Pemerintah Dinilai Lemah

PEKANBARU (HR)- Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Riau menggelar aksi demo di Kantor Gubernur Riau, Senin (5/8).

AKMAL & NURMADI
==============
LIPUTAN PEKANBARU

Aksi itu dilakukan, karena di awal tahun 2019, terjadi kebakaran hutan dan lahan. Dalam hal ini, mahasiswa menilai pemerintah daerah lemah (Pemda) memberantas pelaku pembakaran. Akibat meluasnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat kabut asap.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru mendeteksi 138 titik panas, menyebar di 8 kabupaten di Riau, di antaranya, Pekanbaru, Pelalawan dan Dumai yang masih diselimuti kabut asap dengan jarak pandang hanya 4 kilometer. “Saat ini Riau sedang tak baik, kebakaran dimana-mana yang menimbulkan asap. Kami ke sini menagih janji seratus hari kerja Gubernur yang dulunya menyuarakan penanganan kebakaran. Tapi apa?Masih ada asap. Itu pertanda tak seriusnya pemerintah. Sampai memicu keresahan di masyarakat,” tutur Koordinator aksi, Daniel Ahmadian.

Kedatangan mereka menuntut Gubernur Riau, Syamsuar untuk menyelesaikan Karhutla yang selama 22 tahun belum bisa diatasi pemerintahan di Riau. “Titik api semakin hari semakin bertambah. Namun, langkah kongkrit belum juga tampak. Bukan mengada-ngada, bisa kita rasakan sendiri asap hari ini,” sambungnya lagi.

Mereka menuntut Gubernur. “Jelaskan pak, jangan jadi pengecut dan bersembunyi, temui kami,” teriaknya lagi.

Terkait penindakan, pemerintah masih lemah memberantas pelaku pembakaran. “Hutan kami dibakar, bukan terbakar. Usut tuntas, tangkap, tindak tegas mereka,” kata mahasiswa.

Tak berselang lama, Wakil Gubernur Riau Edy Nasution menjumpai massa aksi. Dalam kesempatan tersebut, Edy menyampaikan salam dari Gubernur Riau yang saat ini sedang berada di Jakarta bersama Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menemui Menkopolhukam guna membahas karhutla di Riau. Edy menjelaskan apa yang dikhawatirkan massa aksi juga menjadi perhatian pemerintah. Ia pastikan, tak ada keinginan untuk terjadi kebakaran seperti ini. “Saat ini, kita laporkan kepada Menteri melalui data satelit itu ada 33 titik. Terdiri dari Kepulauan Meranti 3 titik, Inderagiri Hulu 2 titik, Siak 10 titik, Rokan Hilir 2 titik serta Inderagiri Hilir 14 titik,” tegas Edy.

Pemerintah saat ini sedang melakukan usaha keras menangani kebakaran. Terkait, tuduhan massa yang menuding pemerintah tidak menindak tegas perusahaan yang membakar lahan, Edy meminta agar massa juga aktif mencari fakta. “Tunjukkan kepada saya, saya jamin proses hukum kita lakukan, tak bisa menuduh dengan ‘katanya’ saja,” ungkapnya.

Saat ini, sudah 20 pihak yang diduga membakar lahan dan sedang dalam proses hukum. “Tak satupun proses yang kita tinggalkan, jangan sampai kita memproses ke ranah hukum namun kita melanggar aturan hukum,” tutupnya.

Enam Tuntutan
Mereka menuntut agar Gubernur Riau, Syamsuar, sebagai komandan Satuan tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), menyelesaikan kebakaran yang terjadi di wilayah Riau yang sudah menimbulkan kabut asap tebal.

Presiden mahasiswa BEM Universitas Riau, Syafrul Ardi, saat berorasi mengatakan, keresahan yang dirasakan oleh masyarakat Riau dan kaum intelektual terkait kasus pembakaran hutan dan lahan di awal tahun 2019. Hingga saat ini masih lemahnya peran pemerintah daerah dalam memberantas pelaku pembakaran hutan dan lahan di Riau. “Sebagai pimpinan tertinggi daerah provinsi se Riau dan punya wewenang, untuk itu kami badan eksekutif mahasiswa universitas Riau menyampaikan tuntutan kepada Gubernur Riau untuk menyelesaikan Karhutla di Riau,” teriak Ardi.

Pada kesempatan tersebut, mahasiswa juga mengatakan kabut asap yang terjadi di Riau ini tidak sesuai dengan slogan ataupun tema Hari Ulang Tahun (HUT) ke 62 Provinsi Riau, yang bertemakan “Riau Hijau Bermartabat”. Slogan tersebut hanya sebatas tema dan buktinya sampai hari ini Riau masih saja dilanda kabut asap akibat Karhutla. “Tak malukah pada hari jadi Riau ke-62 menerapkan tema Riau Hijau Martabat. Bukan hijau, asap yang ada. Mana Riau hijau bermartabat itu,” terika mahasiswi Fitri Susanti.

“Haruskah kami setiap keluar menggunakan masker, kami ingin menghirup udara segar. Mana Riau yang katanya Hijau Bermartabat itu,” teriaknya lagi.

Comments

News Feed