan lain-lainnya.

Itu disampaikan Direktur PT Mitra Bungo Abadi (MBA) itu kala menjadi saksi di persidangan dugaan korupsi proyek peningkatan jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih di Kabupaten Bengkalis. Sidang itu digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Rabu (26/6).

Duduk di kursi pesakitan dalam perkara itu adalah M Nasir. Kala itu, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Dumai itu menjabat selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bengkalis. Satu terdakwa lagi adalah Hobby Siregar, Direktur PT Mawatindo Road Construction (MRC), yang merupakan pihak kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut.

Dalam persidangan itu, terungkap peran Aan dalam proyek tersebut. Perusahaannya, kata Aan, adalah subkontraktor bagi PT MRC. “Saya dalam proyek itu menjadi subkon (subkontraktor,red) PT MRC sejak Januari 2014. Pekerjaannya pengerasan (jalan) sepanjang 12 kilometer, dengan upah Rp14 miliar oleh PT MRC,” ujar Aan di hadapan majelis hakim yang diketuai Saut Maruli Tua Pasaribu itu.

Meski begitu, Aan mengaku uang tersebut belum sepenuhnya dibayarkan oleh PT MRC. Menurut dia, uang tersebut tidak hanya untuk berasal dari proyek di Bengkalis, melainkan juga berasal dari proyek di daerah lain. “Tapi itu belum lunas dibayarkan, PT MRC masih ada utang sebanyak Rp10 miliar. Itu gabungan sama proyek yang di luar Bengkalis, seperti di Muaro Bungo, Jambi,” sebut dia.

Dalam keterangannya, Aan mengaku pernah menerima uang sebanyak Rp60,5 miliar dalam bentuk cek Bank Jawa Timur (Jatim) dengan stempel PT MRC. Uang itu diketahui dicairkan oleh Juliana yang tak lain adalah istri dari Aan. Selanjutnya, uang tersebut dipergunakan untuk membeli sebuah apartemen di Singapura. Kendati demikian, itu dibantahnya. Menurutnya, uang pembelian apartemen itu berasal dari hasil penjualan rumah miliknya.

Sementara, sebagian uang dari fee proyek di Bengkalis itu dipergunakan untuk membeli 17 unit mobil. Seperti, Mitsubishi Pajero, dump truck, truk air, dan lain-lainnya. “Nilainya (uang pembelian kendaraan,red) Rp6 miliar. Itu untuk pekerjaan di sana (Bengkalis,red),” lanjutnya.

Mendengar kesaksian Aan, JPU KPK tampak kesal. Pasalnya beberapa keterangan yang disampaikannya dalam persidangan tersebut, jauh berbeda dengan keterangan saksi-saksi lainnya yang sudah dihadirkan ke persidangan. “Anda sudah disumpah, ya. Keterangan ada ini berbeda dengan saksi-saksi yang sudah dihadirkan (seperti Ribut Susanto dan Ibrahim Ismail),” terang JPU KPK. “Status anda apa sekarang dalam perkara ini,” tanya JPU KPK. “Tersangka,” singkat Aan.

Aan diketahui berperan besar dalam pengurusan PT MRC sebagai pemenang lelang dalam proyek tersebut. Oleh majelis hakim persidangan tersebut, Makmur disebut sebagai ‘agen dunia’. Yang mana, dalam proyek yang nilainya sebesar Rp528.073.384,48, Makmur mendapatkan uang sebanyak Rp60.500.000.000. Dalam persidangan sebelumnya, JPU KPK menghadirkan Juliana. Ibu Rumah Tangga (IRT) yang kini tinggal di Singapura itu, merupakan istri Aan.

Dalam pengakuannya, Juliana pernah disuruh oleh Aan untuk memindahkan uang dalam bentuk cek ke rekening atas nama PT MRC pada tahun 2014. Adapun jumlahnya yakni Rp60.500.000.000. Berdasarkan isi dakwaan JPU KPK, Aan disebut telah memperkaya diri sendiri, dengan jumlah Rp60.500.000.000.

Diketahui, penetapan Makmur alias Aan sebagai tersangka berdasarkan pengembangan perkara yang menjerat dua terdakwa tersebut. Penetapan tersangka itu dilakukan penyidik lembaga antirasuah itu pada 15 Mei 2019 lalu. Tak hanya Makmur, pada hari itu juga ada penetapan Bupati Bengkalis Amril Mukminin sebagai pesakitan. Nama yang disebutkan terakhir diduga menerima suap sebesar Rp5,6 miliar, baik sebelum maupun setelah menjabat sebagai bupati. Uang itu terkait dengan proyek peningkatan jalan Duri-Sei Pakning tahun 2017-2019.

Kembali ke perkara proyek peningkatan jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih di Kabupaten Bengkalis, M Nasir dan Hobby Siregar diduga secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Akibat perbuatan kedua terdakwa, keuangan negara ditaksir menderita kerugian hingga Rp80 miliar dari anggaran yang disebut menelan sekitar Rp495 miliar. Keduanya disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.(dod)

Comments

News Feed