oleh

Agus: Silakan Masyarakat yang Menilai

 

PEKANBARU (HR)- Perselisihan antara Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pekanbaru, Agus Pramono, dengan Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi Riau, Kombes Pol Iwan Eka Putra diharapkan bisa diselesaikan dengan baik, dan tidak dibesar-besarkan. Demikian disampaikan Kepala BNNP Riau, Brigjen Pol Untung Subagyo.

Sementara, Agus mengatakan, biarkan masyarakat menilai atas apa yang terjadid pada Jumat dini hari yang lalu.
Untung Subagyo, mengatakan keberadaan Kombes Iwan dan Satpol PP di lokasi tersebut sama melaksanakan tugas.
Jika terjadi perselisihan saat itu, hanya miskomunikasi di antara kedua belah pihak. Jadi tidak perlu ada permintaan maaf satu sama lain.

“Sebetulnya bukan masalah permintaan maaf atau tidaknya. Seakan-akan kalau kita melakukan permintaan maaf, ada perbuatan yang tidak betul yang kita lakukan,” ujar Untung menjawab pertanyaan Haluan Riau saat konferensi pers yang digelar di aula BNNP Riau, Jalan Pepaya Pekanbaru, akhir pekan kemarin.

Diterangkannya, saat kejadian itu pihaknya tengah melakukan penyelidikan pengungkapan transaksi 5 ribu pil ekstasi. Dimana dirinya langsung yang memerintahkan Kombes Iwan selaku Kabid Pemberantasan memimpin pelaksanaan penyelidikan.

Agar tidak diketahui target, Kombes Iwan kemudian melakukan penyamaran di lokasi tersebut. Namun, kata dia, hal itu gagal karena di saat bersamaan ada anggota Satpol PP yang juga melakukan tugas rutin melakukan pemeriksaan izin.

“Kita ini sama-sama melaksanakan tugas. Tugas dari BNNP juga melakukan undercover (penyamaran, red) secara tertutup, Satpol PP juga melakukan tugas dalam hal patroli,” kata Brigjen Untung.

“(Jadi) Tidak perlu dibesar-besarkan apalagi diviralkan. Ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi yang bagus, dengan koordinasi yang bagus,” sambungnya.

Dari informasi yang didapat pasca kejadian itu, Kombes Pol Iwan sudah menghubungi Agus Pramono, meminta maaf atas kesalahpahaman itu. Namun saat itu Agus Pramono menolak berdialog dengan Kombes Iwan, melainkan dengan Kepala BNNP Riau.

Ditanyakan perihal ini, Brigjen Untung memberikan penjelasannya. “Permohonan apa yang mau saya sampaikan? Sama-sama melakukan tugas. Kalau memang yang bersangkutan (Agus Pramono,red) ingin melakukan itu (memperpanjang masalah,red), itu hak dari pada yang bersangkutan,” kata dia. “Kita ini negara negara hukum.

Negara juga punya aturan. Tidak perlu kita sangsi dengan ketidaksenangan dari seseorang kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Silakan, itu hak dari yang bersangkutan,” sebut Brigjen Untung lagi.

Dia pun kembali menegaskan, tidak akan meminta maaf kepada Kasatpol PP atas kejadian tersebut.”Kalau permohonan maaf yang disampaikan tadi, kita sama-sama melaksanakan tugas. Saya juga tidak mempersalahkan tugas Satpol PP di tempat tersebut,” tegas perwira tinggi Polri dengan bintang satu di pundaknya itu.

Kendati begitu, Brigjen Pol Untung menyatakan, dirinya akan menyelesaikan persoalan tersebut, agar tidak semakin keruh. Komunikasi akan dilakukannya bersama Wali Kota (Wako) Pekanbaru, Firdaus, selaku atasan langsung Agus Pramono. Komunikasi itu akan dilakukannya dalam waktu dekat ini. “Makanya nanti saya akan berkomunikasi dengan Pak Wali Kota, bagaimana masalah-masalah ini tidak memanas. Komunikasi dengan Wali Kota dan aparat yang ada di jajaran Kota Pekanbaru ini. Saya berharap permasalahan tersebut tidak membesar,” harap dia.

