oleh

Proyek Hanya Selesai 57 Persen

PEKANBARU (HR)- Pembangunan Gedung B Rumah Sakit Pendidikan Universitas Riau dikerjakan pada tahun 2015 lalu. Namun hingga akhir pelaksanaan pekerjaan, proyek tersebut tidak selesai, dan hanya mencapai 57 persen.

Itu disampaikan Rumbio Tampubolon usai memberikan keterangan kepada penyidik pada Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Selasa (6/8). Saat itu, dirinya merupakan Konsultan Pengawas dari PT Kuantan Graha Marga. Ia diperiksa sejak pukul 09.00 WIB, dan berakhir pada pukul 16.00 WIB. Saat hendak meninggalkan kantor sementara Kejati Riau Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru itu, Haluan Riau mencoba mewawancarainya.

Dikatakan Rumbio, kedatangannya saat itu untuk memenuhi panggilan dari penyidik Korps Adhyaksa Riau dalam pengusutan dugaan korupsi pembangunan gedung B RSP UR. Hal ini, lantaran pada pelaksanaan proyek tersebut selaku konsultan pengawas.
“Diperiksa. Ini mengenai pembanguan rumah sakit (pendidikan UR),” ujar Rumbio.

Di hadapan penyidik, dia mengaku menyampaikan terkait pelaksanaan pekerjaan dari awal hingga akhir. Namun, Rumbio tak menampik, sampai batas yang ditentukan, pembangunan gedung senilai Rp47 miliar tidak tuntas. “Progres pembangunan 57 persen,” kata dia.

Tidak hanya Rumbio, proses pemeriksaan juga dilakukan terhadap Desi Ria Sari. Saat proyek itu, dia adalah Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (SPM). Wanita berhijab dalam dan mengenakan cadar itu datang dengan didampingi seorang pria yang diduga adalah suaminya. Usai pemeriksaan, Desi tak bersedia memberikan keterangan kepada awak media yang telah menunggunya sejak pagi. “Tidak, tidak. Jangan lagi,” kata sang pria mencoba menuntun Desi untuk pergi meninggalkan Kejati Riau.

Dikonfirmasi hal ini, Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Kejati Riau, Muspidauan membenarkan adanya pemeriksaan saksi-saksi tersebut. Ini dilakukan, setelah status penanganan perkara ditingkatkan ke tahap penyidikan.
“Mereka diperiksa sebagai saksi,” kata Muspidauan saat dihubungi terpisah.

Pada pemeriksaan tersebut, para saksi diketahui turut menyerahkan sejumlah dokumen kepada penyidik. Dokumen itu, terkait perkara yang tengah diusut. “Kemungkinan mereka ada menyerahkan dokumen,” sebut mantan Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru.

Lebih lanjut, dikatakan Muspidauan, proses pemeriksaan saksi masih akan terus berlanjut, seiring tengah dilakukan upaya pengumpulan alat bukti untuk menetapakan pihak bertanggung jawab pada kasus tersebut. Selain itu, diyakini para saksi dimintai keterangan tidak juga berbeda dengan pihak-pihak yang telah diundang untuk diklarifikasi saat perkara masih dalam tahap penyelidikan. “Siapa saja yang diduga mengetahui, bakal dimintai keterangan. Untuk tersangka belum ada, penyidik masih melakukan pendalaman,” pungkas Muspidauan.

Diketahui, pengusutan perkara itu dilakukan atas laporan pihak perguruan tinggi negeri itu kepada Korps Adhyaksa Riau. Menanggapi hal itu, sejumlah pihak diundang dan diklarifikasi. Adapun pihak yang telah dimintai keterangan saat perkara masih dalam tahap penyelidikan, yaitu Rektor UR, Aras Mulyadi sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) untuk proyek yang dikerjakan tahun 2015 lalu itu.

Selain itu, Jaksa juga melakukan pemeriksaan terhadap pihak lain. Di antaranya Armia selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Wandri Nasution dari PT Mawatindo Road Construction (MRC). Perusahaan itu merupakan rekanan yang mengerjakan pembangunan RSP UR. Lalu, pihak PT Asuransi Mega Pratama, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP), Panitia Lelang ULP UR pada kegiatan tersebut, dan Konsultan Pengawas.

Pembangunan gedung B RSP UR berasal dari APBN tahun 2015 melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebesar Rp50 miliar. Dalam pelaksanaan lelang, PT MRC keluar sebagai pemenang dengan harga penawaran sementara (HPS) sebesar Rp47,8 miliar setelah mengalahkan 35 perusahaan lainnya. Namun, dalam pengerjaannya PT MRC tidak mampu menyelesaikan pembangunan. Hingga 31 Desember 2015, progres pembangunan 50 persen.(dod)

Comments

Berita Terbaru