oleh

Satriandi Tewas di Tempat

PEKANBARU (HR)- Penjahat kelas kakap, Satriandi tewas setelah baku tembak dengan pihak Kepolisian, Selasa (23/7) pagi. Selain dia, seorang rekannya bernama Ahmad Royan juga mengalami hal yang sama. Sementara, Randi Novrianto berhasil ditangkap hidup-hidup.

Dikatakan Kapolda Riau, Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo, Satriandi merupakan salah satu target operasi yang paling dicari pihak Kepolisian sejak yang bersangkutan memilih kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru pada 2017 silam.

Polisi terus melakukan penyelidikan, hingga akhirnya mendapatkan informasi keberadaan pecatan anggota Polri yang pernah bertugas di Rokan Hilir (Rohil) itu. Dia diketahui telah berada di rumah keluarganya di Jalan Sepakat Perumahan Palma Residence Blok A Nomor 6, Jalan Sepakat, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, dalam 1 bulan terakhir.

Polisi kemudian melakukan pengintaian. Pada Selasa pagi, penggerebekan pun dilakukan jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Riau. “Sekitar tiga sampai empat hari diintai secara intensif. Pada Selasa ini sekitar pukul 06.30, didapatkan ada tiga orang tersangka dalam rumah itu,” ujar Kapolda didampingi Direktur Reskrimum dan Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Hadi Poerwanto dan Kombes Pol Sunarto, di Mapolda Riau, Selasa siang.

Saat hendak ditangkap, para tersangka melakukan perlawanan dengan menembakkan senjata api ke arah petugas. Melihat hal itu, Polisi tak tinggal diam, dan membalas serangan itu. Hasilnya, Satriandi dan Ahmad Royand, tewas di tempat. Sementara tersangka lainnya, Randi Novrianto berhasil diamankan dan masih menjalani pemeriksaan intensif oleh pihak Kepolisian.

Lebih lanjut, mantan Wakil Kapolda Jawa Timur (Jatim) mengatakan, Satriandi merupakan gembong narkoba lintas negara. Dia dipecat sebagai anggota Polri karena tersangkut kasus narkoba pada tahun 2015. Adapun pangkat terakhirnya adalah Brigadir.

Dipecat sebagai abdi negara, tidak membuat Satriandi jera. Sejumlah aksi-aksi kejahatan dilakukan setelah itu. “Dia tahun 2015 terlibat penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Loncat dari lantai delapan salah satu hotel saat hendak ditangkap. Lalu 2017, ia tersangka pembunuhan dengan senjata api, saat ditahan di lapas kabur,” terang Kapolda memaparkan sepak terjang Satriandi.

Terkait dugaan keterlibatan Satriandi dalam bisnis barang haram itu kemudian dipaparkan Kapolda. Sejumlah barang bukti terkait hal itu ditemukan petugas di lokasi penggerebekannya. “Di rumahnya didapatkan sarana menggunakan narkoba, kemudian plastik pengemas. Dia ini memang terindikasi kuat sebagai bandar narkoba, selain penyalahguna,” beber perwira tinggi Polri dengan dua bintang di pundaknya itu.

Saat ini, lanjut Kapolda, pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap beberapa orang lainnya. Karena menurut Widodo, tidak mungkin Satriandi ini mengedarkan narkoba secara perorangan, melainkan ada jaringan yang terorganisir. Untuk itu pihaknya akan melakukan pendalaman lebih lanjut terkait kasus ini.

“Ada dugaan juga dia (Satriandi,red) ini pemain antar negara. Kita temukan juga transfer dana beberapa bank tertentu. Dia juga melakukan mobilisasi dengan identitas palsu, plat palsu. Tentunya sudah terorganisir dengan baik,” sebut Kapolda.

“Untuk mengetahui keterlibatan oknum lain, masih dalam pengejaran,” lanjutnya.

Selain melakukan pengembangan kasus narkoba, Polisi juga tengah mendalami kasus kepemilikan senjata api oleh Satriandi dan kawan-kawan. Tak hanya itu, Polisi juga mendalami keterkaitan tersangka Satriandi dengan kejahatan lainnya. Mengingat dia menguasai senjata api berbagai jenis, yang bisa dipakai untuk melakukan aksinya. “Masih didalami senjata ini didapat dari mana. Di luar kasus narkoba, memang sangat memungkinkan tersangka terlibat kasus kejahatan lain. Yang jelas kalau ada keterlibatan oknum tertentu, pasti akan kita proses lanjut,” tegas Kapolda.