Kembali ke persoalan perselisihan Jumat dini hari itu. Kepala BNNP Riau menegaskan jika Kombes Pol Iwan dalam keadaan yang sadar. Tidak dalam pengaruh alkohol, sebagaimana yang santer diberitakan.

Dia pun meyakini, anggotanya itu tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang, apalagi melakukan pengancaman penembakan terhadap Kasatpol PP. “Yang bersangkutan dalam kondisi clean. Tidak ada dalam keadaan tidak stabil.

Kita sudah komitmen kok, tidak ada anggota BNN itu untuk melakukan suatu minum minuman keras,” sebut dia.
“Andaikata yang bersangkutan (Agus Pramono,red) merasa terancam, ya silakan ke proses hukum. Kita negara hukum, proses hukum. Tidak usah membuat suatu opini. Opini seakan-akan mendeskriditkan suatu institusi.

Kita transparan kok andai ada anggota kita melakukan penyimpangan hukum, kita serahkan ke aparatur penegak hukum,” imbuhnya.

Sementara itu, Kombes Pol Iwan Eka Putra, di tempat yang sama menuturkan, pengungkapan 5 ribu butir pil ekstasi yang akan diungkap pada Jumat kemarin itu merupakan bagian dari 8 kilogram sabu yang sebelumnya diamankan di Jalan Sekuntum. Itu berdasarkan informasi yang diterimanya dari masyarakat.

“Sehingga ada masyarakat yang menginformasikan kepada kami bahwa sebenarnya pada malam itu akan terjadi serah terima bagian dari 8 kilogram (sabu) yang sudah kita amankan dulu,” kata Kombes Iwan.

Sebenarnya, kata Kombes Iwan, proses penyelidikan yang dilakukan itu sudah berjalan sejak 10 hari usai pengungkapan di Jalan Sekuntum. Diyakini, proses serah terima barang haram itu terjadi pada Jumat (24/8) dini hari itu, tepatnya di lantai II atau pub Grand Dragon.

“Mengapa saya sendiri yang turun (melakukan undercover,red), sebenarnya di lantai 2 itu, ada salah satu kaki (pelaku). Jadi kalau ini berhasil kemarin itu, pembawa kita dapat, kurir penerima kita dapat, pengendali kita dapat,” sebut dia.

“Saya lah yang bertugas memprofiling pengendalian di lantai 2 itu, pub itu,” sambungnya.
Namun karena adanya insiden keributan tersebut, dia mengatakan penyelidikan yang telah lama dirancang itu, menjadi sia-sia. Targetnya tidak didapat karena banyaknya anggota Satpol PP saat itu.

“Makanya saya sampaikan, saya sangat kaget ketika ada personel Satpol PP di situ. Apakah mungkin ada upaya-upaya penggagalan tugas BNN, saya juga tidak tahu. Akhirnya kerja kita yang sudah setengah mati itu, sia-sia,” katanya.

Dengan gagalnya pengungkapan tersebut, dia meyakini 5 ribu butir pil ekstasi itu telah beredar di tengah-tengah masyarakat. Tentu saja hal ini sangat disesalkan.

“Yang pastinya, yang 5 ribu butir itu sudah tersebar di Pekanbaru. Sementara kami ingin menyelamatkan anak bangsa. Itu tujuan kita,” sesal Kombes Iwan.

“Bayangkan beredar 5 ribu, berapa ribu warga masyarakat Pekanbaru ini yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika,” katanya lagi.

Atas kegagalan tersebut, BNN Pusat kata Iwan, sangat kecewa. “Kecewa. Karena tugas kita jadi gagal,” imbuh dia.
Dia pun juga menegaskan, tidak akan melakukan permohonan maaf kepada Kasatpol PP atas insiden tersebut.

