oleh

Efendi Simbolon : Tak Boleh Dikotomi

JAKARTA (HR)- Politisi PDI Perjuangan Effendi Simbolon mengatakan, Presiden Jokowi tidak perlu mendikotomikan parpol dan non parpol yang akan duduk di Kabinet Kerja Jilid II.

“Sebenarnya dikotomi parpol non parpol itu tidak boleh di statemenkan, diutarakan oleh seorang presiden,” kata Effendi Simbolon dalam diskusi bertema ‘Tebak-tebakan Isi Kabinet Jokowi, Parpol Non Parlemen Dilibatkan?’, di Media Center DPR, Kamis (15/8).

Karena secara tidak sadar, kata Effendi Simbolon, hal tersebut akan memecah belah. Jadi siapapun yang duduk di kabinet, lanjut terserah presiden untuk memilihnya, apakah dari parpol maupun non parpol. “Bahwa anda mau memilih dari unsur apa, monggolah (silakan). Wong nanti yang menilai rakyat juga kok. Jadi gak usah didengung-dengungkan. Seolah-olah politisi ini kaum yang setengah haram, gitu lo,” ujar Simbolon.

Pengamat komunikasi politik , DR Arie Djunaedi menilai menjalang pelantikan presiden dan penyusunan kabinet mendatang oleh Jokowi menjadi persoalan ngeri-ngeri sedap kalau komposisinya tepat. “Nah, pak Jokowi seharusnya di periode ke 2 ini lebih firm memilih menteri-menterinya. Tidak terbebani dengan tuntutan profesional sekian persen danpartai sekian persen. Tapi yg jelas kerja politik yang di lakukan partai-partai koalisi harus mendapat apresiasi yang tinggi,” kata Arie.

Karena bagaimanapun juga kata Aire, kemenangan Jokowi dalam Pemilu 2019 lalu juga lebih ditentukan oleh mesin-mesin partai yang berjalan demikian dahsyat. “Sehingga kalau kita bicara soal berapa komposisinya, saya rasa juga itu mejadi hak pregrogatif presiden,” kata Arie. Ia melihat kabinet sekarang ini lemah koordinasinya antar kementrian yang menjadi titik lemahnya Jokowi. Seperti ada menteri yang tidak pernah menginjakan kakinya sama sekali di DPR. “Ada menteri yang tidak pernah menginjak ke DPR itu juga harus dievaluasi. Bisa dibayangkan gitu ya, menteri itu tidak pernah ke parlemen. Ini juga menjadi tanda tanya besar,” ujar Arie.

Dia setuju dengan janji Jokowi dalam mengangkat menteri akan menitik beratkan kepada sumber daya manusia. Karena hal tersebut kabinet tentu akan diperkokoh oleh menteri-menteri yang kapabel di bidang SDM-nya. “Harusnya pak Jokowi tadak lgi menempatkan menteri-menteri yang tidak lagi mempunyai resistansi besar di masyarakat. Kemaren ada kelucuan yang paling hakiki di bidang pendidikan. Seperti perlu impor rektor, kemudian rektor tua tidak berguna. Ini juga menjadi pelajaran penting bagi kabinet mendatang,” kata Arie.(sam)

Comments

News Feed