oleh

Ratna Sarumpaet Setia Salam 2 Jari

Jakarta (HR)- Salam 2 jari mengiringi jalannya sidang Ratna Sarumpaet. Mulai pembacaan dakwaan hingga sidang vonis, Kamis (11/7), terdakwa kasus hoax penganiayaan ini setia mengacungkan salam yang identik dengan pasangan Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019 itu.

Ratna Sarumpaet mengacungkan salam 2 jari dari kursi terdakwa pada sidang perdananya, Kamis (28/2/2018), di PN Jaksel, Jl Ampera, Jakarta Selatan.

Momen itu berlangsung ketika ada jeda tunggu ketika Ratna berada di kursi terdakwa tapi majelis hakim belum memasuki ruang sidang, momen pengacungan dua jari itu terjadi. Ratna mengacungkan dua jari ke arah pengunjung.

Setelah hakim mengetok palu sidang, Ratna menyalami hakim. Sesaat sebelum meninggalkan ruang sidang, dia kembali berpose dua jari sambil melihat ke arah wartawan.

‘Simbol Gue’
Ratna mengatakan salam dua jari itu tak terkait BPN Prabowo-Sandi. Dia menyebutnya sebagai ‘simbol gue’.

“Nggak dong. Nggak baik gitu dan itu saya nggak mau menganggap itu sebagai ucapan BPN ya. Saya kan warga negara, saya umat Islam juga, dan ini simbol gue juga,” kata Ratna saat menuju Rutan Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (6/3)
Divonis 2 Tahun Penjara
Ratna Sarumpaet divonis 2 tahun penjara. Hakim menyatakan Ratna Sarumpaet terbukti bersalah menyebarkan kabar bohong (hoax) penganiayaan.

“Menyatakan terdakwa Ratna Sarumpaet terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menyiarkan pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran rakyat,” ujar hakim ketua Joni membacakan amar putusan dalam sidang vonis Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (11/7).

Hakim memaparkan Ratna Sarumpaet membuat keonaran dengan menyebarkan kabar hoax penganiayaan. Ratna disebut sengaja membuat kegaduhan lewat cerita dan foto-foto wajah yang lebam dan bengkak yang disebut penganiayaan.

Kisah hoax penganiayaan ini berawal dari tindakan medis operasi perbaikan muka (facelift) atau pengencangan kulit muka Ratna Sarumpaet. Ratna Sarumpaet menjalani rawat inap di RS Bina Estetika pada 21-24 September 2018.

Selama menjalani rawat inap tersebut, Ratna Sarumpaet, menurut hakim, beberapa kali mengambil foto wajahnya dalam kondisi lebam dan bengkak akibat tindakan medis.

Foto-foto muka lebam dan bengkak itu selanjutnya dikirim Ratna Sarumpaet melalui WhatsApp ke asistennya, Ahmad Rubangi pada Senin 24 September 2018. Ratna disebut hakim menceritakan penganiayaan oleh 2 pria di area Bandara Husein Sastranegara.

“Taksi yang membawa terdakwa berhenti di tempat agak gelap. Pintu samping dibuka dua laki-laki dan menyeret keluar lalu melempar ke jalan. Satu laki-laki menginjak perut, satu memukuli muka,” ujar hakim memaparkan kebohongan Ratna soal penganiayaan.
Foto juga dikirimkan Ratna Sarumpaet ke Rocky Gerung lewat pesan WA pada 25 September 2018.

Ratna lantas mengaku dianiaya di area bandara Bandung pada 21 September 2018 pukul 18.50 WIB.

Terkait pengakuan adanya penganiayaan, Ratna juga meminta Presiden KSPI Said Iqbal agar menyampaikan pesannya kepada Prabowo Subianto pada 28 September 2018.

Hingga akhirnya, Ratna bertemu dengan Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2018 di Hambalang. Prabowo kemudian menggelar jumpa pers usai pertemuan tersebut. Dalam jumpa pers, Prabowo meminta pemerintah mengusut tuntas penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet
“Bahwa cerita kejadian penganiayaan yang dialami terdakwa yang disampaikan dan diberitahukan kepada saksi-saksi dan beberapa orang lainnya di antaranya Hanum Rais, Amien Rais, Fadli Zon, Prabowo Subianto ternyata adalah merupakan cerita bohong yang dikarang terdakwa. Bahwa peristiwa penganiayaan terdakwa dengan mengirim gambar wajah kepada saksi-saksi dan menjadi viral di media sosial dan mainstream dan mendapat reaksi dari kalangan masyarakat,” ujar hakim Joni.

Ratna Sarumpaet dipidana dengan Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. (dtc)

Comments

Berita Terbaru