oleh

Riau Harus Serius Sikapi Perang Dagang AS vs China

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memaparkan tantangan yang tengah dihadapi perekonomian Indonesia. Salah satunya yaitu perlambatan ekonomi global yang terjadi karena isu ketidakpastian perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Sri Mulyani mengatakan, dari segi perdagangan semua negara kini mengikuti ketegangan hubungan perdagangan antara AS dan China. Kondisi itu semakin lama membuat pesimisme bagi pertumbuhan ekonomi global yang bisa tahan dari kekhawatiran resesi.
“Keputusan terbaru dari AS untuk menaikkan tarif dan retalasi terhadap China. Mereka terus berperang kenaikan tarif satu sama lain. Situasi global ini membuat para pembuat kebijakan yang pernah menghadapi krisis ekonomi benar-benar bekerja untuk memastikan kondisi ekonomi membaik setelah krisis, kini justru kembali melemah,” jelas Sri Mulyani di saat menjadi pembicara di Aula Badan Kebijakan Fiskal, Jakarta, Rabu (28/8).

Menteri Sri Mulyani mengatakan dalam konteks G20, para pembuat kebijakan pun terus membuat perubahan demi memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat dan menyelesaikan isu perdagangan yang kian memanas. “Hal ini yang kita perlu lakukan untuk menghadapi apa yang kita lihat saat ini,” imbuh dia.
Dengan kebijakan ekonomi yang terbuka, maka kondisi perang dagang antara kedua negara tersebut dikhawatirkan berdampak pada ekonomi nasional. Salah satunya pergerakan kondisi ekonomi global dan perdagangan akan berpengaruh ke ekspor.

Di sisi lain, Country Director of the World Bank Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan, Indonesia akan terimbas perang dagang AS-China ini. Sebagai negara pengekspor komoditas, kondisi ekonomi global bisa memberi efek terhadap perekonomian Indonesia.
“Dampaknya dari pelemahan ekonomi dunia karena perang dagang ini, jelas perekonomian Indonesia juga melemah. Jika ekonomi dunia melemah, Indonesia juga akan melemah. Karena Indonesia adalah pengekspor komoditas, ini menjadi sebuah tantangan,” kata Rodrigo.
Menurut Rodrigo, kondisi ekonomi dunia adalah hal yang rumit untuk diselesaikan. Perang dagang dua negara besar ini, kata Rodrigo, tak hanya memperlambat ekonomi dunia, tapi berinvestasi juga menjadi sulit.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bahwa akibat perang dagang di pasar global, para investor semakin memburu emas sebagai target investasi yang aman. Menurut dia, perang dagang yang terjadi antara China dan AS membuat gejolak ekonomi global tidak memberikan banyak pilihan kepada para investor dalam menanamkan investasi.
“Emas masih dianggap investasi yang aman oleh para investor,” kata Destry Damayanti di Jakarta, Rabu (28/8).
Aset tersebut dianggapnya masih memiliki risiko yang paling kecil, ketika banyak ketidakpastian di pasar global. Ia menyebutkan banyak negara yang telah menurunkan suku bunga, tidak terkecuali Indonesia yang turut menurunkan suku bunga acuan.

Atas persoalan di atas, Indonesia mesti serius mensiasati imbas dari efek perang dagang. Terlebih Indonesia adalah negara penghasil komoditas.
Lantas, bagaimanakah dengan Riau? Jelas kondisi ini harus juga disikapi serius oleh para pemangku kepentingan dan pelaku usaha di Negeri Bumi Lancang Kuning. Terlebih, Riau termasuk daerah penghasil komoditas. Sejumlah komoditas ekspor, dihasilkan oleh daerah ini. Pelambatan perekonomian pasti dirasakan. Malah, mungkin sudah dirasakan. Setakat dengan hal ini, kiranya, isu global perang dagang ini juga harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam menyusun APBD 2020. Pemerintah daerah harus sedikit menyisihkan penganggaran yang berkaitan langsung dengan sektor usaha UMKM. Kehadiran pemerintah sebagai pemberi stimulus perekonomian harus benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Comments

Berita Terbaru