oleh

Jejak Islam di Pulau Penyengat

PENYENGAT (HR)- Pulau Penyegat di Riau jadi destinasi populer bagi wisatawan Singapura dan Malaysia. Kurang terdengar di Indonesia, namun inilah peninggalan leluhur Melayu.
Sebelum tiba di Dermaga Penyengat, seorang pemandu wisata mengatakan bila hendak menuju ke Pulau Penyengat, satu pompong (perahu kayu bermesin) maksimal diisi oleh 15 penumpang.
“Kalau kurang dari itu boleh,” ujarnya dengan tersenyum.
Setelah turun dari bus di sebuah tikungan, persis di depan gapura, kami menuju ke dermaga yang berada di kawasan Kota Tua, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, itu.
Untuk menuju ke Pulau Penyengat dari Tanjung Pinang tak membutuhkan waktu lama, sekitar 15 menit. Dari Tanjung Pinang, pulau yang memiliki luas 2 km persegi itu terlihat dengan jelas.
Mendekati Pulau Penyengat, terlihat rumah-rumah penduduk yang berada di tepi laut. Masyarakat kepulauan setiap harinya berhubungan dan melakukan aktivitas antar pulau. Terlihat pula bangunan yang sangat berbeda dengan bangunan yang lain. Bangunan itu memiliki 4 menara menjulang dan lancip serta beberapa kubah.
Bangunan itu tak sekadar berbeda dengan bangunan yang ada di sekitarnya namun warna yang melekat padanya sangat mencolok, kuning bercampur sedikit hijau. Warna dominan kuning itu memancar seperti bercahaya.
Setelah perahu ditambatkan di Dermaga Pulau Penyengat, penumpang bergegas meninggalkan pompong. Selepas melintasi dermaga, sebuah gapura besar berwarna kuning dengan kalimat tertulis di atas Selamat Datang di Pulau Penyengat seolah menyambut para pengunjung.
Tak jauh dari gapura itulah berdiri bangunan yang bercat kuning dan hijau itu. Bangunan inilah yang menjadi salah satu simbol kiblat bangsa Melayu. Di depan bangunan itu terpampang papan nama Mesjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat.
Masjid peninggalan Kesultanan Lingga-Riau mulai dibangun pada tahun 1761. Awal berdiri, masjid itu hanya beralas batu bata dan berdinding kayu serta satu menara setinggi 6 meter. Ketika pada masa Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman, Sultan Lingga-Riau tahun 1831-1844, masjid yang berada di tepi laut itu diperbaiki dan diperluas.
Sebab dirasa keuangan kesultanan terbatas maka Sultan Abdurrahman berkata kepada rakyat Riau agar beramal untuk memperluas masjid. Membangun masjid adalah amal jariyah maka mayoritas rakyat Riau yang beragama Islam melakukan sedekah dengan apa yang dimiliki.
Bertepatan dengan Lebaran, 1 Syawal 1248 Hijriah atau tahun 1832 Masehi, seluruh rakyat dari berbagai penjuru Lingga-Riau tak hanya membantu menjadi pekerja namun juga mengantarkan makanan buat pekerja. Makanan yang dikirim melimpah terutama telur.
Saking banyaknya telur sampai para pekerja bosan sehingga hanya kuning telurnya yang disantap. Sementara putih telur, dibuang sayang, maka digunakan sebagai bahan campuran untuk merekatkan pasir dan kapur. Dari sinilah yang membuat masjid itu dikenal pembangunannya dari putih telur.
Menurut Hambali, marbot Masjid Sultan Riau, masjid yang mempunyai ukuran 18 meter kali 20 meter itu mampu menampung 400 jamaah. “Kalau Lebaran sampai 1000 jamaah. Sampai kanan-kiri masjid dipakai. Di saat puasa, masjid ramai dengan berbagai kegiatan,” ujarnya.
Sebagai tempat wisata, Hambali mengungkapkan selain wisatawan dari dalam negeri banyak juga wisatawan dari Malaysia dan Singapura. Cat warna kuning dan ada warna hijau pada mesjid berejarah ini pun ternyata memiliki makna tersendiri.
“Warna kuning sebagai simbol kejayaan Melayu, warna hijau sebagai simbol kejayaan Islam,” jawab Hambali.
Tak jauh dari Masjid tersebut, terdapat sebuah bangunan berwarna kuning berpadu dengan hijau. Bangunan bergaya perpaduan Tiongkok dengan unsur budaya lain itu merupakan komplek makam keluarga Sultan Riau.
Di tempat itu ada makam Raja Hamidah (Engku Puteri) Permaisuri Sultan Mahmud Shah III Lingga-Riau 1760-1812, Raja Ahmad Penasihat Kerajaan, Raja Ali Haji Pujangga Kerajaan, Raja Abdullah Yom Lingga-Riau IX, dan Raja Aisyah Permaisuri.
Bagi masyarakat Melayu, Raja Hamidah merupakan sosok yang sangat dimuliakan. Ketika dinikahi oleh Sultan Mahmud, mas kawinnya berupa Pulau Penyengat.Banyak kisah yang mengagungkan Raja Hamidah. Tak heran bila di komplek itu, makam Raja Hamidah berada di dalam ruang dalam bagian utama. Sedang makam Raja Ali Haji berada di luar bangunan utama.
Makam pengubah Gurindam Dua Belas itu membujur di samping pintu masuk bangunan utama. Meski makam Raja Ali Haji berada di luar bangunan utama namun Gurindam Dua Belas-nya dipahatkan pada dinding-dinding bangunan yang mengelilingi makam Raja Hamidah.
Lebih jauh, sebuah bangunan rumah besar yang disebut Balai Adat Pulau Penyengat Indra Perkasa berdiri dengan gagahnya. Bangunan khas Melayu yang tersusun dari kayu-kayu itu sepintas seperti Museum Kelantan, Malaysia.
Sebagai Balai Adat, rumah itu mempunyai banyak fungsi, seperti buat pertemuan atau pernikahan masyarakat. Wisatawan pun sering menggelar makan bersama di Balai Adat.
Di Balai Adat juga dipampang diaroma dan catatan sejarah Kesultanan Lingga-Riau. Di bagaian dalam kita akan melihat diaroma bagaimana Raja Haji Fisabilillah bertempur melawan Belanda. Di samping diaroma itu, ada biografi Raja Ali Haji pengubah Gurindam Dua Belas.(tdc)

Comments

Berita Terbaru