oleh

MUI: Aparat Harus Turun Tangan

JAKARTA (HR)– Majelis Ulama Indonesia mengimbau aparat penegak hukum turun tangan menangani fitnah di media sosial yang menimpa mubaligh Ustaz Abdul Somad (UAS).

Hal itu mencegah kemarahan dari pendukung dan pengikut jamaah Ustad Somad. “Kalau aparat penegak hukum tak turun, maka masyarakat yang turun,” kata Sekertaris Jenderal (Sekjen) MUI, Senin (15/4).

Sebab, dia mengatakan masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah, yakni tanpa hakim, hukum, penuntut, dan pengadilan. Hal itu tentu lebih berbahaya bagi pelaku fitnah dan hoaks. “Saya mengimbau aparat penegak hukum menghentikan fitnah-fitnah ini,” ujar dia.

Salah satu pimpinan di PP Muhammadiyah itu mengingatkan, fitnah itu ashaddu minal qhat atau lebih kejam, sadis, jahat dari pembunuhan. Agama Islam melarang perbuatan fitnah, karena dosanya sangat besar. Anwar mengimbau masyarakat menjauhkan kehidupan politik dan sehari-hari dari fitnah. Dia mengatakan membuat fitnah masuk salah satu akhlak mazmumah atau tercela. “Kita sangat menyesalkan ada fitnah seperti itu (terhadap Ustaz Somad),” ujar Anwar.

Dia meminta masyarakat berhenti melakukan perbuatan fitnah, caki maki tak terpuji lainnya kepada orang lain. Dia mengajak masyarakat membangun pergaulan yang lebih kondusif, berakhlak, dan bermoral. “Fitnah itu tak hanya merugikan yang difitnah, tapi juga yang memfitnah dan orang lain, bisa jadi dosa kolektif,” kata Anwar.

Menurut dia, stabilitas dan keamanan bisa terganggu akibat fitnah. Apalagi, Ustaz Somad memiliki banyak pengikut, yang bisa saja marah dan memicu bentrokan sosial. “Ibaratnya, memadamkan api jangan setelah besar, pas kecil itu sudah dipadamkan. Itu tugas pihak aparat keamanan,” ujar Anwar

Semakin Menguatkan Kecintaan

Senator atau anggota DPD RI Fahira Idris menilai fitnah keji terhadap UAS lewat media sosial tidak akan menggoyahkan kecintaan umat terhadap UAS.

“Hati umat dan UAS sudah terpaut. Fitnah apapun yang kalian buat tidak akan menyurutkan kecintaan umat kepada UAS. Fitnah ini akan semakin menguatkan kecintaan kami. Berhentilah menjadi pengecut dan pengacau. Saya berdoa, makar atau tipu daya yang kalian buat akan dilaknat Allah,” tegas Fahira, di Jakarta, Senin (15/4).

Fahira menanggapi fitnah yang ditujukan kepada UAS oleh oknum yang tidak bertanggungjawab melalui akun twitter Said Didu yang sudah dibajak sebelumnya. Fitnah itu tersebar tidak lama setelah UAS memberi dukungan kepada Prabowo-Sandi.

Fahira mengungkapkan, kekuatan dakwah UAS yang mampu menembus relung hati jutaan umat, bukan hanya karena beliau mempunyai basis keilmuan yang tinggi tetapi karena sosok UAS yang begitu mencintai negeri ini.

Kiprah UAS berdakwah dan menginisiasi pendidikan hingga masuk ke hutan dan pedalaman dengan menempuh perjalanan yang tidak mudah, mampu menyentuh titik kesadaran umat bahwa inilah aksi nyata untuk mengamalkan ajaran Islam sebagai agama rahmat bagi sekalian alam.

“Saat dakwah beliau di tolak di beberapa daerah, beliau mengajak umat untuk tenang dan bersikap bijak serta memilih mengalah. Namun, fitnah keji yang disebar lewat media sosial ini sungguh menyakiti perasaan hati kami. Mau sampai kapan praktik-praktik tak bermoral ini terus dibiarkan,” ujar Senator Jakarta ini.