Kapolda pun mengibaratkan sepak terjang Satriandi, bak sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. “Nah sekarang dia jatuhnya hari ini,” imbuh dia. Dalam kesempatan itu, Kapolda Riau kembali menegaskan komitmen pihaknya dalam pemberantasan narkoba. Salah satunya dengan pengungkapan kali ini. “Bahwa kita betul-betul serius perang melawan narkoba di Riau. Kita tidak main-main. Lebih baik kita merusak yang bersangkutan (tersangka,red), dari pada mereka yang merusak generasi muda kita,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto, memaparkan sejumlah barang bukti yang diamankan petugas dari lokasi penggerebekan. Barang bukti ini disita saat tim identifikasi Polda Riau diback up Gegana Brimobda Riau, melakukan penyisiran dan penggeledahan di rumah keluarga Satriandi tersebut.

Adapun barang bukti itu diantaranya 2 pucuk senjata api laras panjang kaliber 5.56 lengkap dengan teropong bidik dan peredam, tiga pucuk senjata api genggam jenis pistol, tiga buah magazin, dan sebuah granat aktif. “Juga diamankan 668 butir peluru aktif mulai dari kaliber 8, kaliber 9, kaliber 32, kaliber 38, kaliber 5.56 dan bentuk bulat atau gotri,” sebut pria yang akrab disapa Narto itu.

Selain itu, kata dia, ada juga sepucuk Per Gun bentuk trisula, 1 unit radio Motorolla, 4 unit handphone, 6 buah KTP, 7 buah paspor, sebuah kamera digital, 31 buah buku tabungan. Selain itu, turut disita sebuah borgol, 2 buah alat hisap sabu (bong), 31 lembar uang pecahan Rp50 ribu, 16 buah ATM, 2 buah rompi pelindung, sarung pancing dan senjata, 2 buah kotak senjata, 3 buah tas sandang, dan 3 buah dompet.”Serta diamankan juga dua unit mobil masing-masing Toyota Innova warna hitam dan Honda Civic merah,” tandas mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) itu.

Di tempat yang sama, Dir Reskrimum Polda Riau, Kombes Pol Hadi Poerwanto, memaparkan ihwal penggerebekan yang dilakukan timnya di kediaman keluarga Satriandi, Selasa pagi. Dikatakan Kombes Pol Hadi, Polisi telah melakukan penyelidikan selama 4 hari, hingga akhirnya berhasil menangkap pelaku atas nama Randi Novrianto. “Awalnya petugas melakukan penangkapan terhadap satu pelaku bernama Randi Novrianto,” ujar Kombes Hadi.

Dari interogasi yang dilakukan, Randi mengatakan di dalam rumah tersebut terdapat Satriandi dan satu lainnya, Ahmad Royand. Mereka menguasai senjata api. Tapi ketika hendak digerebek, dari dalam rumah mereka melepaskan tembakan ke arah petugas, sehingga mengenai satu orang anggota polisi. Pelaku kemudian melarikan diri kearah belakang rumah dan melompat pagar. “Tim maju, namun mereka (para tersangka, red) melepaskan tembakan. Akhirnya terjadi kontak senjata. Lalu mereka mencoba kabur lewat belakang, tapi begitu manjat pagar kita tembak,” ujar Kombes Pol Hadi.

“Sehingga berhasil melumpuhkan dua pelaku atas nama Satriandi dan Ahmad Royani. Keduanya meninggal dunia di tempat,” sambung Dir Reskrimum.

Hadi menuturkan, dalam aksi tembak-tembakan tersebut, seorang anggotanya Bripka Lius Mulyadin tertembak di lengan kanan. Saat penggerebekan itu, posisi Lius berada di depan. “Ada sekitar setengah jam (baku tembak),” sebut dia.

Dikatakannya, dari awal pihaknya telah menyampaikan kepada warga sekitar, bahwa akan melakukan penangkapan terhadap pelaku. Warga diminta untuk tetap berhati-hati dan diminta tetap berada di dalam rumah. Termasuk di lingkungan sekitar Pondok Pesantren Babussalam, juga sudah diberitahu polisi. Sementara itu, saat ditanyakan mengenai bagian tubuh pelaku yang tertembak, Hadi mengaku masih menunggu hasil pemeriksaan autopsi di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Riau.

Untuk diketahui, Satriandi berstatus buron sejak tahun tahun 2017 lalu, karena kabur dari Lapas Pekanbaru. Namanya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), dan menjadi target utama penangkapan pihak kepolisian. Satriandi sendiri merupakan narapidana 12 tahun dalam kasus pembunuhan dengan senjata api. Dia juga terlibat kasus narkoba pada tahun 2014, dengan barang bukti 8.000 butir ekstasi.(dod)

Comments

Berita Terbaru