oleh

KPK tak Gentar, MA Lepas Terdakwa BLBI Syafruddin

JAKARTA (HR)- Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Laode M Syarif mengaku menghormati putusan kasasi Mahkamah Agung yang melepaskan terdakwa kasus dugaan korupsi penerbitan surat keterangan lunas BLBI, Syafruddin Arsyad Temenggung.

KPK mengaku heran atas putusan kasasi Mahkamah Agung (MA). “Namun demikian, KPK merasa kaget karena putusan ini ‘aneh bin ajaib’ karena bertentangan dengan putusan hakim PN dan PT (pengadilan tinggi). Ketiga hakim kasasi berpendapat bahwa Syafruddin Arsyad Temenggung dianggap terbukti ‘melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan kepadanya’,” kata Syarif kepada wartawan, Selasa (9/7).

Namun para hakim MA berbeda pendapat atas perbuatan eks Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin. Hakim Salman Luthan mengategorikan perbuatan Syafruddin sebagai pidana, sedangkan hakim anggota Syamsul Rakan Chaniago menyebutnya perbuatan perdata dan hakim anggota M Askin mengategorikan sebagai perbuatan administrasi. “Ketiga pendapat yang berbeda seperti ini mungkin baru kali ini terjadi,” kata Syarif.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menyebut putusan kasasi MA ini berdampak pada perkara dengan tersangka kasus dugaan korupsi SKL BLBI Sjamsul Nursalim dan istrinya, Itjih Nursalim. Namun KPK menyebut penyidikan atas tersangka Sjamsul Nursalim tetap berlanjut. Alasannya, KPK tak punya kewenangan menghentikan penyidikan. “Masalahnya, KPK tidak mempunyai kewenangan menghentikan penyidikan atau mengeluarkan SP3. Tapi nanti kita pelajari pertimbangan MA membebaskan ST (Syafruddin Temenggung). Tapi nanti kita pelajari pertimbangan MA membebaskan ST,” ujar Alexander secara terpisah.

Tak Gentar

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, dalam penanganan perkara ini, KPK telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Sehingga, KPK akan terus berupaya membongkar kasus BLBI yang menjadi perhatian publik. “KPK sangat memahami upaya pemberantasan korupsi seringkali berada di jalan yang terjal. Tapi kami paham, kerja belum selesai dan KPK akan terus berupaya menjalankan tugas dan amanat publik ini sebaik-baiknya,” ujar Saut di gedung KPK Jakarta, Selasa (9/7).

Saut mengatakan, penyelidikan kasus yang merugikan negara hingga Rp4,58 triliun ini pertama dilakukan sejak Januari 2013. Kemudian KPK melakukan penyidikan pertama untuk tersangka Syafruddin pada Maret 2017 dan berlanjut sampai saat ini, bahkan selama proses penanganan perkara ini, KPK melakukan penyelidikan, penyidikan, hingga penuntutan dengan sangat berhati-hati dan berdasarkan hukum.

Dalam proses penyidikan, Syafruddin juga pernah mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan saat itu hakim praperadilan menolak pengajuan tersebut dan menegaskan proses penyidikan yang dilakukan KPK dapat diteruskan, kemudian, sambung Saut, dengan jelas dan tegas Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta juga telah memutus dengan pertimbangan yang kuat yang terakhir menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara untuk terdakwa tanpa dissenting opinion antara para hakim. “Bahkan KPK juga membuka penyidikan baru dengan tersangka Sjamsul Nursalim, Pemegang saham pengendali Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) istrinya Itjih Nursalim,” tutur Saut.

KPK juga membangun kerja sama lintas negara dengan otoritas di Singapura dan melakukan semua tindakan yang diperlukan sebagai ikhtiar untuk mangembalikan kerugian negara yang sangat besar, yakni Rp4,58 triliun. Selain itu, KPK juga terus memastikan, upaya yang sah secara hukum untuk mengembalikan kerugian negara tersebut tidak akan berhenti. “Sehingga, KPK akan mempelajari dan segera menentukan sikap yang pada prinsipnya adalah akan melakukan upaya hukum biasa atau luar biasa dalam kerangka penanganan perkara ini dan hal lain yang terkait,” ungkap Saut.

Di pihak lain, mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), ?Syafruddin Arsyad Temenggung resmi menghirup udara bebas pada Senin (9/7) malam. Pantauan, dengan mengenakan kemeja putih dan peci hitam Syafruddin keluar dari Rumah Tahanan (Rutan) yang berada di belakang Gedung Merah Putih KPK Jakarta, pada pukul 19.56 WIB. Dengan terus tersenyum, Syafruddin tampak membawa sebuah tas berisi sebuah buku yang ia tulis selama berada di Rutan. “Saya mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Bahwa saya bisa di luar sekarang dan ini adalah satu proses perjalanan panjang,” kata Syafruddin di depan Rutan KPK, Jakarta, Selasa (9/7).

Syafruddin mengaku terlihami oleh perjalan Nelson Mandela dalam bukunya yang berjudul ‘Long Walk To Freedom’. Lebih lanjut, ia menegaskan selalu kooperatif dalam mengikuti proses hukumnya, mulai dari tahap penyidikan, penuntutan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, hingga kasasi di Mahkamah Agung. Bahkan sampai ia mendekam di penjara selama 1 tahun 6 bulan 19 hari. “Saya yakin memang ada titik di ujung terowongan yang gelap , saya bisa menemukan titik itu sendiri dan Alhamdulillah yang kami mintakan dikabulkan dan ini adalah satu yang bersejarah bagi saya karena sebagai mantan ketua BPPN saya sudah menyelesaikan urusan itu dan sudah diselesaikan diaudit oleh BPK tahun 2006. Jadi setelah selesai itu saya tidak tahu lagi tiba-tiba tahun 2017 jadi tersangka,” tutur Syafrudin.(rol/dtc)

 

Comments

Berita Terbaru