oleh

Atlet Panjat Tebing UIN Suska Riau Keluhkan Minimnya Sarana Latihan di Kampus

PEKANBARU (HR)-Atlet panjat tebing Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau mengeluhkan minimnya fasilitas dan sarana latihan. Padahal mereka kerap menorehkan prestasi di sejumlah kejuaraan yang diikuti, salah satunya di Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN).

Selama empat kali gelaran PIONIR PTAIN se-Indonesia, atlet panjat tebing selalu mempersembahkan medali emas untuk kontingen UIN Suska.

Pada PIONIR VI di IAIN Sulthan Maulana Hasanuddin Serang tahun 2013, atlet atas nama Samsul Hadi dan Wendi Rusdianto berhasil mempersembahkan medali emas dan perak di kategori speed klasik putra. Samsul Hadi kembali mempersembahkan medali emas satu-satunya untuk kontingen UIN Suska pada PIONIR VII di IAIN Palu.

Sementara itu, pada PIONIR VIII di UIN Ar-Araniri Aceh, Ahmad Solehudin kembali menjaga tradisi emas untuk UIN Suska di kategori lead putra. Prestasi itu dipertahankannya pada PIONIR IX tahun 2019 di UIN Malang.

Dengan prestasi-prestasi itu, tidak serta merta membuat pihak kampus memperhatikan cabang olahraga (cabor) panjat tebing tersebut. Para atlet sedih karena mereka tidak memiliki sarana yang mendukung untuk berlatih di kampus.

“Padahal kami sering mengajukan proposal untuk pembangunan sarana panjat tebing di kampus UIN Suska. Namun hingga kini, hal itu belum juga terealisasi,” ujar Syamsul Hadi kepada haluanriau.co, Jumat (19/7).

Terpisah, Wendi Rusdianto, atlet panjat tebing UIN Suska riau yang pernah mempersembahkan medali perak pada PIONIR VI Banten juga menyampaikan hal senada. Dikatakannya, dia juga pernah berjuang untuk meminta pada pihak kampus untuk pembangunan sarana panjat tebing.

“Padahal, jika ada sarana dan fasilitas untuk berlatih, tentu akan banyak lagi muncul atlet yang bisa menorehkan prestasi,” kata Wendi.

“Mereka akan membuat harum nama UIN Suska,” sambung dia menutup.(dod)

Comments

News Feed