oleh

Wagubri : Waspadai Oknum Ganggu Kerberagaman

PEKANBARU (HR) – Seiring dengan telah dibentuknya Kampung KB di seluruh kabupaten kota di propinsi Riau, tercatat Juni 2019 jumlah peserta KB di Riau mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni mencapai 73.237 apseptor. Peningkatan jumlah ini tentunya menjadi sumber penguatan bagi seluruh kabupaten kota, untuk melakukan peningkatan terhadap program KKBPK guna mencapai program prioritas nasional.

Hal ini menjadi pembahasan dalam Rapat Penelaahan Program KKBPK Provinsi Riau Tahun 2019, yang digelar oleh BKKBN Riau dengan mengusung tema melalui percepatan program KKBPK kita mantapkan sinergitas lintas sektor dalam pencapaian program prioritas nasional. Kegiatan ini langsung dibuka oleh Kepala Dinas Kependudukan, Catatan Sipil, Pengendalian Penduduk dan KB Provinsi Riau, Andra Syafril, Kamis (29/8.2019) di Hotel Premier Pekanbaru.

Dikatakan Andra, bahwa Riau menjadi salah satu propinsi yang strategis. Hal ini dilihat dari peningkatan jumlah penduduk yang terus mengalami peningkatan. Tingginya jumlah penduduk tidak sebanding dengan kualitas Sumber Daya Manusia, dan ini tentu berpengaruh terhadap sumber kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, untuk menyeimbanginya perlu dilakukan pengendalian penduduk, melalui seluruh Operasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk saling bersinergisitas dalam menganangani permasalahan ini.

“Tujuannya, agar kedepan Riau ini akan dihuni dengan penduduk yang berkualitas dan tidak hanya mengandalkan Sumber Daya Alam, karena itu tentu ada batasnya dan akan habis. Melalui kerjasama lintas sektor, diharapkan bisa lebih fokus dan program yang dijalankan tepat sasaran, melalui kegiatan pendewasaan usia perkawinan, pengendalian kelahiran, penyempurnaan pemberian ASI dan juga membangun ketahanan keluarga, melalui Tribina (BKB, BKR dan BKL),”ujar Andi, Kamis (29/8) kepada Haluan Riau.

Dengan kehadiran Kampung KB tentunya juga menjadi solusi bagi pemerintah sebagai penguatan terhadap suksesnya pelaksanaan program KKBPK, apalagi dengan keberadaan 138 kampung KB, diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat di propinsi Riau.

Dikesempatan yang sama pula, Kepala Perwakilan BKKBN Riau, Agus Putro Proklamasi menuturkan bahwa dari target yang ditetapkan yakni sebanyak 199.834 apseptor, capaian peserta KB baru di Riau meningkat 36,35 persen. Peningkatan ini terjadi hampir disemua pengguna alat kontrasepsi, dan tentunya capaian ini bisa terus meningkat meskipun jumlah Tenaga Penyuluh ASN sangat minim.

“Kekurangan Tenaga Penyuluh KB yang berasal dari ASN menjadi kendala, kita juga sudah mengajukan tambahan atas kekurangan tersebut. Namun masih belum mendapatkan jumlah yang maksimal. Idealnya, 1 petugas untuk membina 3 desa, tetapi pada kenyataannya 1 petugas membina 10 desa dan bahkan satu kecamatan,”ujar Agus.

Dijelaskannya, tenaga penyuluh KB merupakan ujung tombak dalam pengelolaan program di tingkat dini lapangan dalam menggerakkan masyarakat. Akan tetapi meski kekurangan tenaga, namun sejauh ini Riau masih menjadi propinsi terbaik diluar Pulau Jawa. “Jika dilihat dari kondisi geografis Riau, sebenarnya kita butuhkan 118 orang, tetapi hanya dapat 5 orang. Jadi untuk menggantikan peran SDM itu, maka kita memaksimalkan para kader, namun kader itu perlu diberi pelatihan agar bisa menjadi penyampai atau penggerak KB,” jelasnya.

Begitupula halnya, faktor lain yang menjadi faktor penguatan program KKBPK yakni ketersediaan alat kontrasepsi yang cukup.

“Alhamdulillah, ketersediaan Alkon kita cukup untuk setahun kedepan, dengan masa kadaluarsa hingga 2021. Jadi pasangan usia subur tidak perlu khawatir jika membutuhkannya dan akan dilayani,”pungkasnya. ***

Comments

Berita Terbaru