oleh

Jaafar Hanya Divonis 16 Bulan Penjara

PEKANBARU (HR)-Dituntut dua tahun penjara, Jaafar Arif hanya divonis 16 bulan penjara. Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bengkalis itu dinyatakan bersalah melakukan penyimpangan dana operasional Kapal Motor Penumpang (KMP) Tasik Gemilang GT 776.

Sementara seorang terdakwa lainnya, Yahdi Andriadi yang merupakan Kepala Cabang (Kacab) PT Gemalindo Shipping Batam (GSB) itu dihukum lebih tinggi, yakni 4 tahun penjara.

Demikian terungkap di persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Senin (2/9). Adapun agenda persidangan adalah pembacaan amar putusan oleh majelis hakim yang diketuai Asep Koswara.

Dalam putusannya, majelis hakim menyatakan perbuatan kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 3 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Jaafar Arief dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 4 bulan. Terdakwa juga dibebankan membayar denda sebesar Rp50 juta subsidair 3 bulan kurungan,” ujar Hakim Ketua dalam putusannya.

Sementara untuk terdakwa Yahdi, hakim menjatuhkan vonis selama 4 tahun penjara. Dia juga dibebankan untuk membayar denda sebesar Rp200 juta atau subsidair 6 bulan penjara.

“Terdakwa Yahdi juga diwajibkan untuk membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp1.294.560.960. Jika tidak membayarnya setelah putusan inkrah, maka harta benda milik terdakwa dirampas untuk negara. Dan jika harta benda terdakwa tidak mencukupi, maka diganti dengan pidana penjara selama 2 tahun,” lanjut Hakim Ketua.

Atas vonis itu, kedua terdakwa maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis, menyatakan pikir-pikir selama 7 hari. Waktu itu akan dipergunakan untuk menentukan sikap, menerima atau menolak putusan tersebut.

Sebelumnya, terdakwa Jaafar dituntut pidana penjara selama 2 tahun, denda Rp50 juta subsidair 4 bulan kurungan. Sedangkan Yahdi dituntut 4,5 tahun penjara, denda Rp200 juta subsidair 8 bulan kurungan. JPU juga mewajibkan terdakwa Yahdi untuk membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp1.294.569.960 subsidair selama 2 tahun dan 3 bulan.

Dalam dakwaan Jaksa dinyatakan, perbuatan kedua terdakwa bermula pada tahun 2003, saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis membeli KMP Tasik Gemilang GT 776. Tahun 2006 Pemkab Bengkalis melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bengkalis mengelola operasional KMP Tasik Gemilang GT 776.

Pengelolaan itu meliputi biaya bahan bakar minyak, gaji karyawan, biaya pemeliharaan (docking), dan biaya ke pelabuhan untuk mengangkut penumpang dan kendaraan yang melintasi pada jalur Air Putih-Sungai Selari dengan menggunakan APBD Kabupaten Bengkalis. Namun pengelolaan berhenti pada tahun 2009.

Januari 2012, Jaafar Arif yang menjabat Kepala Bidang Perhubungan Darat Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bengkalis, melakukan kesepakatan bersama Asmaran Hasan (almarhum) selaku Sekretaris Daerah (Sekda) Bengkalis dan Yahdi Andriadi. Pengelolaan KMP Tasik Gemilang GT 776 pada jalur Air Putih-Sungai Selari akan diberikan kepada terdakwa Yahdi Andriadi .

Tanpa adanya persetujuan Kepala Dinas Perhubungan, dan Informatika Kabupaten Bengkalis maupun Bupati Kabupaten Bengkalis selaku Kuasa Pengelola Aset Daerah, Jaafar Arif bertemu dan membahas rencana pengopersionalan KMP Tasik Gemilang GT 776 dengan Yahdi Andriadi .

Kedua terdakwa mencari perusahaan yang bergerak di bidang perkapalan dan kemudian meminjam perusahaan tersebut untuk kepentingan penawaran. Yahdi Android menemui Aliaman Siregar, Kepala Cabang PT Sufie Bahari Lines Cabang Pekanbaru dan meminjam perusahaan tersebut.

Perusahaan itu diwakili oleh Yahdi Andriadi selaku Pengelola KMP Tasik Gemilang. Di dalam nota dinas yang diterbitkan terdakwa Jaafar Arif disebutkan, perusahaan tersebut dapat menguntungkan daerah.

Namun dalam pengelolaannya, terjadi penyimpangan. Akibat perbuatan mantan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bengkalis periode 2013 hingga 2017 itu telah memperkaya terdakwa Yahdi Andriandi sebesar Rp1.294.569.960.(Dod)

Comments

News Feed