Menurut Fahira, cara-cara keji dengan membuat dan menyebar fitnah hanya kerena berbeda pandangan dalam politik tidak hanya mencederai demokrasi, tetapi juga menginjak-nginjak nalar dan akal sehat publik. Demokrasi tidak akan tumbuh sehat jika tiap perbedaan pendapat dibalas dengan fitnah, bukan dengan adu argumen dan gagasan.

“Semoga ke depan nanti, kita mendapat pertolongan dan diberi kekuatan untuk menghentikan praktik-praktik keji seperti ini,” pungkas Fahira.

Sementara, anggota DPD RI Instiawati Ayus meminta institusi yang menaungi Ustaz Abdul Somad (UAS), seperti Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), UIN Suska Riau dan Menpan-RB untuk mengonter fitnah yang menyerang ustaz kondang asal Riau itu.

Karena menurutnya saat UAS berada di puncak prestasi, saat itu LAM Riau memberi gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara kepada dosen UIN Suska Riau tersebut.

“Kalau saat ini UAS berhadapan dengan fitnah, seharusnya LAM yang memberi statemen terkait masalah ini. Kan tak mungkin LAM memberi gelar kepada seseorang yang tak dikenal dan tak terukur kredibilitasnya,” kata Sekretaris Jenderal Agung Dewan Pimpinan Pusat Rumpun Melayu Bersatu-Laskar Hulubalang Melayu Riau (RMB-LHMR) ini.

Menurutnya saat UAS menerima gelar dari LAM, artinya siapa UAS sebenarnya sejak dilahirkan sampai UAS kekinian sudah ‘selesai’. Makanya UAS mendapat gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara.

“Karena pengetahuan saya, UAS tak pernah minta atau membeli gelar itu. Makanya sosok UAS ke belakang sudah selesai dengan adanya gelar itu. Tapi kalau sekarang fitnah itu dibahas dan dibuka, harusnya yang berhadap dengan fitnah bukan UAS, tapi itu LAM Riau sebagai lembaga junjungan tertinggi yang menaungi tutur tindak adat Melayu,” tegasnya.

“Sosok UAS saja sudah selesai dengan LAM, kok sekarang dibuka itu (fitnah). Karena gelar itu hasil produk LAM, yang sudah diracik, dibedah dan ditambalkan dengan gelar adat yang luar biasa.

Kalau fitnah itu dibuka, maka kita tidak berhadapan dengan UAS, tapi dengan LAM,” sambungnya.
Sebab Instiawati Ayus menilai, sosok besar UAS itu salah satunya dari LAM, kemudian tempat UAS mengabdi yakni kampus UIN Suska Riau.

“Logika berfikir saya, fitnah yang menyerang UAS, maka bukan UAS yang mengonternya, tapi di tataran lembaga yang sudah membahas UAS sampai selesai. Karena di tataran UAS mendapat gelar adat dan sebagai ASN itu sudah selesai siapa sosok UAS,” cetusnya.

“Jadi sosok UAS yang difitnah sudah selesai di LAM dan sudah selesai dia sebagai ASN. Jadi saya minta institusi itu yang harus kredibel untuk berada di belakang UAS,” tambahnya dengan tegas.
Selain LAM dan UIN, sebut dia, institusi yang menaungi UAS ada Menpan-RB, yang bisa mengkonter fitnah yang menyerang UAS.

“Kalau mereka tidak mengkonternya berarti mereka yang kecolongan tentang UAS. Tapi kalau mereka bersuara mereka sudah betul-betul menjalankan sesuatu kredibilitasnya masing-masing,” paparnya.

“Yang jelas fitnah tidak berhadapan dengan UAS, dan fitnah itu delik aduan, siapa yang merasa dirugikan kita minta mereka mengadu. Karena kita tahu, sosok UAS tidak akan mengadukan seseorang yang memfitnahnya, tapi UAS justru mendoakan orang yang fitnah dia,” tukasnya.(rol, ckc)

Comments

News Feed