oleh

Korupsi Dana Hibah Penelitian di UIR, Nama CV Giovani Dipakai

PEKANBARU (HR)- Kejaksaan Tinggi Riau melakukan pemeriksaan terhadap Yuliana, Direktur CV Giovani. Perusahaan tersebut bergerak dalam pengadaan makan dan minum dalam kegiatan penelitian di Universitas Islam Riau tahun 2011-2012 lalu.

Pemeriksaan Yuliana itu untuk melengkapi berkas perkara Abdullah Sulaiman. Mantan Pembantu Rektor (PR) IV perguruan tinggi swasta tersebut ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang disidik Korps Adhyaksa Riau itu.

Saat dikonfirmasi, Yuliana membenarkan hal tersebut. Dikatakannya, dia diperiksa oleh penyidik pada Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Riau. “Iya, sebagai saksi,” ujar wanita berhijab usai menjalani proses pemeriksaan.

Dikatakannya, dia adalah Direktur CV Giovani. Menurut dia, nama perusahaannya itu dicatut oleh pihak tertentu sebagai pihak yang menyediakan makan dan minum dalam kegiatan yang ditaja UIR. “Perusahaan saya yang namanya dipakai (pihak tertentu),” imbuh Yuliana. Kendati begitu, dia tidak ada menyebutkan nama pihak tertentu yang dimaksud.

Penanganan perkara itu merupakan kelanjutan dari perkara yang pernah disidik Kejati Riau pada tahun 2015 lalu. Saat itu, dua orang mantan dosen UIR telah ditetapkan sebagai tersangka dan dihadapkan ke persidangan. Dua pesakitan itu adalah Emrizal selaku Bendahara Penelitian, dan Said Fhazli selaku Sekretaris Panitia yang juga menjabat Direktur CV Global Energy Enterprise (GEE). Keduanya dinyatakan bersalah dalam perkara tersebut dan divonis masing-masing 4 tahun penjara.

Saat itu, Yuliana juga pernah diperiksa sebagai saksi untuk pesakitan Emrizal dan Said Fhazli. “Di persidangan saya juga sebagai saksi,” pungkas Yuliana. Selain Yuliana, pada Selasa ini juga dilakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi lainnya. Yaitu, Zul Effendi selaku tenaga ahli dalam kegiatan tersebut, Tengku Edianto dan Mazwan. Dua nama yang disebutkan terakhir diketahui merupakan pegawai di UIR. “Pemeriksaan para saksi untuk melengkapi berkas perkara tersangka AS (Abdullah Sulaiman,red),” singkat Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Kejati Riau, Muspidauan, saat dikonfirmasi terpisah.

Sebelumnya, proses pemeriksaan dilakukan terhadap Endang Fahrulrozi. Dia merupakan pihak swasta penyedia transportasi dalam kegiatan penelitian. Sementara itu, saat proses penyelidikan lanjutan ini, sebanyak 12 orang telah diundang untuk diklarifikasi. Di antaranya, mantan Wali Kota Dumai, Wan Syamsir Yus, yang saat itu menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau.

Berikutnya, Taufik, mantan Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha (TU) di Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Riau, dan mantan Pembantu Rektor (PR) IV UIR, Abdullah Sulaiman. Juga, mantan Rektor UIR Detry Karya, dan dua orang terpidana, Emrizal dan Said Fhazli. Setelah meyakini adanya peristiwa pidana dalam perkara itu, Kejati Riau kemudian melakukan gelar perkara. Itu dilakukan pada Rabu (26/6) kemarin. Hasilnya, perkara ditingkatkan ke tahap penyidikan, dan menetapkan Abdullah Sulaiman sebagai tersangka dalam perkara itu.

Penetapan Abdullah Sulaiman sebagai tersangka bukan hal yang mengejutkan. Pada persidangan terhadap dua pesakitan sebelumnya, pernah terungkap peran dia dalam perkara rasuah tersebut.Salah satunya, Abdullah Sulaiman pernah memalsukan tanda tangan Zulhayati Lubis alias Atiek selaku General Manager (GM) Hotel Pangeran Pekanbaru dalam Kwitansi Nomor Kas 1 April 2012 senilai Rp16.585.000.

Atas hal itu, Abdullah Sulaiman mengakuinya dan menyampaikan permintaan maaf yang tertuang dalam Surat Pernyataan yang diteken Abdullah Sulaiman, tertanggal 29 November 2013. Munculnya nama Hotel Pangeran dalam perkara itu bermula dari perjanjian antara pihak Panitia Penelitian UIR dengan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Dalam kontrak pertama, dinyatakan kalau pihak Hotel Pangeran akan menyiapkan kamar dan sejumlah akomodasi lainnya untuk keperluan penelian senilai, selama 2 hari dan menginap selama 3 malam senilai Rp16.585.000.

Beberapa hari berselang, Abdullah Sulaiman selaku Ketua Tim Penelitian mendatangani Sales Manager Hotel Pangeran, Lidya. Saat itu, Abdullah Sulaiman menyatakan adanya revisi kegiatan, dimana acaranya yang akan digelar itu, hanya satu hari dan menginap selama tiga malam. Dari kontrak pertama dengan revisi perjanjian terdapat selisih biaya sekitar Rp4 jutaan.

Belakangan diketahui, kalau Abdullah Sulaiman tetap memasukkan angka Rp16.585.000 di dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan, dengan bukti kwitansi yang tandatangan Atiek Lubis telah dipalsukannya. Korupsi bantuan dana hibah tahun 2011 hingga 2012, terjadi ketika pihak UIR mengadakan penilitian bersama Institut Alam dan Tamandun Melayu, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Lantaran tidak memiliki dana, UIR kemudian mengajukan bantuan dana ke Pemprov Riau dan mendapat dana Rp2,8 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Riau Tahun 2011-2012.

Penelitian itu dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Dalam laporannya, terjadi penyimpangan bantuan dana tersebut. Ditemukan beberapa item penelitian yang sengaja di-mark up. Kedua terdakwa, Emrizal dan Said Fhazli, membuat laporan dan buktipertanggungjawaban fiktif atas kegiatan yang direncanakan. Emrizal mencairkan anggaran dan meminta terdakwa Said Fhazli membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan dengan mencari bukti-bukti penggunaan kegiatan, seolah-olah kegiatan telah dilaksanakan. Hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Riau ditemukan kerugian negara Rp1,5 miliar.(dod)

Comments

News Feed