oleh

Pembuktian Dinilai Lemah, Pengacara Lima Terdakwa Kepemilikan 37 Kg Sabu Yakin Hakim Bersikap Adil

BENGKALIS (HR)-Meski kliennya dituntut hukuman mati dan dan penjara selama 20 tahun, Achmad Taufan yakin majelis hakim akan menjatuhkan putusan yang adil. Apalagi menurutnya, pembuktian Jaksa sangat lemah selama proses persidangan.

Adapun tiga terdakwa yang dituntut mati tersebut adalah Suci Ramadianto, Iwan Irawan dan Rozali. Sementara dua terdakwa yang dituntut pidana selama 20 tahun penjara adalah Surya Dharma Dan Muhammad Aris. Untuk dua nama yang disebutkan terakhir, juga dituntut membayar denda Rp20 miliar subsider tiga bulan kurungan.

BACA : Tiga Terdakwa Kepemilikan 37 Kg Sabu di Bengkalis Dituntut Mati, Dua Lainnya 20 Tahun Penjara

“Jelas ini sangat ironis dan memprihatinkan. Sudah jelas fakta dalam persidangan sangat lemah pembuktian. Bahkan majelis hakim beberapa kali menegur JPU karena pertanyaan pertanyaannya tidak fokus mengarah kepada inti materi pembuktian. Hanya berputar berputar saja,” ujar Taufan usai persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis, Kamis (15/8) petang.

Meski begitu, dia meyakini bahwa majelis hakim memiliki pertimbangan terbaik. Majelis hakim, yakinnya, akan melihat fakta persidangan yang telah berlangsung. Baik itu dari keterangan saksi ahli, penyidik polisi yang dihadirkan maupun terdakwa.

“Akan tetapi inilah kenyataan yang kami terima hari ini. Kami sangat percaya bahwa majelis hakim pasti memiliki pertimbangan yang terbaik. Melihat fakta persidangan yang telah kita jalani. Keterangan saksi ahli yang telah kami hadirkan serta pembuktian penuntut umum yg sangat lemah,” ujarnya.

Untuk saat ini, kata Taufan, pihaknya selaku Penasehat Hukum para terdakwa akan fokus menyelesaikan pembelaan atau pledoi. Pihaknya akan memaparkan fakta persidangan dengan sejelas-jelasnya sesuai rekaman sidang dan saksi saksi. Sehingga pledoi tersebut menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara sesuai fakta persidangan.

“Kami yakin dengan fakta persidangan bahwa para klien kami tidak bersalah dan tidak patut dipersalahkan dalam hal penemuan narkotika tersebut mengingat lemahnya pembuktian penuntut umum dalam persidangan,” sebut dia.

Perkara yang menjerat kelima terdakwa berawal dari temuan 37 kilogram dan 75.000 ekstasi serta 10.000 pil happy five di sebuah kapal kosong di perairan Kembung, Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, akhir Desember 2018 lalu.

Ahli pidana umum bidang penyidikan Dr Basuki mengatakan terdapat sejumlah kejanggalan atau missing link dalam perkara itu. Dimulai dari proses penangkapan dan penggeledahan kapal pompong atau kapal kayu kecil bermesin.

Polisi yang kala itu menangkap kapal karena kehabisan bahan bakar itu sempat melakukan pemeriksaan dan penggeledahan. Namun, dari penggeledahan yang disaksikan pemilik dan awak kapal tersebut tidak ditemukan barang bukti narkoba berupa 37 bungkus besar sabu-sabu.

Dengan tidak ditemukannya narkoba tersebut, anggota polisi perairan Polres Bengkalis itu pun memberikan izin kepada pemilik kapal, Rozali dan rekannya membeli bensin. Namun tiba-tiba ketika mereka pulang dari membeli bensin dan akan kembali ke kapal, begitu banyak orang yang berkumpul dan ramai membicarakan adanya penemuan narkotika sebesar 37 kilogram.

“Kalau barang bukti narkotika itu kan katanya ditemukan masyakarat atau polisi. Maka orang yang menemukan harus diproses dan mestinya dihadirkan guna didengar keterangannya di muka persidangan, Kalau itu ngga ada berarti ada hal prinsip yang kurang,” pungkas Taufan.(dod)

Comments

Berita Terbaru