oleh

Hijrah, Momentum Perbaikan

1 Muharram selalu diperingati oleh umat muslim sebagai tahun baru dalam penanggalan tahun Hijriah.
Dalam sejarah, 1 Muharram berkaitan dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Sebuah momen yang mampu merefresh sejarah Islam tentang kejadian yang telah dilalui Nabi Muhammad saw.

Kala itu, untuk menghentikan penyebaran dakwah Islam dan memutus laju pertambahan orang yang masuk Islam, kaum Quraisy merancang sebuah rencana yang sangat busuk, yaitu membunuh Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, upaya pembunuhan yang akan dilakukan kaum Quraisy pun gagal. Dengan selamat Nabi Muhammad SAW keluar menuju rumah sahabatnya (Abu Bakar Ash-Shiddiq) untuk menjalankan tahap pertama dari proses hijrah.

Menghindari kejaran kaum Quraisy, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya bersembunyi di dalam Gua Tsur selama 3 hari. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya sampai ke Madinah setelah melalui perjalanan panjang yang penuh dengan marabahaya serta beberapa mukjizat bermunculan dalam perjalanan beliau, hingga pada akhirnya sampai di Madinah. Di sanalah beliau bertemu dengan para sahabatnya untuk memulai misi mulia, yaitu membangun pondasi daulah Islamiyah.

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari momentum Tahun Baru Hijriah.
Iffatus Sholehah, di antaranya menyebutkan 1 Muharram mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah, dan menautkan pada makna hijrah itu sendiri. Bukan hanya sekedar pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Akan tetapi ada proses yang harus dilewati dengan hati seluas samudera. Tidak peduli seberapa berat tantangan dan hambatan yang menerjang.

Kemudian, menegaskan akan pentingnya berusaha. Seperti dalam kisah Nabi Muhammad saw bersama Abu Bakar ra telah mengerahkan segenap usahanya menyusun strategi untuk menghadapi kaum kafir Quraisy. Walaupun demikian, beliau tetap bertawakal kepada Allah swt bukan pada usaha yang telah dilakukannya.

Pada akhirnya, makna hijrah paling penting adalah mencari dan menentukan tempat yang lebih baik untuk meninggalkan tempat yang buruk. Artinya, dengan hijrah tersebut bisa menjaga keimanan dan akhlaq seseorang. Selain itu, makna hijrah juga bisa diartikan meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan. Setelah hijrah tentunya diiringi dengan sikap tanpa merasa paling benar dan taat di hadapan orang yang belum hijrah.

Sementara, Din Syamsuddin pernah menyebut tahun baru Islam jangan hanya dipahami dalam konteks sejarah Islam semata, yakni hijrah Nabi Muhammad dari Kota Makkah ke Madinah. Akan tetapi, tahun baru hijriah harus dipahami dalam konteks kehidupan saat ini.

Tahun baru Islam harus menjadi momentum setiap manusia dengan berbagai latar belakang untuk melakukan hijrah mental menuju kepada kehidupan yang lebih baik.

Pentingnya tahun baru Islam sebagai saat yang baik bagi umat untuk introspeksi dan evaluasi diri terhadap perjalanan hidup selama ini. Selanjutnya, umat juga harus melakukan perbaikan pada masa mendatang.
Makna hijrah mental sebagai proses perubahan manusia menuju kebaikan. Misalnya, dalam kepribadian, perilaku hidup, maupun wawasan kehidupan.***

Comments

Berita Terbaru