oleh

Diduga Terlibat Korupsi Dana Penelitian, Mantan PR IV UIR Akhirnya Ditetapkan sebagai Tersangka

PEKANBARU (HR)-Abdullah Sulaiman akhirnya resmi menyandang status tersangka. Mantan Pembantu Rektor (PR) IV Universitas Islam Riau (UIR) itu menjadi pesakitan dalam perkara korupsi bantuan dana hibah penelitian di perguruan tinggi swasta itu tahun 2011-2012.

Penanganan perkara yang menjerat Abdullah Sulaiman yang juga pernah menjabat Wakil Rektor (WR) III UIR itu merupakan lanjutan dari perkara yang pernah disidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau pada tahun 2015 lalu. Saat itu, dua orang mantan dosen UIR telah ditetapkan sebagai tersangka dan dihadapkan ke persidangan.

Dua pesakitan itu adalah Emrizal selaku Bendahara Penelitian, dan Said Fhazli selaku Sekretaris Panitia yang juga menjabat Direktur CV Global Energy Enterprise (GEE). Keduanya dinyatakan bersalah dalam perkara tersebut dan divonis masing-masing 4 tahun penjara.

BACA : Kejati Kembali Selidiki Dugaan Korupsi Dana Hibah di UIR

Dalam proses penyelidikan lanjutan ini, sebanyak 12 orang telah diundang untuk diklarifikasi. Di antaranya, mantan Wali Kota Dumai, Wan Syamsir Yus, yang saat itu menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau.

Berikutnya, Taufik, mantan Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha (TU) di Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Riau, dan mantan Pembantu Rektor (PR) IV UIR, Abdullah Sulaiman. Juga, mantan Rektor UIR Detry Karya, dan dua orang terpidana, Emrizal dan Said Fhazli.

Setelah meyakini adanya peristiwa pidana dalam perkara itu, Kejati Riau kemudian melakukan gelar perkara. Itu dilakukan pada Rabu (26/6) kemarin.

“Hasilnya, perkara ditingkatkan ke tahap penyidikan,” ungkap Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Kejati Riau, Muspidauan, Kamis (27/6).

Selain itu, sebut Muspidauan, pihaknya juga telah mengantongi satu nama yang diduga turut bertanggung jawab dalam perkara yang merugikan keuangan negara sebesar Rp1,5 miliar tersebut. Dia adalah Abdullah Sulaiman, yang saat perkara itu terjadi menjabat PR IV UIR.

“Satu orang tersangkanya. Inisialnya AS (Abdullah Sulaiman, red),” sebut dia.

Untuk tahap selanjutnya, katanya, penyidik akan melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi guna melengkapi berkas perkara tersangka Abdullah Sulaiman. Pemeriksaan saksi-saksi direncanakan dalam waktu dekat.

“Penyidik nanti akan memeriksa saksi-saksi untuk pengumpulan bukti-bukti terkait perkara tersebut,” pungkas Muspidauan.

Penetapan Abdullah Sulaiman sebagai tersangka bukan hal yang mengejutkan. Pada persidangan terhadap dua pesakitan sebelumnya, pernah terungkap peran dia dalam perkara rasuah tersebut.

Salah satunya, Abdullah Sulaiman pernah memalsukan tanda tangan Zulhayati Lubis alias Atiek selaku General Manager (GM) Hotel Pangeran Pekanbaru dalam Kwitansi Nomor Kas 1 April 2012, senilai Rp16.585.000.

Atas hal itu, Abdullah Sulaiman mengakuinya dan menyampaikan permintaan maaf yang tertuang dalam Surat Pernyataan yang diteken Abdullah Sulaiman, tertanggal 29 November 2013.

Munculnya nama Hotel Pangeran dalam perkara itu bermula dari perjanjian antara pihak Panitia Penelitian UIR dengan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Dalam kontrak pertama, dinyatakan kalau pihak Hotel Pangeran akan menyiapkan kamar dan sejumlah akomodasi lainnya untuk keperluan penelian senilai, selama 2 hari dan menginap selama 3 malam, senilai Rp16.585.000.

Beberapa hari berselang, Abdullah Sulaiman selaku Ketua Tim Penelitian mendatangani Sales Manager Hotel Pangeran, Lidya. Saat itu, Abdullah Sulaiman menyatakan adanya revisi kegiatan, dimana acaranya yang akan digelar itu, hanya satu hari dan menginap selama tiga malam. Dari kontrak pertama dengan revisi perjanjian terdapat selisih biaya sekitar Rp4 jutaan.

Belakangan diketahui, kalau Abdullah Sulaiman tetap memasukkan angka Rp16.585.000 di dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan, dengan bukti kwitansi yang tandatangan Atiek Lubis telah dipalsukannya.

Comments

Berita Terbaru