oleh

In Memorium Habibie, Dia Pencipta Satelit Pendeteksi Kebakaran Hutan

JAKARTA (HR)-Tokoh berjuluk bapak teknologi itu pun menghembuskan napas terakhir pada pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto. Dia meninggalkan kita semua di usia 83.

Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Sebelumnya,
B.J. Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7, menggantikan Try Sutrisno. BJ Habibie
menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998.

Lahir 25 Juni 1936, Parepare. Jabatan dalam kabinet yang pernah dipegang diantaranya, Menteri Negara Riset dan
Teknologi/Ketua BPPT/Kepala BPIS. Sementara kementerian yang pernah dikelola: Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia

“Usia 80 tahun, hati 17 tahun. Hardware-nya 80 tahun tetapi software-nya selalu up to date,” kata Habibie
berseloroh kepada Najwa Shihab tiga tahun lalu, saat ditanya soal apakah ia merasa tua. Ketika itu Habibie ulang
tahun ke-80, program Mata Najwa membikin acara khusus.

Betul sudah perkara software yang disebut Habibie. Gagasan dia akan selalu tinggal, sekalipun Habibie telah
berpulang.

Ide Habibie terbukti visioner, hal ini pernah disinggung oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi,
Hammam Riza seusai membesuk pada Selasa (10/9).

“Ia ingin melakukan lompatan dalam mengembangkan teknologi industri untuk Indonesia. Dan sebagian cita-cita itu sudah terwujud dengan begitu banyaknya industri strategis, seperti PT Pindad dan DI [Dirgantara Indonesia]–
meski banyak tantangan,” kata Hammam.

Pada 1990 itu ia menulis dalam Sophisticated technologies: taking root in developing countries-International
journal of technology management. Pemikiran Habibie pada 29 tahun silam tersebut sudah menyinggung soal
keharusan berpijak pada riset dan teknologi.

Saat itu Habibie remaja nekat terbang ke Jerman. Pemuda kelahiran Pare Pare itu masih usia 18, berangkat dengan
biaya sendiri, kemudian harus menanggung hidup sulit pada setahun pertamanya karena kiriman duit yang seret.

Tapi, sikap yang selalu ingin tahu dan kecintaan terhadap teknologi membuat tekadnya bulat. Hingga akhirnya
Habibie menerima gelar diploma ingenieur pada 1960 dan doktor ingenoeur pada 1965 dengan predikat summa cum
laude.

Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm sebelum kembali ke Indonesia pada 1973. Ia dijemput Dirut Pertamnina era Orde Baru, Ibnu Sutowo atas permintaan Soeharto.

B.J. Habibie lantas ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi pada 1978 hingga Maret 1998. Terobosan
pertamanya dimulai dengan implementasi “Visi Indonesia” yang mendambakan lompatan-lompatan dari negara agraris menjadi negara industri penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia menggagas sejumlah industri strategis seperti PT IPTN, Pindad dan PT PAL.

Bukan saja soal teknologi, Habibie juga dikenal sebagai pemecah problem ekonomi pada masa krisis moneter. Puncak karir Habibie tercatat pada 1998 saat diangkat sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia setelah Soeharto
berhenti sebagai pemimpin negara.

Ia mewarisi kondisi negara yang kacau balau; marak kerusuhan dan disintegrasi serta krisis ekonomi. Salah satu
tugas pentingnya adalah kembali mendapat dukungan dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan komunitas negara donor demi program pemulihan ekonomi. Dia juga disebut membebaskan tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat serta berorganisasi.

Dari rahim pemerintahan era Habibie, lahir sejumlah undang-undang yang mendukung iklim demokratik yaitu UU
tentang Partai Politik, UU tentang Pemilu dan UU tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR. Pada masa dia pula Undang- undang Pers, Undang-undang anti-monopoli, Undang-undang Otonomi Daerah dan Undang-undang Perlindungan Konsumen disahkan.

“Satelit pendeteksi kebakaran hutan sekarang itu dari beliau. Kalau sekarang kebakaran ada yang namanya hujan
buatan, itu beliau yang merintis. Kalau kelautan waktu 1990an kapal-kapal Baruna Jaya itu beliau juga,” kata
mantan Menko Kemaritiman Indroyono Susilo.

Habibie dan teknologi, adalah sepasang lain–selain Habibie dan Ainun. Ketertarikan dia pada teknologi diseriusi
pada 1954 dengan memilih belajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi
Bandung ITB). Setahun berikutnya hingga 1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan spesialisasi konstruksi
pesawat terbang di RWTH Aachen, Jerman Barat.

“Itu semua beliau yang rintis 1980-1990an. Lalu pesawat Gatot Koco N250 itu diluncurkan 10 Agustus 1995, itu
pesawat yang paling canggih pada kelasnya waktu itu,” kata Indroyono.

Kini Habibie sudah telah berpulang. Indonesia kehilangan satu sosok untuk dirujuk dan didengar nasihatnya. Meski
begitu, gagasan dan semangat keingintahuan Habibie akan terus hidup.(cnn/eka)

Comments

Berita Terbaru