in ,

Bapak Tua Renta Tidur di Dalam Pondok Reyot Pinggir Jalan Hangtuah

Selama Setahun

Sudah setahun, bapak tua renta tidur dalam gubuk reot..jpg

PEKANBARU (HR)- Terbiar merana tanpa sanak saudara, itulah yang dialami pria tua asal Pulau Nias, yang sudah mendiami pondok reyot selama setahun lebih di pinggir Jalan Hangtuah, Kelurahan, Sukamulya, Kecamatan Sail.

Tak banyak yang bisa dia perbuat, selain mencabuti paku dari kayu-kayu terbuang, sembari memilih barang bekas yang dia peroleh dari pinggir-pinggir Sungai Sail, tak jauh dari pondok tempat tinggalnya. Hasilnya, untuk dijual memenuhi kehidupan sehari-hari. Tak satupun warga sekitar yang mengetahui siapa nama dari bapak tersebut. Sebab ia tak bisa berkomunikasi dengan baik, entah karena bisu atau tak bisa memahami apa yang disampaikan kepadanya.

“Namanya saya tak tahu, bapak itu susah diajak berkomunikasi. Sudah lama dia tinggal di pondok itu., usianya kalau tak salah sekitar 67 tahun. Dulu pernah tinggal di samping toko bangunan kita, tapi tak lama, cuma seminggu. Dia tak mengganggu, sekarang dia bikin pondok dari bahan seadanya, di situlah dia tinggal,” kata Zali, anak pemilik Toko Bangunan M Ali Akbar, yang membuka usaha tak jauh dari pondok reyot si bapak tua.

Zali, mengatakan, dulu, sebelum pondok dia bangun, si bapak menjadikan alat berat yang berada di area tanah kosong milik PT Jondul, sebagai tempat tinggalnya. “Sebelum dia buat pondok, di atas alat berat itu dia tinggal. Pakai terpal, kasihan kita, dulu kalau mau minum si bapak minta ke sini. Sekarang tidak lagi, ia masak sendiri dengan periuk memakai kayu api,” jelas Zali.

Penjelasan yang disampaikan Zali, sama, dengan yang disampaikan sejumlah warga lain tentang kehidupan si bapak tua itu. Saat Haluan Riau, menyambangi pondok, terlihat si bapak sibuk memilah barang bekas. Dia berusaha menyampaikan keluhan, meski tak banyak yang bisa dipahami. Ia hanya memegang perut, membuktikan bahwa dirinya saat itu sedang kelaparan.

Kondisi pondok yang ia tempati, jauh dari kata layak untuk dijadikan tempat tinggal. Selain kecil berukuran sekitar 2X3,dengan tinggi sekitar 1 meter lebih. Semua material pondok juga dibuat dari bahan bekas. Bagian dinding, dibuat memakai triplek bekas dipenuhi sisa semen yang sudah mengeras.

Untuk atap, si bapak membuatnya dari triplek dilapisi spanduk yang ditimpa kayu dan selang air bekas, agar tak tertiup angin. Sedangkan untuk pintu, terbuat dari triplek berukuran lebar yang diikatkan ke bagian dinding. Beranjak ke dalam pondok, terlihat beberapa barang bekas, berikut peralatan tukang seperti linggis, gergaji dan martil, tergeletak di ruang kecil yang dia jadikan sebagai tempat memasak.

Berbeda dengan yang dimiliki kebanyakan orang, di tempat tidur si bapak hanya terlihat spanduk lebar ditambah plastik yang biasanya dijadikan orang sebagai alas meja. Tak ada satupun bantal atau kasur terlihat di ruangan yang hanya memiliki tinggi sekitar 1 meter lebih itu. Tak ada kamar mandi, membuat si bapak harus menyusuri sungai yang tepat berada di belakang pondok miliknya, untuk mendinginkan badan usai melakukan kegiatan sehari-harinya

Kondisi tersebut sangat menyita perhatian warga pengendara yang melewati Jalan Hangtuah. Tak sedikitpula yang memiliki hati nurani, sengaja singgah mengantarkan nasi dan peralatan lain yang dirasa sangat dibutuhkan si bapak. Ketua RT V, RW VII, Edwar, mengaku, sudah menyampaikan persoalan si bapak tua ke pihak Kelurahan Sukamulya. Namun seiiring waktu berjalan, hingga saat ini belum terlihat tindakan nyata yang diperbuat.

“Sebagai RT, saya sudah laporkan masalah bapak itu ke pihak kelurahan. Kayaknya sudah didata juga. Dia selalu datang warung saya, minta makan dan minum,” kata Edwar, Minggu (14/4).

Bahkan, kata Edwar, untuk membalas kebaikan yang dia berikan, si bapak sering membantu dirinya membersihkan warung makan yang dia buka di pinggir Jalan Hangtuah. “Dia sering bersihkan kedai saya,” aku Edwar.

Ketua Lembaga Bantuan Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR) Rosmaini, mengatakan, akan meninjau langsung kondisi tersebut. “Selasa, (16/4), kami survei Bang, melihat langsung kondisi si bapak itu,” katanya. Kepala Dinas Sosial Kota Pekanbaru, Khairani, belum memberikan komentar apa-apa, saat Haluan Riau, mengkonfirmasikan persoalan, berikut mengirimkan poto-poto kondisi tempat tingggal si bapak kepadanya melalu pesan Whats App miliknya.

Camat Sail, Fiora Helmi, mengatakan, akan melihat kondisi si bapak pada Jumat,(29/4). “Jum’at pagi, Insyaallah, kita sambangi pak melalui program Jum’at Barokah. Tiga Pilar Kebangsaan (Camat Kapolsek & Danramil Kapuskesmas),” singkat dia.(her)

Comments

Bea Cukai Pekanbaru Sita 120 Ribu Batang Rokok Luffman Ilegal

Unilak Wisuda 768 Lulusan