oleh

Sempat Mangkir, Indra Hutahuruk Akhirnya Penuhi Panggilan Jaksa

PEKANBARU (HR)-Indra Oesmar Gunawan Hutahuruk akhirnya memenuhi undangan tim penyelidik pada Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru, Rabu (10/7). Meski telat datang, proses klarifikasi terhadap mantan pejabat Analisis Kredit di Bank Jabar Banten (BJB) Cabang Pekanbaru itu tetap dilakukan.

Klarifikasi terhadap Indra Hutahuruk tersebut merupakan proses permintaan lanjutan yang dilakukan Korps Adhyaksa Pekanbaru dalam rangka penyelidikan dugaan pengalihan agunan kredit di bank tersebut. Sebelumnya, dia juga pernah dimintai keterangan.

“Kita masih membutuhkan keterangan yang bersangkutan (Indra Hutahuruk,red) dalam penyelidikan perkara ini,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Pekanbaru, Yuriza Antoni, Rabu siang.

Pantauan di lapangan, proses klarifikasi terhadap Indra dilakukan sekitar pukul 14.00 WIB. Waktu tersebut molor dari jadwal yang telah ditetapkan, karena yang bersangkutan terlambat hadir.

Sebelum klasifikasi dilakukan, haluanriau.co mencoba mewawancarainya. Saat itu, Indra kembali memilih bungkam. Tidak ada satupun pertanyaan yang dijawab Indra yang juga pernah menduduki jabatan sebagai manajer di bank tersebut. Termasuk pertanyaan, alasan dia mangkir pada pemanggilan sebelumnya.

Sebelumnya, Indra telah beberapa kali dipanggil. Teranyar, undangan yang dilayangkan belum lama ini, tidak diindahkannya. Padahal, undangan itu diketahui telah sampai ke tangannya.

Selain Indra, dalam penyelidikan perkara ini sejumlah pihak juga telah dilarifikasi. Seperti terhadap Pimpinan Cabang (Pimcab) Bank BJB Pekanbaru saat ini, Rachmat Abadi, dan mantan Manager Komersial, Robby Arta. Keduanya diklarifikasi pada Rabu (22/5) kemarin.

Selain nama-nama yang disebutkan di atas, proses klarifikasi juga akan dilakukan terhadap Dani Sutarman. Dia adalah mantan Pimcab BJB Pekanbaru tahun 2014 lalu.

Dari data yang dirangkum, pengusutan itu dilakukan karena adanya informasi mengenai pengalihan agunan kredit oleh oknum pegawai BJB Pekanbaru.

Agunan itu sejatinya untuk mengcover kredit seorang debitur senilai Rp2 miliar yang dicairkan pada 2014 lalu. Di tengah jalan, agunan itu dialihkan ke pihak lain. Sayangnya, pembayaran angsuran kredit tersebut tidak berjalan mulus.

Saat macet itu lah timbul masalah. Dimana pihak bank tidak bisa mengeksekusi agunan itu karena sudah atas nama orang lain.(dod)

Comments

Berita Terbaru