oleh

Galakkan Komsumsi Jamu untuk Kesehatan

BENGKALIS (HR)-Pemerintah Kabupaten Bengkalis melalui Dinas Kesehatan menggalakkan kembali tanaman obat untuk kesehatan yang aman, bermutu dan sesuai standar pelayanan kefarmasian. Para tenaga kesehatan mengikuti penggunaan obat tradisional di yang diselenggarakan oleh Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) khususnya pada Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan selama dua hari, 22 s/d 24 Juli 2019 lalu di Kantor Dinkes Kabupaten Bengkalis.

Kegiatan ini resmi dibuka Kepala Dinkes Bengkalis dr. Ersan Saputra TH diwakili Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Imam Subchi.

“Pertemuan tersebut diikuti oleh Petugas Puskesmas se-Kabupaten Bengkalis sebanyak 18 orang yang terdiri dari Petugas Penanggungjawab Kefarmasian dan Penanggungjawab Kesehatan Tradisional dan Akupuntur,” ujar Ketua Penyelenggara Edi Sudarto kepada wartawan, Rabu (31/7) pagi.

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menyebutkan, 50 persen masyarakat Indonesia menggunakan jamu dan 96 persen diantaranya merasakan manfaatnya untuk menjaga kesehatan.

Kabid Kesmas, Imam Subchi menjelaskan, bahwa pada akhir tahun 2015 di Kementerian Kesehatan telah diluncurkan Program Nasional Gerakan Minum Jamu dikenal dengan nama Gerakan BUDE JAMU (Gerakan Bugar Dengan Jamu).

Peran jamu sebagai salah bentuk obat tradisional perlu digalakkan kembali dan diangkat menjadi primadona, jamu merupakan asset daerah yang sangat potensial. Sehingga, sudah seharusnya dikembangkan menjadi komoditi kesehatan yang unggul termasuk di Kabupaten Bengkalis.

Pada disisi lain, untuk memastikan agar obat tradisional dan jamu yang beredar aman, bermutu dan bermanfaat, mengharapkan kepada industri dan usaha obat tradisional juga bertanggungjawab atas mutu dan keamanan produknya agar sesuai dengan standar dan persyaratan pelayanan kefarmasian, dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat

“Diharapkan kepada petugas kesehatan di Puskesmas yang sudah diberi pembekalan pengetahuan dalam pertemuan ini bisa melakukan pembinaan, pengawasan dan pengembangan pemberdayaan masyarakat tentang pengembangan obat tradisional atau jamu di masyarakat secara bertahap dan berkesinambungan,” pesan Imam Subchi.

Kegiatan ini menghadirikan nara sumber dari Dinkes Provinsi Riau dengan menyampaikan materi pengenalan bahan baku jamu, pemilihan dan pemanfaatan bahan baku yang segar pada jamu.

Pembinaan teknis dan daya saing usaha jamu gendong dan usaha jamu rakit dan usaha mikro obat tradisional. Kemudian narasumber dari Dinas Penamanan Modal dan Pelayanan Satu Pintu (DPMPSP) terkait perizinan usaha mikro obat tradisional berbasis Online Single Submission (OSS) dan Dinkes Kabupaten Bengkalis tentang teknis perizinan obat tradisional dan pengembangan usaha rumah tangga jamu gendong.

Dewasa ini pengembangan obat tradisional sudah semakin pesat karena mulai didukung oleh berbagai penelitian serta menggunakan teknologi tinggi.

Hingga tahun 2015 tercatat terdapat 86 Industri Obat Tradisional (IOT) yang berdiri di Indonesia disusul dengan tumbuhnya Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT).

IOT, UKOT dan UMOT merupakan industri dan usaha yang memproduksi produk obat tradisional yang berkualitas dan berstandar, dihasilkan melalui suatu proses yang terstandar pada setiap tahapan. Semua produk yang beredar di Indonesia wajib memiliki izin edar/terregistrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kemudian, keamanan, mutu dan manfaat jamu tidak terlepas dari bahan baku yang digunakan.(rtc/mel)

Comments

Berita Terbaru