oleh

Pembangunan Jembatan di Desa Naga Beralih Mangkrak

BANGKINANG (HR)-Warga Desa Naga Beralih keluhkan terbengkalainya pembangunan jembatan yang terletak di Dusun II Desa Naga Beralih, Kecamatan Kampar Utara, Kampar.

“Pasalnya jembatan yang sempat dibangun menggunakan Dana Desa (DD) tahap II Tahun 2017 terhenti dan tidak dikerjakan lagi,” ujar salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya, Selasa (9/7).

“34 hektare luas lahan ladang kami di situ, namun jembatan tidak ada. Kemarin jembatan ini sudah sempat dikerjakan, tapi tiba-iba pengerjaannya dihentikan. Kami tidak tahu penyebabnya apa, entah dimana salahnya,” sambung dia.

Menurut dia, keberadaan infrastruktur berupa jembatan itu sangat penting untuk mempermudah mengangkut hasil panen masyarakat. Selain terdapat sawah, kata dia, di sana juga terdapat warga yang memiliki kebun karet dan sawit.

“Sekarang untuk mengangkut hasil panen, padi, sawit, karet, pupuk dan peralatan lainnya, kami harus melewati jembatan bambu yang kami buat sendiri, itu pun kami sering jatuh karena lantainya hanya dua batang bambu di atas dan dua di bawah. Sekali sebulan kami gotong royong untuk memperbaikinya,” sebutnya.

Dikonfirmasi hal ini, Razali selaku Kepala Desa Naga Beralih mengakui mangkraknya pembangunan jembatan tersebut. Dikatakannya, pembangunan jembatan bitu menggunakan Dana Desa tahun 2017, saat dirinya belum menjabat selaku kepada desa di sana.

“Saya dilantik tanggal 28 Desember (2017), sedangkan Dana Desa yang digunakan untuk pembangunan jembatan ini cair sekitar tanggal 25 (Desember) kalau tidak salah. Beberapa hari sebelum saya dilantik Dana Desa itu cair,” kata Razali.

Mengingat mepetnya waktu pelaksanaan, dirinya mengatakan pernah mendatangi Penjabat (Pj) Kades Syafii, dan menyarankan agar tidak mengerjakan jembatan tersebut.

“Saya katakan kepada dia (Syafii,red), tidak mungkin Abang bisa mengerjakan jembatan ini dalam waktu 2 hari. Saat itu dia mengiyakan bahwa akan mengembalikan anggaran itu,” ujar Razali.

Namun ternyata Syafii tetap mengerjakannya, dan menyerahkan pelaksanaan pembangunan kepada pemborong atau pihak ketiga. Syafii, sebut dia, juga menyerahkan uang ke pemborong tanta ada bukti serah terima.

” Tahu-tahunya dalam perjalanan pembangunan jembatan ini, pengerjaannya tidak selesai dan uangnya habis,” kata Razali.

Masih dikatakannya, Inspektorat Kampar telah melakukan pemeriksaan, dan diketahui bobot pekerjaan baru mencapai 20 persen dari anggaran Rp136 juta. Artinya, ada temuan sekitar Rp118 juta.

“Namun sampai saat ini belum ada uang yang dikembalikan ke rekening Desa,” imbuh dia.

Terkait hal ini telah disampaikan ke Syafii agar uang tersebut dikembalikan. “Kita surati, tapi dia bilang iya iya saja. Sampai saat ini belum juga dikembalikan,” kata dia lagi.

Dalam kesempatan itu dia berharap, pembangunan jembatan itu bisa dilanjutkan kembali, dan itu telah dimasukkan dalam RPJM Desa. “Ada rencana kita untuk melanjutkan pembangunannya, tapi dengan syarat kita harus menerima pengembalian uang tersebut,” tandasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Syafii belum memberikan keterangan. Nomor seluler yang biasa dipakainya, tidak aktif.(mri/dod)

Comments

News Feed