oleh

Kasus UAS Disarankan tak Lanjut

 

JAKARTA (HR)– Majelis Ulama Indonesia mengadakan pertemuan dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia di Graha Oikumene di Salemba, Jakarta, pada Senin (26/8) lalu. Pertemuan ini adalah tindak lanjut dari pertemuan dengan Ustaz Abdul Somad (UAS) sebelumnya.

Wasekjen MUI Bidang Kerukunan Antarumat Beragama, KH Nadjamuddin Ramly, mengatakan pada pertemuan tersebut MUI mengusulkan agar laporan-laporan ke polisi terkait kasus UAS sebaiknya dicabut. Pasalnya, mereka telah berkomitmen untuk membangun hubungan yang intensif ke depan.

Dalam hal ini, dia mengatakan bahwa MUI, PGI, dan KWI berkomitmen membangun harmoni dan persatuan NKRI ke depan. Dengan demikian, kasus yang melibatkan UAS tidak dilanjutkan ke ranah hukum atau ditutup.

“Kasus Abdul Somad ditutup dan PGI dan KWI juga tidak mempermasalahkannya, karena disampaikan pada komunitas sendiri dan pengajiannya khusus dan tertutup,” kata Nadjamuddin, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Rabu (28/8).

Dia menambahkan, bahwa dalam pertemuan tersebut mereka juga menyepakati untuk mengedepankan dialog dan komunikasi yang intensif antara MUI, PGI, dan KWI terkait masalah-masalah di antara umat beragama.

Sebelumnya, Nadjamuddin seperti dikutip dari laman MUI.OR.ID, mengatakan bahwa pertemuan itu menghasilkan empat catatan penting. Pertama, perlunya sikap waspada terhadap provokasi dan provokator dari kasus video tersebut yang bertujuan merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Kedua, umat diminta lebih menyebarkan energi positif di tengah bangsa Indonesia yang majemuk dan tidak terjebak untuk saling balas-membalas. Ketiga, setiap tokoh agama selain berperan menguatkan iman umatnya juga harus tetap memperhatikan etika dan penggunaan diksi dalam menyampaikan ceramah atau khutbah.

Dia mengatakan, tokoh agama diminta untuk tetap mengedepankan pesan persatuan dan kesatuan demi NKRI, menyampaikan ceramah atau khutbah, haruslah dengan wajar dan damai.

Keempat, melihat bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar, tetapi jangan menjadikan perbedaan itu sebagai ajang untuk menjatuhkan agama lain. Kelima, MUI bersama PGI dan KWI akan bersama-sama berjuang untuk kemaslahatan umat, dan selalu mengedepankan dialog dalam menyikapi berbagai persoalan
Sementara itu, dalam pertemuan antara MUI dan UAS sebelumnya, Ustaz Somad mengklarifikasi bahwa ceramahnya yang beredar di media sosial tersebut disampaikan di internal kalangan Muslim di dalam masjid.

Sehingga, ceramah tidak ditujukan untuk umum. Namun, cuplikan video tersebut disebarkan oleh seseorang di media sosial, sehingga menjadi konsumsi publik.

Menanggapi pertemuan MUI dan PGI, Ustaz Somad saat dihubungi mengatakan dia menyerahkan kasus yang menimpanya ke kuasa hukumnya. “Saya serahkan ke pengacara-pengacara Muslim terkait hukum,” kata UAS, melalui pesan singkat kepada Republika.co.id, Rabu (28/8).

 

MDI Laporkan Penyebar Video
Sementara, Majelis Dakwah Indonesia (MDI) Sumatera Utara melaporkan akun YouTube yang diduga mengedit dan menyebarkan video ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Polda Sumatera Utara. Pasalnya, video hasil edit itu dianggap membuat kegaduhan di tengah masyarakat.

“Kami menilai video ceramah UAS soal Salib yang sudah diedit itu mengakibatkan kegaduhan di tengah masyarakat,” kata Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi MDI Sumut, Indra Porkas Lubis, Rabu (28/8/2019).

Ia mengaku telah melaporkan akun tersebut bersama sejumlah pengurus ke Polda Sumut pada 26 Agustus 2019. Dalam laporan polisi bernomor STTLP/1287/VIII/2019/SUMUT/SPKT III, DMI Sumut melaporkan pemilik akun Youtube Hombink Siltor.

“DMI Sumut melaporkan pemilik akun Youtube Hombink Siltor dengan dugaan melakukan tindak pidana menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA),” jelasnya.

Ia menyebut akun Youtube milik Hombink Siltor itu mengedit video ceramah UAS dan membuat kegaduhan di masyarakat.

“MDI tidak akan tinggal diam apabila ada pihak tertentu yang mencoba mengambil kesempatan untuk membuat suasana yang aman menjadi gaduh, apalagi yang menyangkut SARA,” katanya.

MDI juga mengajak agar seluruh umat dapat berpikir jernih dan menahan emosi menanggapi video UAS itu. MDI meminta pihak-pihak yang tidak berkepentingan agar tidak mengambil momentum ini untuk kepentingan pribadi atau kelompok sehingga menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. (rol, ckc, don)

Comments

Berita Terbaru