“Dua institusi yang berbeda dengan tugas dan tanggung jawabnya bertemu di suatu tempat. Gak mungkin dong kita lagi undercover kita bilang kita polisi.

Terpisah, Kasatpol PP Pekanbaru, Agus, Pramono mengatakan, untuk persoalan tersebut mempersilakan masyarakat yang menilai. Tak bisa dipungkiri dirinya memang sangat kesal dengan ancaman dan caci maki yang dilontarkan Kombes Pol Iwan Eka Putra saat kejadian itu.

Lebih lanjut dikatakan Agus, dirinya tidak pernah meminta pihak BNNP Riau untuk maaf kepadanya.
“Biar masyarakat saja yang menilai berdasarkan data dan fakta. Dalam video itu semua bisa dilihat, saya mau ditembak dan dia juga memaki saya dengan ucapan tak pantas. Jadi kalau dia tak minta maaf, ya saya juga tidak akan minta maaf. Biar masyarakat saja yang menilai,” sebut Agus.

Kasatpol juga merasa aneh dengan kejadian itu. Sebab seorang pimpinan tahu terkait anak buahnya memaki sesama aparat dengan ucapan tak pantas tapi justru dibela. Caci maki yang diucapkan membuat dirinya tersinggung, karena dia merasa sebagai warga Riau asli namun diperlakukan seperti itu.

“Apakah pantas orang baru menjabat di Riau lantas mengata-ngatai orang Riau asli yang juga aparat. Bahkan mengancam akan menembak. Sama aparat saja seperti itu, apalagi sama warga biasa,” sebut Kasatpol PP.

“Setahu saya orang Riau ini sopan, dan beretika. Tapi kalau sudah seperti itu, tapi tak perlu meminta maaf, lagi-lagi saya katakan, biar masyarakat saja yang menilai,” imbuh dia.

Disampaikan terkait kekecewaan pihak BNNP Riau, yang gagal mengungkap peredaran narkoba saat itu, Agus mengatakan dirinya tidak mengetahui hal itu. Karena saat itu dirinya sedang bertugas melakukan penertiban, dan dirinya juga sebelumnya tak kenal dengan Kombes Iwan.

 

Ditanyakan apakah dalam persoalan itu dirinya akan menempuh jalur hukum, lagi-lagi dia menjawab, biar masyarakat yang menilai.

“Kejadian itu sudah menyebar kemana- mana, tapi bukan saya yang melapor, itu pun bukan jalur hukum. Saya juga sadar siapalah yang mau meminta maaf kepada aparat Satpol PP. Sementara BNNP itu aparat kelas tinggi, Satpol hanya kelas rendah yang sangat butuh dukungan masyarakat,” jelas Agus.

Ke depannya dia berharap tak ada lagi kejadian seperti ini terjadi. Kalau memang pihak BNNP Riau sedang melakukan tugas penyamaran, semua bisa dikoordinasikan.

“Nanti saya mau tertibkan itu ternyata BNNP ada undercover di sana, saya mundur lagi. Koordinasi sangat diperlukan,” tutup Agus.

Perseteruan dua institusi itu terjadi pada Jumat (24/8) dini hari lalu, kala Satpol PP Pekanbaru melakukan razia perizinan di tempat hiburan malam Grand Dragon Pub & KTV, Jalan Kuantan Raya Pekanbaru. Di saat bersamaan, Kabid Penindakan BNNP Riau, Kombes Pol Iwan keluar dari lift, dan melihat banyak anggota Satpol PP berada di sana. Merasa dihalangi, Kombes Iwan pun meradang, sehingga terjadi adu mulut dengan Kasatpol PP, Agus Pramono.

Bahkan saat itu, Kombes Iwan diduga mengeluarkan perkataan kotor, dan mengancam ingin menembak Kasatpol PP Pekanbaru. Percekcokan antara keduanya pun viral di media massa dan media sosial. (dod/her)

Comments

Berita Terbaru