oleh

Pengembang Green Forest Tutup Drainase tanpa Izin

 

PEKANBARU (HR)- Pembangunan perumahan mewah, Green Forest Resindence di Jalan Duyung Ujung, Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, menuai protes warga sekitar. Mereka khawatir wilayahnya dilanda banjir, sebab pihak pengembang menutup drainase yang berada tepat di depan perumahan tanpa izin dari Pemerintah Kota Pekanbaru.

“Kami juga heran kok drainasenya ditutup semen, bagaimana nanti kalau musim hujan datang. Pasti banjirlah daerah sini, herannya pihak Pemko Pekanbaru kok mengizinkan,” tanya Kadiran, warga sekitar ditimpali warga lain di sekitar lokasi pembangunan perumahan Green Forest Residence, Selasa (13/8).

Menurut salahseorang tukang yang sedang mengerjakan penyemenan drainase, pengerjaan sudah mendapat izin dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Pekanbaru. Berdasarkan pantauan di lapangan, untuk ukuran panjang drainase yang di semen beton sekitar 180 meter dengan lebar sekitar 1 meter lebih. “Kami ini kan cuma tukang, jadi tak tahu pasti, apakah sudah ada izinnya atau belum. Kalau disuruh kerja, ya kami kerjakan,” kata dia meminta namanya tidak ditulis.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru, Indra Pomi Nasution, dikonfrimasi singkat menjelaskan, pihak pengembang memang sudah pernah mengajukan izin. Namun setelah itu dia mendisposisikan persoalan kepada Kepala Bidang Pertamanan Kota Pekanbaru, Edward Riansyah untuk dipelajari.

Ditanyakan, apakah PUPR sudah menyetujui permintaan izin menutup drainase yang disampaikan kepadanya, Indra Pomi, mengatakan tidak tahu, karena tergantung dari Kabid Pertamanan. Karena itu, Indra Pomi, meminta Haluan Riau, untuk menanyakan langsung kepada Edu, sapaan akrab Kabid Pertmanan. “Kalau izinnya abang belum tahulah, tergantung Edu, kan dia yang mempelajarai masalah itu,” saran dia.

Kepala Bidang Pertamanan Dinas PUPR Kota Pekanbaru, Edward Riansyah atau Edu, dikonfirmasi, mengaku tidak mengetahui masalah pemberian izin penutupan drainase. Namun ia mengaku, kalau untuk permohonan penebangan pohon pelindung yang ditanam di dekat perumahan Green Forest Residence, pihak pengembang memang ada mengajukannya.

“Yang didisposisikan ke saya itu hanya untuk memproses permohonan izin penebangan pohon pelindung. Kalau untuk izin penutupan drainase, saya tidak tahu. Izin penebangan pohon saja belum dikeluarkan, masih dalam proses,” jelas Edu.

Pemilik Perumahan Green Forest Residence, Sujono, mengatakan, pihaknya memang menutup drainase dengan beton agar sampah tidak masuk ke dalam serta untuk keindahan. Izin terkait itu, kata dia sudah mengirimkan surat kepada pihak Pemerintah Kota Pekanbaru, yakni Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

“Kalau kami tutup pakai beton, paritnya kan kami tinggikan, kita tutup supaya sampah jangan masuk dan supaya indah. Terus kita sudah minta izin ke Pemko, sudah ada suratnya. Itu kita tutup bukan menutup saluran, kita tutup supaya sampah tidak masuk ke dalam. Lantas setiap sekian meter kita bikin kontrolnya agar bisa dibersihkan,” jelasnya.

Disampaikan terkait adanya Perda Kota Pekanbaru Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan, yang dalam paragraf 7, mengatur tentang pemanfaatan ruang sempadan muka bangunan, dalam pasal 30 nomor 3, melarang menutup seluruh halaman dengan beton masif yang tidak dapat menyerap air, Sujono, justru menanyakan, mengapa di sepanjang Jalan Nangka, drainasenya ditutup?

“Kalau dilarang di sepanjang Jalan Nangka itu ditutup drainasenya. Gini sajalah, kita tutup tapi paritnya kita tinggikan. Terus dia punya apanya tidak pada posisi kita tekan di parit yang ada, tapi kita bikin yang baru. Mana lebih indah, parit itu terbuka tapi masuk sampah daripada ditutup. Jalan depan itu juga mau kita lebarkan,” tutup Sujono.(her)

Comments

Berita Terbaru