oleh

Inhil dan Siak ‘Sumbang’ Titik Api

PEKANBARU (HR)- Awal pekan hotspot (titik panas) masih marak di Riau. Menurut Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, sebanyak 33 hotspot tersebar di 5 wilayah di Riau.

“Titik panas memang masih terpantau di Riau. Terbanyak itu di Indragiri Hilir,” ujar Kasi Data dan Informasi BMKG stasiun Pekanbaru, Marzuki, Senin (5/8).

Ia merincikan 33 titik panas tersebar di Indragiri Hilir 14 titik, Siak 10 titik, Meranti 5 titik, Indragiri Hulu 2 titik, dan Rokan Hilir 2 titik. “Dari jumlah tersebut, 19 titik diantaranya dipastikan adalah kebakaran hutan dan lahan. Karena memiliki level konfidence di atas 70 persen, itu artinya 19 titik dipastikam adalah titik api,” cakapnya.

Dirincikan Marzuki, 19 titik itu berada di Meranti 2 titik, Rokan Hilir 2 titik, Indragiri Hulu 1 titik, Siak 6 titik dan Indragiri Hilir 8 titik. “Kita imbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang memacu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.

Makin Pekat
Kebakaran hutan dan lahan sampai saat ini masih terjadi di beberapa wilayah di provinsi Riau. Akibatnya, sejumlah daerah diselimuti kabut asap, bahkan semakin pekat terlihat.

Di Pekanbaru, langit tampak putih karena diselimuti asap. Bau sangat menyengat terasa menusuk hidung. Belum lagi mata terasa perih jika lama-lama di luar ruangan. Berdasarkan Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, hari ini kabut asap di Pekanbaru memang semakin parah dan pekat. “Hari ini jarak pandang di Pekanbaru hanya 1,5 kilometer. Jauh menurun dibandingkan hari sebelumnya,” ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru, Marzuki. “Asap yang menyelimuti Pekanbaru adalah kiriman dari Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir,” imbuhnya.

Lanjut Marzuki, untuk kabut asap tak hanya menyelimuti Pekanbaru. Dumai juga diselimuti kabut asap. “Untuk jarak pandang di Dumai juga terbatas yakni hanya 3 kilometer,” Cakapnya.

Sementara itu, di Pelalawan dan Inhu jarak pandang memang terpantau terbatas namun bukan disebabkan oleh kabut asap tapi hanya udara kabur. Jarak pandang untuk 2 wilayah tersebut 4 Kilometer. “Udara kabur terjadi akibat adanya partikel-partikel yang menghalangi udara, sehingga terjadilah kabur. Kalau udara kabur ini memang hanya sebentar saja. Jika matahari tinggi udara pasti akan normal kembali. Namun kita akan terus lakukan pemantauan,” pungkasnya.(ckp)

Comments

News Feed